Jakarta, INDONEWS.ID – Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak mengalami tekanan pada perdagangan Senin (8/6) pagi di tengah langkah penguatan koordinasi kebijakan moneter dan fiskal antara Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp18.110 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 104 poin atau 0,58 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Sementara itu, IHSG dibuka merosot tajam 3,23 persen atau turun 180,89 poin ke level 5.413.
Berdasarkan data RTI Business, IHSG sempat dibuka di level 5.486 dan menyentuh posisi tertinggi harian di 5.490 sebelum tertekan hingga menyentuh level terendah di 5.370. Tercatat sebanyak 532 saham melemah, 53 saham menguat, dan 114 saham bergerak stagnan.
Di tengah tekanan pasar tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyepakati penguatan koordinasi fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas rupiah sekaligus menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
“Penguatan koordinasi fiskal-moneter itu terus kita lakukan dan saat ini memang difokuskan bagaimana fiskal dan moneter seirama, saling mendukung, saling memperkuat dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Perry di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6).
Perry menjelaskan terdapat dua langkah utama yang disepakati BI dan Kemenkeu. Pertama, meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik agar aliran modal asing kembali masuk ke Indonesia. Menurutnya, kenaikan suku bunga di luar negeri telah memicu arus keluar modal dari sejumlah instrumen investasi domestik, termasuk saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Oleh karena itu fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya.
Langkah kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan. Pemerintah disebut tetap menempatkan dana kas di BI, sementara bank sentral memberikan remunerasi atau bunga lebih tinggi terhadap dana tersebut.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai pernyataan bersama BI dan Kemenkeu dapat memberikan sentimen positif terbatas bagi pasar karena menunjukkan adanya koordinasi antarlembaga dalam menghadapi tekanan terhadap rupiah.
“Pernyataan bersama di DPR dapat memberi sentimen positif terbatas karena pasar membaca koordinasi antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan otoritas terkait sebagai sinyal bahwa negara hadir menghadapi tekanan rupiah,” kata Syafruddin.
Meski demikian, ia mengingatkan pasar tidak cukup diyakinkan hanya dengan narasi koordinasi. Investor, menurutnya, akan menguji konsistensi kebijakan melalui indikator seperti Credit Default Swap (CDS), yield SBN, arus modal asing, cadangan devisa, hingga efektivitas intervensi valuta asing.
“Pasar akan tenang bukan karena pejabat berbicara seragam, melainkan karena kebijakan bergerak serempak dan hasilnya terlihat dalam indikator risiko,” ujarnya.
Syafruddin menilai otoritas perlu bergerak dari sekadar komunikasi menuju kebijakan konkret, termasuk memperjelas strategi intervensi pasar valas, memperkuat kredibilitas fiskal, mempercepat repatriasi devisa ekspor, serta memperketat pengawasan terhadap transaksi yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap dolar AS.