Nasional

Iran Serang Pangkalan AS di Teluk, Balas Serangan Udara Terbaru Washington

Oleh : Rikard Djegadut - Kamis, 11/06/2026 09:14 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Teheran melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan Teluk sebagai respons atas gelombang serangan udara terbaru Washington ke wilayah Iran.

Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan pihaknya telah menyelesaikan hari kedua operasi yang disebut sebagai “serangan pertahanan diri” pada Rabu. Operasi itu dilakukan sehari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan Iran akan dihantam lebih keras jika tak segera mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Sebagai balasan, Iran mengumumkan telah menyerang pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait. Teheran juga mengklaim telah menargetkan fasilitas militer Amerika di kedua negara tersebut setelah serangan udara AS sehari sebelumnya.

Eskalasi saling serang dalam beberapa hari terakhir dinilai menguji rapuhnya gencatan senjata yang disepakati kedua negara pada April lalu.

Setelah serangan terbaru AS, ledakan dilaporkan terdengar di sejumlah kota di selatan Iran, dekat Selat Hormuz. Sebelumnya, militer AS menyerang sistem pertahanan udara, radar, serta sejumlah fasilitas strategis Iran di kawasan tersebut.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz. Media pemerintah Iran bahkan melaporkan jalur pelayaran strategis itu “ditutup sepenuhnya untuk semua jenis kapal”.

Namun, Centcom membantah klaim tersebut dengan menyebut kapal-kapal komersial masih melintas keluar masuk Selat Hormuz.

Media pemerintah Iran juga melaporkan dua kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz terkena serangan angkatan laut Iran, meskipun belum ada konfirmasi independen terkait laporan itu.

Ketegangan di kawasan langsung memicu lonjakan harga minyak dunia. Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, dilaporkan menembus level di atas 95 dolar AS per barel setelah naik sekitar 2 persen dalam perdagangan pagi di Asia.

Beberapa jam sebelum serangan terbaru diluncurkan, Trump memperingatkan Iran melalui pernyataannya bahwa Amerika “akan menghantam mereka dengan keras lagi hari ini” setelah serangan sebelumnya.

Trump juga menuduh para pemimpin Iran terlalu lama melakukan negosiasi perdamaian. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menilai AS justru merusak proses diplomasi melalui pesan-pesan yang dinilai saling bertentangan.

Menanggapi ancaman Washington, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan ataupun ancaman asing.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengatakan serangan terhadap fasilitas penting Iran akan terus dilakukan jika tidak tercapai kesepakatan damai.

Sebelumnya pada April, Amerika Serikat dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata yang awalnya dirancang berlangsung selama dua pekan. Meski demikian, kedua pihak masih terlibat baku serang sporadis tanpa berkembang menjadi perang terbuka penuh.

Upaya diplomasi terbaru antara Washington dan Teheran juga dilaporkan mengalami kebuntuan, sementara intensitas serangan terus meningkat.

Di tengah situasi tersebut, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memperingatkan kawasan Timur Tengah sedang ditarik semakin dalam ke jurang krisis.

Ia menilai gencatan senjata yang berlaku saat ini lebih menyerupai “pengurangan tembakan” ketimbang perdamaian sesungguhnya, serta mendesak semua pihak segera kembali ke jalur diplomasi untuk mencegah konflik meluas.

Artikel Lainnya