Opini

100 TAHUN JAM GADANG DAN PERTARUNGAN MANUSIA MELAWAN WAKTU

Oleh : luska - Rabu, 03/06/2026 08:39 WIB


Menyambut International Minangkabau Literacy Festival Ke-4, 3-7 Juni 2026

- Dari Literasi Menuju Legacy

Oleh Denny JA

Suatu sore, seabad lalu, seorang tukang bangunan memandang menara yang baru selesai didirikan di jantung Bukittinggi. 

Ia mungkin tak pernah membayangkan bahwa jam yang dipasangnya akan terus berdetak ketika dirinya telah lama menjadi debu sejarah. 

Anak-anak yang belum lahir kala itu akan tumbuh, menua, lalu wafat. Generasi berganti generasi. Namun jarum Jam Gadang tetap bergerak. 

Di situlah saya memahami satu hal: manusia tidak pernah benar-benar bertarung melawan sesama manusia. Pertarungan terbesar manusia sesungguhnya adalah melawan waktu.

Karena itu seluruh peradaban sebenarnya adalah upaya menunda lupa. Piramida dibangun untuk menantang kematian. 

Kitab ditulis untuk melampaui usia penulisnya. Monumen didirikan agar ingatan tidak runtuh bersama tubuh yang menua. 

Jam Gadang berdiri dalam tradisi yang sama. Ia bukan hanya penunjuk waktu, tetapi pengingat bahwa setiap generasi memiliki kesempatan meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada hidupnya.

-000-

International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) lahir dari keyakinan sederhana bahwa literasi adalah jembatan peradaban. Gagasan ini dirintis dengan tekad dan ketekunan Sastri Bakry bersama jejaring pegiat literasi Sumatera Barat yang tergabung dalam SatuPena Sumbar. 

Dari tahun ke tahun, festival ini tumbuh melampaui ekspektasi. Denny JA Foundation ikut memberi dukungan karena meyakini bahwa bangsa yang ingin besar harus membangun ekosistem gagasan yang sehat. 

IMLF bukan sekadar pertemuan penulis. Ia adalah ruang tempat budaya, sastra, pendidikan, ekonomi kreatif, dan persahabatan antarbangsa saling bertemu. 

Dari 12 negara pada penyelenggaraan awal hingga 37 negara tahun ini, IMLF membuktikan bahwa Minangkabau memiliki daya tarik intelektual yang melampaui batas geografisnya.

-000-

Tahun ini berbeda. IMLF berlangsung bertepatan dengan peringatan 100 tahun Jam Gadang.

Jam Gadang dibangun pada 1926 dan sejak itu menjadi ikon Bukittinggi sekaligus salah satu simbol paling kuat identitas Minangkabau. 

Menara jam ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah saksi diam yang melihat kolonialisme datang dan pergi, kemerdekaan diperjuangkan, generasi tumbuh dan berganti, serta perubahan zaman yang tak pernah berhenti.

Minangkabau sendiri memiliki sejarah panjang. Dari tanah ini lahir Mohammad Hatta, Hamka, Sutan Syahrir, Rohana Kudus, dan banyak tokoh lain yang secara biologis telah pergi, tetapi gagasannya masih memengaruhi jutaan manusia hingga hari ini. 

Mereka membuktikan bahwa yang membuat sebuah daerah besar bukan luas wilayahnya, melainkan luas warisan pikirannya.

Seratus tahun adalah usia yang istimewa. Tidak banyak karya manusia yang mampu bertahan selama itu sambil tetap relevan dalam ingatan publik. 

Karena itulah perayaan satu abad Jam Gadang bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia adalah kesempatan untuk bertanya: warisan apa yang akan kita tinggalkan untuk seratus tahun berikutnya?

Dalam semangat itulah lahir berbagai kegiatan baru. Salah satunya Fun Run Jam Gadang, yang mengajak masyarakat merayakan kesehatan sambil merayakan sejarah. 

Saya juga mengusulkan gerakan penanaman pohon yang awalnya ditargetkan 100 pohon. Namun dukungan luar biasa dari berbagai pihak, termasuk Kapolda Sumatera Barat, membuat target itu berkembang menjadi 1.000 pohon.

