JAKARTA, IndonesiaSatu.co– Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Ahmad Yohan mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap optimistis dan bersatu mengawal agenda besar swasembada pangan yang saat ini tengah dijalankan.
Menurutnya, berbagai tantangan seperti perubahan iklim, gejolak ekonomi global, hingga dinamika pangan dunia tidak boleh membuat bangsa Indonesia kehilangan kepercayaan diri terhadap kemampuan sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional.
“Kita harus tetap optimistis. Bangsa ini memiliki sumber daya, lahan, petani, teknologi, dan kemampuan untuk mewujudkan swasembada pangan. Tantangan pasti ada, termasuk perubahan iklim dan El Nino, tetapi faktanya kita mampu menghadapinya dengan berbagai langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah bersama petani di seluruh Indonesia,” kata Ahmad Yohan, Sabtu (30/5/2026).
Ia menilai agenda swasembada pangan bukan sekadar program pemerintah, melainkan agenda strategis nasional yang menyangkut masa depan bangsa, kedaulatan negara, ketahanan nasional, dan kesejahteraan rakyat.
Menurutnya, di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu, Indonesia harus terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri agar tidak bergantung pada negara lain. Kemampuan memproduksi pangan sendiri menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan global.
“Karena itu saya mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga persatuan. Jangan sampai kita terjebak oleh berbagai narasi yang justru melemahkan semangat membangun kemandirian pangan nasional. Ketika bangsa ini sedang bergerak menuju swasembada, yang dibutuhkan adalah dukungan, pengawasan, dan kritik yang konstruktif, bukan pesimisme yang tidak berdasar,” ujarnya.
Ia menegaskan keberhasilan swasembada pangan hanya dapat dicapai apabila seluruh pihak menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan sektoral. Karena itu, narasi yang membangun semangat, persatuan, dan kepercayaan terhadap kemampuan bangsa perlu terus dikedepankan agar energi nasional tetap terfokus pada pencapaian tujuan bersama.
Narasi pesimisme, lanjutnya, juga kerap muncul akibat kesalahan dalam membaca kecenderungan iklim yang terjadi belakangan ini.
“Banyak yang memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami Godzilla El Nino. Padahal menurut BMKG maupun BRIN, kemungkinan Indonesia mengalami Godzilla El Nino tergolong kecil. Jangan sampai muncul narasi-narasi yang bisa membuat masyarakat panik dan stabilitas negara terganggu,” ujarnya.
Ahmad Yohan mengatakan keberhasilan Indonesia mengurangi ketergantungan impor tentu tidak selalu disukai oleh semua pihak. Menurutnya, semakin kuat kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, semakin kuat pula posisi bangsa dalam menghadapi berbagai tekanan global.
“Kita harus menyadari bahwa swasembada pangan adalah simbol kemandirian bangsa. Ketika Indonesia semakin mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, tentu ada pihak-pihak yang tidak nyaman karena selama ini memperoleh keuntungan dari ketergantungan impor. Karena itu kita harus semakin solid dan tidak mudah diadu domba oleh berbagai isu yang dapat memecah belah bangsa,” tegasnya.
Ia juga mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat pengawasan sektor pangan dan memberantas mafia pangan yang selama ini merugikan petani dan masyarakat.
“Jangan sampai kerja keras petani, pemerintah, dan seluruh pelaku sektor pertanian dirusak oleh praktik mafia pangan, permainan distribusi, ataupun kepentingan-kepentingan yang menghambat terwujudnya kedaulatan pangan nasional. Kita harus berdiri pada satu tujuan yang sama, yaitu mewujudkan Indonesia yang mandiri, kuat, dan berdaulat di bidang pangan,” katanya.
Optimisme tersebut didukung berbagai capaian sektor pertanian nasional dibawah komando Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang terus menunjukkan tren positif meski dunia menghadapi tekanan perubahan iklim dan ketidakpastian ekonomi global.
Produksi nasional meningkat dari sekitar 53 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pada 2024 menjadi 60,34 juta ton GKG pada 2025. Produksi beras nasional mencapai 34,69 juta ton atau surplus lebih dari 3,5 juta ton dibanding kebutuhan konsumsi nasional sekitar 31 juta ton. Bahkan sepanjang 2025 Indonesia tidak melakukan impor beras medium, sementara Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog pada Mei 2026 mencapai 5,3 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Selain beras, sejumlah komoditas strategis seperti jagung, bawang merah, cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula konsumsi diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan nasional dari produksi dalam negeri. Jagung pakan bahkan telah menghentikan impor sejak 2025 karena produksi nasional dinilai mencukupi kebutuhan domestik.
Penguatan sektor pertanian juga didukung berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari pembangunan dan rehabilitasi irigasi, penyediaan pupuk subsidi, bantuan alat dan mesin pertanian, penyederhanaan regulasi pupuk, hingga penguatan pengawasan distribusi pangan bersama Satgas Pangan guna mencegah praktik penyelewengan dan mafia pangan.
Berbagai langkah tersebut mulai menunjukkan dampak positif terhadap kesejahteraan petani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2026 mencapai 125,35 atau tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
Menutup pernyataannya, Ahmad Yohan menegaskan bahwa Indonesia memiliki seluruh modal yang dibutuhkan untuk mewujudkan swasembada pangan, mulai dari sumber daya alam yang melimpah, potensi lahan yang besar, petani yang tangguh, dukungan kebijakan pemerintah, hingga semangat gotong royong seluruh elemen bangsa.
“Marilah kita percaya pada kemampuan bangsa sendiri. Petani Indonesia telah membuktikan bahwa di tengah berbagai tantangan mereka tetap mampu menjaga produksi dan memastikan pangan tersedia bagi seluruh rakyat. Dengan komitmen yang kuat dan dukungan seluruh masyarakat, cita-cita swasembada pangan bukanlah sesuatu yang mustahil, melainkan tujuan yang dapat diwujudkan demi masa depan Indonesia yang lebih berdaulat, kuat, dan sejahtera,” pungkasnya. *