Manado, INDONEWS.ID – Gelar Dokter Kehormatan atau Honoris Causa (DR HC) diberikan Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara kepada Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Wagub Lemhannas) Laksamama Madya TNI Erwin S. Aldedharma.
Penganugerahan DR HC ini diberikan langsung oleh Rektor Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Prof. Dr. Ir. Oktovian Berty Alexander Sompie, M.Eng., IPU, ASEAN Eng dalam Sidang Senat Terbuka, dihadiri mulai lingkungan sivitas akademika Unsrat, Pimpinan Daerah, TNI-Polri dan undangan lainnya.
“Semoga gelar kehormatan ini selalu menjadi pengingat bagi kami untuk terus menjaga nama baik Universitas Sam Ratulangi Manado melalui pengabdian dan kontribusi bagi kejayaan Indonesia,” ujar Erwin dalam pidatonya.
Ditambahkan Erwin, dirinya juga mendedikasikan gelar kehormatan ini kepada seluruh prajurit TNI Angkatan Laut yang senantiasa menjaga kedaulatan negara di garda terdepan, serta kepada masyarakat pesisir Indonesia yang terus menghidupkan denyut nadi ekonomi maritim bangsa.
Dalam orasi ilmiahnya, Laksamana Bintang Tiga kelahiran Surabaya (Mei 1970) yang hadir bersama isterinya Ketty Erwin S. Aldedharma memaparkan sejumlah peluang dalam mewujudkan implementasi Ekonomi Biru untuk menuju Indonesia Emas 2045. Yakni Pertama, Transformasi Logistik Maritim. Indonesia membutuhkan sistem logistik maritim yang modern, efisien, dan terintegrasi. Tingginya biaya logistik masih menjadi tantangan dalam mewujudkan pemerataan pembangunan dan peningkatan daya saing nasional. Oleh karena itu, penguatan konektivitas antarpulau, modernisasi pelabuhan, digitalisasi logistik, dan pengembangan industri galangan kapal nasional harus menjadi prioritas pembangunan.
Kedua, Kedaulatan Berbasis Pengetahuan. Pada era global saat ini, sumber daya alam atau jumlah armada tidak lagi menjadi penentu kekuatan sebuah bangsa. Indonesia harus mulai membangun kedaulatan maritim melalui riset dan inovasi, pengembangan bioteknologi kelautan, energi terbarukan laut, serta pemetaan data bawah laut yang akurat. Perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, industri, dan TNI harus bersinergi melalui sistem Triple Helix guna membangun ekosistem inovasi nasional.
Ketiga, Ketahanan dan Mitigasi Maritim. Tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa keamanan, dan tidak ada investasi tanpa stabilitas. Ancaman maritim yang semakin kompleks, mulai berdampak pada perubahan iklim dan bencana pesisir. Hal tersebut terlihat dari banyaknya tindak kejahatan transnasional, seperti penangkapan ikan secara ilegal, pembajakan dan perompakan di laut, penjualan dan penyelundupan manusia. Jadi, Indonesia harus membangun keamanan maritim yang berkapasitas regional melalui penguatan sistem pengawasan laut, peningkatan kapasitas mitigasi bencana, serta sinergi antara pertahanan negara dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