Bagi saya, gerakan ini memiliki makna yang lebih dalam. Sumatera Barat beberapa tahun terakhir mengalami berbagai bencana ekologis. 

Alam sedang mengirim pesan. Menanam pohon bukan hanya tindakan lingkungan. Ia adalah terapi kolektif. Sebuah ikhtiar untuk menyembuhkan luka bumi sekaligus luka batin manusia.

-000-

Merenungkan festival yang sudah berlangsung empat tahum ini, tiga inspirasi menghentak.

Inspirasi pertama dari IMLF adalah tema besarnya: From Literacy to Legacy.

Banyak orang mewariskan kekayaan. Sebagian mewariskan jabatan. Namun hanya sedikit yang mewariskan gagasan. 

Padahal sejarah membuktikan bahwa yang paling panjang usianya bukanlah kekuasaan, melainkan ide. Jam Gadang yang berusia satu abad mengingatkan bahwa waktu akan menghapus banyak nama, tetapi tidak selalu menghapus nilai yang diwariskan. 

Buku yang ditulis hari ini mungkin dibaca oleh generasi yang belum lahir. Puisi yang dibacakan hari ini mungkin mengubah jalan hidup seseorang puluhan tahun kemudian. 

Literasi pada akhirnya adalah cara manusia memperpanjang hidupnya melalui pikiran yang diwariskan.

-000-

Inspirasi kedua adalah kenyataan bahwa dunia bisa bertemu bukan karena kepentingan, tetapi karena kebudayaan.

Di zaman yang dipenuhi persaingan ekonomi dan ketegangan geopolitik, IMLF menghadirkan pemandangan yang berbeda. Peserta dari 37 negara datang membawa bahasa, tradisi, dan pengalaman hidup yang berbeda. 

Namun mereka menemukan bahwa harapan manusia ternyata serupa. Semua ingin dihargai. Semua ingin hidup damai. Semua ingin meninggalkan sesuatu yang bermakna. 

Festival ini membuktikan bahwa sastra dan budaya sering kali mampu membangun jembatan yang gagal dibangun politik. Ketika dunia terpecah oleh identitas, literasi mengingatkan bahwa kemanusiaan selalu lebih besar daripada perbedaan.

Tentu literasi bukan obat mujarab. Ia tidak menghapus konflik, tidak meniadakan ketimpangan. Namun ia menyediakan ruang langka tempat perbedaan tidak harus berakhir sebagai permusuhan, melainkan sebagai percakapan.

-000-

Inspirasi ketiga adalah pelajaran bahwa ketulusan memiliki daya tariknya sendiri.

Hampir semua target festival ini terlampaui. Penanaman 100 pohon menjadi 1.000 pohon. Pembacaan puisi 100 penyair dunia menjadi hampir 200 penyair. 

Peluncuran 100 buku menjadi lebih dari seratus buku. Antologi puisi 100 penyair berkembang menjadi hampir 150 penyair. 

Peragaan busana perempuan Minang yang semula ditargetkan 100 peserta berkembang menjadi sekitar 1.700 peserta. Fenomena ini menunjukkan hukum sosial yang sering terlupakan: ketika sebuah gagasan lahir dari ketulusan, ia menarik dukungan yang tidak bisa dipaksa oleh kekuasaan. 

Warisan terbesar tidak dibangun oleh perintah, tetapi oleh inspirasi yang membuat banyak orang ingin berjalan bersama.

-000-

Salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup saya adalah menyaksikan bagaimana sebuah gagasan kecil dapat tumbuh menjadi gerakan besar. 

Ketika pertama kali mengembangkan puisi esai, banyak yang menganggapnya eksperimen yang tidak akan bertahan lama. Namun bertahun-tahun kemudian, saya melihat puisi esai ditulis di berbagai daerah, diajarkan di sekolah, diperlombakan, bahkan menjadi jembatan dialog sosial. 

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa warisan terbesar tidak selalu lahir dari proyek yang besar. Ia sering kali lahir dari gagasan yang dikerjakan dengan konsisten.

Karena itulah saya merasa dekat dengan semangat IMLF. Saya melihat festival ini bukan hanya sebagai agenda tahunan. Saya melihatnya sebagai investasi peradaban. Sebuah usaha untuk memastikan bahwa generasi mendatang masih memiliki ruang untuk membaca, berpikir, berdialog, dan bermimpi.

