Jakarta, INDONEWS.ID - KBRI Tokyo bekerja sama dengan Indonesian Business Council (IBC) menyelenggarakan Lunch Dialogue bertema “Indonesia and Japan: Co-Creating Economic Resilience in Time of Global Crisis” di KBRI Tokyo pada Jumat 12 Juni 2026. Kegiatan ini mempertemukan pemangku kepentingan dari pemerintah, komunitas bisnis, lembaga riset, akademisi, dan organisasi internasional dari Indonesia dan Jepang. Kegiatan ini digelar untuk membahas penguatan kemitraan kedua negara di tengah meningkatnya tantangan geopolitik dan geoekonomi global.
Dialog dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dari Indonesia dan Jepang, antara lain Presiden Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), Tetsuya Watanabe; Ambassador in Charge of Asia Zero Emission Community (AZEC) Kementerian Luar Negeri Jepang, Takio Yamada; Adjunct Fellow Japan Institute of International Affairs (JIIA) sekaligus mantan Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masafumi Ishii; serta Director/CEO of ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), Yasuto Watanabe.
Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, dalam sambutannya menegaskan bahwa Indonesia dan Jepang perlu terus memperkuat kerja sama yang berlandaskan kepercayaan dan saling melengkapi untuk menghadapi berbagai tantangan global.
“Di tengah ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, ketidakpastian energi, perubahan iklim, dan transformasi teknologi, jawaban bagi Indonesia dan Jepang bukanlah isolasi, melainkan trusted interdependence atau saling ketergantungan yang dilandasi kepercayaan,” ujar Dubes Kartini yang didampingi beberapa pejabat KBRI Tokyo diantaranya Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI Tokyo Gatot Hari Gunawan; Atase Perdagangan Merry Astrid Indriasari; Atase Keuangan Leni Nurlaeni; Atase Perindustrian Sofyari Rahman; Kepala Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC), Tokyo, Ruly Fitrah Nasrullah.
Dubes Kartini menyampaikan bahwa kunjungan resmi Presiden RI Prabowo Subianto ke Jepang pada Maret 2026 telah menegaskan komitmen kedua negara untuk memperkuat hubungan persahabatan yang telah terjalin lama menjadi kerja sama yang semakin konkret dan berorientasi hasil. Menurutnya, Indonesia dan Jepang memiliki keunggulan yang saling melengkapi dalam membangun rantai nilai yang tangguh dan berkelanjutan.
“Indonesia membawa sumber daya alam, mineral kritis, skala pasar, tenaga kerja, dan lokasi strategis. Sementara, Jepang membawa teknologi, pembiayaan, standar, dan disiplin industri. Bersama-sama, kita harus membangun rantai nilai yang aman dan terdiversifikasi,” tegasnya.
Dubes Kartini juga menyoroti pentingnya kerja sama transisi energi melalui kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC), termasuk pengembangan energi panas bumi, waste-to-energy, LNG, mineral kritis, serta berbagai teknologi energi masa depan. Menurutnya, transisi energi harus dipandang sebagai strategi industri yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi, memperkuat ketahanan energi, dan mempercepat dekarbonisasi.
Lebih lanjut, Dubes Kartini menegaskan bahwa hubungan Indonesia-Jepang saat ini tengah bergerak dari pola yang bersifat transaksional menuju platform kolaborasi yang lebih terintegrasi.
“Yang kita perlukan adalah pemahaman yang lebih jelas mengenai apa yang dibutuhkan Indonesia, apa yang dapat ditawarkan Jepang, dan di mana kedua pihak dapat bertindak bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas IBC, Arsjad Rasjid, menekankan pentingnya memperkuat kemitraan Indonesia-Jepang melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah dan sektor swasta. Menurutnya, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global, kerja sama kedua negara perlu difokuskan pada penguatan ketahanan energi dan pengembangan mobilitas talenta sebagai sumber pertumbuhan ekonomi masa depan.
Arsjad Rasjid juga menyoroti pentingnya penguatan ketahanan energi kawasan melalui pengembangan ASEAN Regional Fuel Stockpiling Framework guna menjaga ketersediaan dan keterjangkauan energi. Dalam jangka panjang, ia menilai ASEAN Power Grid dapat menjadi inisiatif transformatif yang memperkuat konektivitas energi regional, mendorong pemanfaatan energi terbarukan, serta meningkatkan ketahanan energi kawasan.
Diskusi yang dimoderatori oleh Vice President for International Affairs and Operations IBC, Noto Suoneto, berlangsung secara interaktif dan membahas berbagai isu strategis, mulai dari keamanan energi, ketahanan rantai pasok, pengembangan mineral kritis, transisi energi dan dekarbonisasi, hingga mobilitas talenta dan penguatan kerja sama ekonomi Indonesia-Jepang di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Melalui kegiatan ini, KBRI Tokyo dan IBC berharap dapat mendorong lahirnya rekomendasi serta tindak lanjut yang konkret guna memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang yang lebih tangguh, inovatif, inklusif, dan berkelanjutan.*