Kita memang tak mampu menahan perkembangan teknologi, mau tidak mau akhirnya kita pun menerima kemajuan zaman. Sejak beberapa tahun ini masyarakat 'menggantungkan' segala urusan ke AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan), dan hasilnya hanya dalam hitungan detik bikin kita kaget, semua teratasi dalam sekali klik. Lalu AI itu asisten atau malah bikin kita bodoh?
Di sudut kota seorang arsitek berhari-hari 'memeras' otak demi permintaan klien-nya yang punya ambisi membangun gedung 500 lantai dengan kemiringan 15 derajat arah Timur Laut, tersedia helipad serta taman bermain di lantai paling atas. Di sudut lainnya mahasiswa teknik bangunan semester akhir dalam waktu singkat mampu mewujudkan keinginan itu saat menikmati kopi di kedai keliling di tepi danau, ia menggunakan AI bak pesulap cetak biru gedung tersebut ada dalam waktu sekejap.
Sayangnya, mahasiswa itu menyerahkan 'blue print' buatan AI, ia akui sebagai karyanya saat menyerahkan itu ke klien. Senang-lah boss besar itu ambisinya membangun gedung 500 lantai sudah ada cetak birunya, lalu mahasiswa itu menerima hadiah yang sudah dijanjikan, rumah di cluster mewah di tengah kota.
Perkembangan tenologi membantu kita dan memang itu tujuan teknologi itu diciptakan, namun selaku makhluk hidup kita tak boleh lupa tugas kita di dunia yaitu belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bikin proposal, Ai, bikin tayangan iklan, AI, masak menu orang Eskimo, AI, dan sebagainya, lalu kapan kita mempelajari itu bila semuanya kita serahkan ke AI. Lama kelamaan otak dan akal kita berhenti 'kerja' semua sudah diambil alih. AI, bikin pesawat pakai AI memang terwujud tanpa kita tahu teori dasar membangun pesawat, otak kita bisa 'tumpul' mungkin stroke akibatnya.
Fungsi teknologi untuk memudahkan kita bukan mengambil alih tugas atau kerjaan kita, jangan lupakan itu, AI cuma membantu bukan 'jadi' kita. Bila kita terus tergantung AI, lama-lama hal yang sifatnya sangat pribadi kita bertanya sama AI, mau buang air saja tanya AI, mau makan tanya AI, padahal cukup pergi ke kamar kecil lalu tuntaskan, lapar ya makan, bukan tanya AI, 'ngompol' yang ada atau pingsan karena menunda asupan gizi.
Hidup kita jangan sampai 'dikuasai' AI, mereka bukan yang mengatur kita tapi merekalah yang harus membantu kita. Jangan apa-apa ke AI, apalagi kita lom memahami persoalan yang harus kita hadapi, sebaiknya kita pelajari dulu dasar-dasarnya/teorinya, isi kepala kita tetap diasah bukan apresiasi orang lain yang kit tuju untuk sebuah 'kewajiban'. Asah kemampuan sendiri bukan mengandalkan AI untuk tugas yang seharusnya bisa kita kerjakan, apalagi terkait perkejaan kita sehari-hari.
Pamer Kebodohan
Di era perkembangan AI belum pesat bahkan tidak ada sama sekali, masyarakat berlomba untuk belajar agar menjadi yang terbaik. Mungkin generasi sebelum AI dikenal mengalami plonco anak baru di kantor. Lawyer baru umumnya dapat pekerjaan yang ringan-ringan, seperti bikin surat perjanjian, dampingi klien atau buat surat permohonan. Sementara teporter baru 'wajib' kenalan dengan kamar mayat RSCM, korek keterangan si mayat lewat orang-orang terdekat yang datang ke sana.
Di era semua serba digital mungkin hal di atas sudah tak dilakukan lagi, mereka langsung ditemukan dengan klien atau nara sumber, meski pengalaman dan kemampuannya belum memadai. Boleh jadi teori dasar mereka paham tapi tak mengerti kapan dan bagaimana menggunakan cara-cara dalam teori itu.
Hampir semua profesi memanfaatkan AI, begitupun jurnalis yang dituntut membuat sebuah laporan (jurnal) saat meliput peristiwa. Kita tak bisa mencegah para pemula memanfaatkan AI atau melarang mereka menggunakan itu. Zaman serba cepat menuntut pekerjaan pun cepat, maka AI lah solusinya yang bisa mengejar tuntutan tersebut.
Tapi jangan juga kita jadi 'terlihat' bodoh, ingat AI cuma membantu bukan mengambil alih pekerjaan kita. Apapun hasil kerjaan AI jangan kita akui sebagai karya kita, katakan saja apa adanya bahwa apa yang kita buat hasil dari AI. "Ini laporanku, sudah sesuai dengan syarat dasar", pengakuannya tanpa paham apa syarat dasar dan kebiasaan karya yang dihasilkan AI.
ChatGPT salah satu aplikasi berbasis AI ynag sanggup membuat apapun terkait pembuatan laporan, seperti, proposal, perjanjian antara pihak, laporan tahunan, hingga berita 'lempeng' (straight news). Dalam menyusun berita aplikasi ini terbiasa dengan membuat berita lempeng bukan berita mendalam (indepth news), begitu pun kita seharusnya paham dasar penulisan berita 5W + 1H.
Jangan kita bangga mengatakan berita lempeng karya AI sudah terpenuhi unsur 5W + 1H, sejak kapan AI bisa bikin berita mendalam? Meski pemula sekalipun kita wajib tahu jenis-jenis berita, harus dipahami tak semua berita memenuhi unsur 5W + 1H, tuntutan cepat tak memungkin kita membuat berita yang mengandung unsur tersebut.
Berita lempeng umumnya hanya memenuhi 4 unsur What (Apa), When (Kapan), Where (Dimana), dan Who (Siapa), bahkan hanya ada 3 unsur tanpa Who. Sementara Why (Mengapa) dan How (Bagaimana) biasanya terpenuhi di berita mendalam yang butuh investigasi guna menyusunnya. Banyak yang harus dipelajari untuk menjadi seorang profesional bukan 'karbitan' manfaatkan AI, bila dijelaskan di sini sama saja menyampaikan materi kuliah 3SKS.
Memamerkan hasil AI sama saja menunjukan kebodohan kita, pelajari dulu teori dasar dan kebiasaan AI jangan cepat mengatakan "laporanku sudah sesuai dasar penulisan berita", padahal jurnal yang diberikan berita lempeng acara seremonial produk baru, yang tak ada unsur Why dan How-nya.
Kita boleh saja pamer, tapi yang dipamerkan itu karya bukan kebodohan. Pamer kebodohan 'nggak' ada galerinya, karya lah yang kita tunjukan seperti pelukis yang memperlihatkan guratan kuasnya di galeri seni, kebodohan dimana galerinya?
Hasil AI kadang membuat kita angkuh, akibat percaya hasil buatan mereka benar dan terbaik, dan menyangkal saat orang lain beri koreksi atas hasil AI. Meski koreksinya sekedar saran untuk lebih teliti atau membaca ulang 'kerjaan AI", mereka yang memanfaatkan AI tak terima, dan yakin hasil AI itu bagus, walau banyak kesalahan ejaan atau penyebutan nama orang.
Memang sebaiknya lebih teliti dan belajar teori dasar agar ketidakpahaman kita dilihat banyak orang, boleh saja manfaatkan AI karena kita tak bisa membendung gelombang kemajuan teknologi, tapi harus paham teori dasar dan kapan waktunya menggunakan teori itu, serta mengamati kebiasaan AI dalam membuat 'kerjaan' kita. Yuk cerdas..