Jakarta, INDONEWS.ID - Menyambut usia emas setengah abad, Himpunan Wastraprema (HWP) bersinergi dengan Museum Tekstil (Mustek) Jakarta menggelar pameran wastra langka dan bersejarah bertajuk ”Menjaga Warisan untuk Masa Depan.
Pameran yang menampilkan puluhan mahakarya bernilai historis tinggi ini dibuka Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Mochamad Miftahulloh Tamary di Museum Tekstil Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Kepala Dinas Kebudayan DKI Jakarta Miftahulloh Tamary, menyampaikan bahwa peringatan 50 tahun Mustek bukan sekedar penanda perjalanan sebuah institusi pelestarian budaya. Momentum ini menjadi refleksi komitmen dan dedikasi bersama dalam menjaga warisan wastra Indonesia.
Dia mengatakan, perjalanan Panjang ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Himpunan Wastraprema yang telah menghibahkan 500 koleksi wastra sebagai modal awal berdirinya museum ini.
”Dari sana lahir semangat kolektif untuk merawat kekayaan budaya kita. Pelestarian bukanlah pekerjaan yang selesai dalama satu generasi, melainkan proses panjang yang membutuhkan kolaborasi berkelanjutan agar museum berfungsi sebagai ruang dialog dan pembelajaran masyarakat,” ujar Miftahulloh.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Wastraprema periode( 2023-2027) Sri Sintasari (Neneng) Iskandar mengatakan warisan budaya bernilai seni tinggi adalah mahakarya bangsa yang harus dihargai.
”Karena itu Himpunan Wastraprema berkomitmen meningkatkan citra,pemahaman, dan apresiasi kain tradisional Indonesia agar terus diwariskan kepada generasi penerus,” katanya.
Sri Sintasari (Neneng) Iskandar menambahkan seluruh kain yang dipamerkan merupakan kurasi terbaik dari hibah HWP sejak 1976.
Pada awal pendirian, HWP menghibahkan 500 lembar wastra dari tokoh bangsa seperti dari Ibu Negara Tien Suharto, Ali Sadikin, Go Tik Swan (Panembahan Hardjonegoro), Gusti Putri Mangkunegoro VIII, Lasmidjah Hardi, Herawati Diah dan tokoh tokoh lainnya.
Pada perayaan 25 tahun disusul 200 helai wastra . Kini di tahun emas ke 50, HWP menerima hibah 114 kain ulos dari kolektor Torang Sitorus untuk museum tekstil.

Hibah ulos tersebut diterima Himpunan Wastraprema yang selanjutnya diserahkan kepada Museum Tekstil secara simbolis pada peringatan ulang tahun ke 50 ini.
Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Sri Kusumawati, mengatakan pameran ini sarat nilai edukasi sejarah bagi generasi muda.
Dikemukakan Sri Kusumawati museum tekstil berperan vital menjaga, merawat, mengembangkan, sekaligus memperkenalkan kekayaan wastra Nusantara.
”Kami berharap pameran ini menginspirasi masyarakat mengenal lebih dekat budaya kita dengan ke Museum Tekstil,’’ ujar Sri Kusumawati.
Pameran yang berlangsung hingga 30 Agustus mendatang menampilkan 62 helai wastra pilihan bernilai historis tinggi, 19 wastra legendaris sumbangan pendiri HWP, 31 wastra hibah para donator, serta 12 ulos langka koleksi Torang Sitorus.
Daya Tarik utama pameran adalah umbul umbul Caruban Nagari dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Lambang Kenegaraan kesultanan Cirebon dibuat dengan tehknik batik keris bermotif kaligrafi dan memiliki nilai historis sebagai symbol semangat nasionalisme pribumi di Sunda Kelapa.
Bendera ini adalah bendera pembakar semangat untuk mengusir penjajah yang mencoba menduduki Sunda Kelapa saat itu.Umbul umbul ini sumbangan Gusti Kanjeng Putri Mangkunegaran VIII. Koleksi adiluhung lain seperti Destar Singa Ali juga turut dipamerkan.
Selain pameran, rangkaian 50 tahun HWP menghadirkan Bincang Bincang Wastra pada 4 Juli 2026 yang mengupas sejarah dan filosofi Dwaja Pusaka Caruban Nagari dengan pembicara Budayawan dan Sejarawan Cirebon Astaqim Asteja. Hadir pada Pameran ini para dutabesar negara sahabat diantaranya Duta besar Belanda, Turkey dan Equador.
Himpunan Wastraprema (HWP) merupakan suatu wadah yang beranggotakan para pencinta kain adati tradisi Indonesia yang didirikan dan dilegalisasi tanggal 28 Januari 1976.

Salah satu pendirinya adalah Ir.Safioen yang ketika itu menjabat sebagai Dirjen Tekstil Departemen Perindustrian yang didukung penuh Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta waktu itu.
Gubernur Ali Sadikin menyediakan tempat sebuah museum, yang dikenal dengan Museum Tekstil yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Wastraprema pada tanggal 28 Juni 1976.
Koleksi pertama Museum Tekstil berupa 500 helai lembar kain yang merupakan hibah dari beberapa gubernur pemerintah daerah dan anggota Himpunan Wastraprema.
Misi Himpunan Wastraprema mengangkat citra,pemahaman dan apresiasi terhadap seni budaya kain tradisional Indonesia agar semakin dikenal, diminati, dihayati dan dilestarikan untuk diwariskan ke generasi penerus.
Nama Wastraprema diambil dari Bahasa Sansekerta, Wastra berarti kain dan prema artinya cinta.
Pameran merupakan salah satu sarana untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai wastra nusantara, disamping ceramah, diskusi dan pertemuan periodik. *