Jakarta, INDONEWS.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD/IDR) hari ini, Selasa, 9 Juni 2026, berada di kisaran Rp18.134 hingga Rp18.146 per dolar AS di pasar spot. Rupiah tercatat dibuka menguat tipis ke level Rp18.141 per dolar AS pada perdagangan pagi ini.
Sejumlah analis memprediksi nilai tukar Rupiah bisa tembus Rp22.000 per Dolar AS. Skenario ekstrem tersebut didorong oleh kombinasi ketidakpastian global yang parah dan kekhawatiran terhadap beban fiskal di dalam negeri
Jika hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin hal tersebut akan berdampak bagi kehidupan sosial, politik bahkan bagi kesehatan.
Pertanyaannya adalah, apa dampak nilai tukar tersebut bagi kesehatan kita?
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, setidaknya ada lima dampak kenaikan nilai tukar tersebut bagi kesehatan.
Pertama, kemungkinan naiknya harga obat. Hal ini, kata mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes itu karena sebagian besar bahan baku obat kita (bahkan ada yang menyebutnya sampai hampir 90%) masih diimpor.
”Di media massa kita baca bahwa pemerintah mencoba mengendalikan potensi kenaikan harga obat ini dengan melakukan relaksasi pengadaan yang memberikan fleksibilitas bagi industri farmasi untuk mencari dan mengalihkan pasokan bahan baku obat ke negara lain yang menawarkan harga lebih terjangkau,” ujarnya.
Juga diberitakan ada kemungkinan penyesuaian kemasan dengan mengizinkan penyesuaian bentuk atau ukuran kemasan demi efisiensi biaya produksi yang dikonsumsi oleh rakyat kita.
Kedua, berdampak bagi harga reagen dan bahan lain (“cartridge”, “test strip” dll) untuk berbagai test pemeriksaan diagnostik.
Seperti juga bahan baku obat maka tidak sedikit reagen dan bahan-bahan ini yang masih diimpor, yang tentunya akan terdampak dengan nilai Dolar Amerika yang sudah tinggi sekarang ini.
Ketiga, berdampak terhadap harga alat-alat kesehatan yang besar dan canggih, yang juga masih banyak yang diimpor. Ini tentu punya potensi dampak bagi masyarakat yang memerlukan pemeriksaan alat canggih di rumah sakit kita.
”Selain tiga dampak di atas maka dampak keempat adalah kenaikan nilai dolar yang menimbulkan tekanan finansial pada kehidupan sehari-hari masyarakat, yang bukan tidak mungkin menjadi salah satu pemicu stress dan gangguan kesehatan mental,” ujar penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 - PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025 tersebut.
Kelima, untuk jangka lebih panjang, jika kenaikan dolar ini tidak dapat segera diperbaiki tentu akan berdampak pada daya beli masyarakat, termasuk daya beli untuk makanan bergizi dan juga pelayanan kesehatan.
”Kita berharap agar situasi ekonomi ini dapat segera membaik, yang bukan hanya akan baik bagi situasi ekonomi tetapi juga akan baik bagi kesehatan bangsa,” pungkasnya. *