Metropolitan

Jelang HUT Ke-499, Wajah Ideal Jakarta Harus Dibangun di Atas "8B"

Oleh : very - Kamis, 18/06/2026 21:06 WIB


Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta pada 22 Juni 2026, Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris mengungkapkan bahwa momentum ulang tahun Jakarta tahun ini harus menjadi refleksi besar menuju usia lima abad pada 2027.

Menurutnya, Jakarta kini memasuki babak penting sebagai pusat ekonomi nasional dan kota global yang harus tetap berakar pada sejarah, budaya, keadilan, dan keberpihakan kepada warga.

Fahira Idris menyebut, masa depan Jakarta idealnya dibangun di atas delapan wajah utama yang ia sebut sebagai 8B, yaitu: Berbudaya, Berkeadilan, Bermukim Layak, Bermobilitas Publik, Berketahanan Iklim, Berdaya Ekonomi Rakyat, Berintegritas, dan Berkolaborasi.

“Jelang HUT Ke-499, Jakarta tidak boleh hanya merayakan usia panjangnya, tetapi harus semakin jelas merumuskan wajah masa depannya. Tahun depan Jakarta memasuki usia lima abad. Ini momentum besar untuk memastikan Jakarta menjadi kota global yang bukan hanya modern dan berdaya saing, tetapi juga berbudaya, adil, manusiawi, tangguh, produktif, dan menempatkan warga sebagai pusat pembangunan,” ujar Fahira Idris dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/6).

Wajah pertama adalah berbudaya. Menurut Fahira Idris, Jakarta harus naik kelas sebagai kota global tanpa kehilangan jati diri. Budaya Betawi, Kota Tua, museum, festival, ruang seni, kuliner, tradisi keagamaan, dan berbagai kebudayaan yang tumbuh di Jakarta harus menjadi kekuatan utama kota ini.

“Jakarta boleh tumbuh menjadi kota global, tetapi tidak boleh kehilangan jati dirinya. Budaya Betawi dan berbagai kebudayaan yang hidup di Jakarta harus menjadi wajah utama kota ini. Jakarta harus menjadi kota yang kreativitasnya mendunia, tetapi tradisinya tetap dijaga,” ungkap Fahira Idris.

Kedua, berkeadilan. Fahira Idris menegaskan, kemajuan Jakarta tidak cukup diukur dari gedung tinggi, investasi besar, atau proyek infrastruktur, tetapi dari sejauh mana pembangunan dirasakan seluruh warga, terutama kelompok rentan.

Warga miskin kota, pekerja informal, lansia, anak, perempuan, penyandang disabilitas, dan masyarakat berpenghasilan rendah harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan.

Ketiga, bermukim layak. Kota global, lanjut Fahira Idris, harus nyaman ditinggali, bukan hanya menarik bagi investor. Karena itu, hunian layak, air bersih, ruang terbuka hijau, permukiman sehat, kampung kota, layanan dasar, serta pembangunan hunian berbasis transportasi publik harus menjadi agenda utama.

Pembangunan rumah susun, kampung susun, dan penataan kampung kota harus dilakukan secara partisipatif, bermartabat, dan tidak memutus ikatan sosial warga.

Keempat, bermobilitas publik. Fahira Idris menilai masa depan Jakarta sangat ditentukan oleh keberhasilan mengubah budaya mobilitas warga dari kendaraan pribadi menuju transportasi publik. MRT, LRT, Transjakarta, KRL, JakLingko, Transjabodetabek, jalur sepeda, dan trotoar harus dipandang sebagai satu ekosistem mobilitas yang terintegrasi, aman, terjangkau, inklusif, dan rendah emisi.

“Jakarta kota global dimulai dari perjalanan harian warganya. Jika mobilitas warga mudah, murah, aman, nyaman, dan inklusif, maka Jakarta sedang berjalan menuju kota global yang sesungguhnya,” jelas Fahira Idris.

Kelima, berketahanan iklim. Fahira Idris mengingatkan bahwa banjir, rob, penurunan muka tanah, cuaca ekstrem, polusi udara, kebakaran, dan krisis air bersih harus ditangani secara komprehensif. Jakarta tidak bisa lagi hanya responsif saat bencana terjadi, tetapi harus semakin antisipatif, berbasis data, dan melibatkan warga.

“Jakarta tidak mungkin menjadi kota global jika tidak tangguh menghadapi krisis iklim dan bencana. Udara bersih, air bersih, lingkungan sehat, dan keselamatan warga harus menjadi indikator utama kemajuan kota,” tegas Fahira Idris.

Keenam, berdaya ekonomi rakyat. Menurut Fahira Idris, Jakarta harus tetap menjadi mesin ekonomi nasional, tetapi pertumbuhan ekonomi harus dirasakan oleh pelaku UMKM, pasar rakyat, pekerja informal, anak muda kreatif, dan keluarga-keluarga Jakarta.

UMKM, ekonomi kreatif, pasar rakyat, Tanah Abang, Bank Jakarta, industri halal, ekonomi digital, dan industri kreatif harus menjadi bagian dari mesin baru ekonomi Jakarta.

Ketujuh, berintegritas. Fahira Idris menilai seluruh cita-cita besar Jakarta hanya bisa terwujud jika ditopang birokrasi yang bersih, responsif, profesional, transparan, dan berbasis data.

Digitalisasi layanan publik, transparansi APBD, citizen budgeting, meritokrasi ASN, penguatan JAKI, dan keterbukaan informasi harus terus ditingkatkan agar tata kelola berdampak langsung pada kualitas pelayanan warga.

Kedelapan, berkolaborasi. Fahira Idris menegaskan bahwa warga Jakarta bukan objek pembangunan, tetapi subjek, mitra, dan kreator pembangunan. Warga harus dilibatkan sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan kebijakan, baik dalam penataan kampung, pembangunan hunian, pengelolaan ruang publik, pelestarian budaya, penguatan UMKM, maupun kebijakan lingkungan.

“Warga Jakarta bukan penonton pembangunan. Warga adalah kreator pembangunan. Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang mampu membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya agar warga ikut merancang masa depan kotanya,” ungkap Fahira Idris.

Fahira Idris berharap, 8B menjadi arah bersama menjelang usia lima abad Jakarta pada 2027. HUT Ke-499 bukan sekadar perayaan, tetapi jembatan menuju refleksi besar tentang kota seperti apa yang ingin diwariskan kepada generasi Jakarta berikutnya.

“Selamat menyambut HUT Ke-499 Kota Jakarta. Mari menjadikan momentum ini sebagai ikhtiar bersama menjemput lima abad Jakarta. Kota yang global, tetapi tetap berbudaya. Kota yang modern, tetapi tetap manusiawi. Kota yang maju, tetapi tetap adil. Kota yang besar, tetapi tetap dekat dengan warganya,” pungkas Fahira Idris. *

Artikel Lainnya