-000-

Apa yang saya saksikan di Bukittinggi sebenarnya telah lama dipikirkan para teoretikus budaya. Dua pemikir berikut membantu kita memahami mengapa festival semacam IMLF bukan sekadar perayaan, melainkan mesin peradaban.

Dua buku ini dapat memperkaya pandangan kita mengenai pentingnya festival budaya. Buku pertama berjudul  The Rise of the Creative Class, ditulis oleh 
Richard Florida,  2002.

Richard Florida menunjukkan bahwa kemajuan sebuah kota atau bangsa tidak lagi hanya ditentukan oleh sumber daya alam atau modal finansial, tetapi oleh kemampuan menciptakan ruang bagi kreativitas. 

Kota-kota yang berhasil menarik penulis, seniman, ilmuwan, dan inovator cenderung mengalami pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup yang lebih tinggi. 

Festival budaya memainkan peran penting karena menciptakan ekosistem tempat ide bertemu dengan ide lain. 

Dalam konteks IMLF, Bukittinggi bukan hanya menjadi lokasi acara, tetapi menjadi ruang kreatif yang mempertemukan berbagai bangsa melalui sastra dan budaya. Festival yang berulang setiap tahun menciptakan memori kolektif, identitas kota, serta jaringan sosial yang terus berkembang. 

Warisan budaya akhirnya menjadi aset ekonomi sekaligus aset peradaban.

-000-

Buku kedua:  The Uses of Heritage. Penulisnya Laurajane Smith, 2006.

Laurajane Smith mengkritik pandangan bahwa warisan hanyalah bangunan tua atau benda bersejarah. 

Menurutnya, warisan sesungguhnya adalah proses sosial yang terus hidup melalui praktik, cerita, dan partisipasi masyarakat. 

Sebuah festival budaya menjadi penting karena memungkinkan masyarakat menciptakan makna bersama tentang siapa mereka dan apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya. 

Dalam perspektif ini, Jam Gadang bukan hanya menara jam berusia seratus tahun. Ia menjadi simbol yang terus diberi makna baru oleh masyarakat yang merayakannya. 

IMLF menghidupkan warisan itu melalui diskusi, puisi, buku, seni, dan aksi lingkungan. Warisan yang tidak dirayakan akan membeku menjadi artefak. Warisan yang dirayakan akan tetap hidup sebagai identitas.

-000-

Pada akhirnya, perayaan 100 tahun Jam Gadang mengajarkan satu pelajaran sederhana namun mendalam: manusia tidak dapat menghentikan waktu, tetapi manusia dapat meninggalkan sesuatu yang membuat waktunya bermakna. 

IMLF mengajak kita menulis, menanam, berdialog, dan berkarya agar hidup tidak berhenti pada usia biologis. Dari literasi lahir kesadaran. Dari kesadaran lahir tindakan. Dari tindakan lahir legacy. Dan dari legacy, manusia menemukan cara paling anggun untuk mengalahkan waktu.

Ketika saya melihat peserta dari 37 negara berkumpul di Bukittinggi, saya merasa sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah festival. 

Di hadapan Jam Gadang yang berusia seabad, manusia dari berbagai bangsa datang dengan bahasa berbeda, tetapi dengan kegelisahan yang sama: bagaimana membuat hidup yang singkat ini meninggalkan arti yang panjang. Di titik itulah literasi berubah menjadi legacy.

Namun, tantangan terbesar kita bukanlah merayakan masa lalu, melainkan merawat konsistensi di masa depan agar festival ini tidak membeku sebagai seremonial tahunan yang kehilangan daya dobrak intelektualnya.

Kita tidak hidup selama usia kita, tetapi selama gagasan baik yang terus hidup setelah kita tiada.***

Jakarta, 3 Juni 2026

REFERENSI

1. The Rise of the Creative Class
    Richard Florida
    Basic Books
    2002

2. The Uses of Heritage
    Laurajane Smith
    Routledge
    2006


-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World

https://www.facebook.com/100044483107470/posts/pfbid022QUzkVLok9H6yvufFXkKKk5EXVteKFYetYcnsXYcTn3ofrr2mxPQdLLuH6RhVEa7l/?mibextid=wwXIfr

TAGS : Denny ja

Artikel Lainnya