Nasional

Kisah Aliana Pogau, Ibu Difabel Korban Ledakan di Intan Jaya: Ini Bukan Kejadian Biasa!

Oleh : Rikard Djegadut - Rabu, 24/06/2026 17:53 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Siang itu, Kamis (18/6/2026), Aliana Pogau menjalani rutinitas yang telah ia lakukan bertahun-tahun. Perempuan penyandang disabilitas tuna wicara itu baru saja pulang dari kebun dengan membawa ubi hasil panennya. Seperti biasa, ia singgah di sebuah mata air di Kampung Danggoa, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, untuk mencuci hasil buminya sebelum pulang ke rumah.

Namun, takdir berkata lain. Di tengah kesunyian kampung yang dikelilingi pegunungan Papua, sebuah ledakan dahsyat tiba-tiba memecah udara. Dalam hitungan detik, suasana damai berubah menjadi kepanikan. Serpihan ledakan menghantam Aliana dan seorang perempuan lainnya, Ottopina Hogajau.

Bagi warga Danggoa, dentuman itu bukan hanya meninggalkan luka fisik. Ia juga menorehkan trauma baru di tengah kehidupan masyarakat sipil yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang konflik.

Berdasarkan laporan masyarakat kepada Human Rights Monitor yang diterima media sebagaimana dikutip BBC Indonesia pada Sabtu (20/6/2026), ledakan terjadi sekitar pukul 13.00 WIT. Warga menduga sumber ledakan berasal dari granat yang dijatuhkan menggunakan pesawat nirawak atau drone.

Akibat insiden tersebut, Aliana mengalami luka serius pada lengan kanannya. Selain melukai warga sipil, ledakan juga merusak bangunan Gereja GKII di Kampung Danggoa.

Terkapar di Samping Tumpukan Ubi

Bagi Jemi Nabelau, putra Aliana, peristiwa itu masih membekas jelas dalam ingatannya. Ia menceritakan, ibunya ditemukan tergeletak di dekat tumpukan ubi yang sedang dicuci. Darah terus mengalir dari lengan kanan yang robek akibat serpihan ledakan.

"Kalau dekat dengan Mama, pasti Mama sudah hancur. Tapi karena ledakannya agak jauh, tetap mengenai Mama," kata Jemi.

Aliana bukan sosok yang akrab dengan konflik. Sejak suaminya meninggal dunia, ia menghabiskan hari-harinya dengan bertani dan mengurus keluarga. Sebagai ibu dari empat anak, kebun menjadi sumber kehidupan yang menopang keluarganya.

Namun kini, perempuan yang sehari-hari hanya mengenal rumah dan ladang itu harus terbaring di ruang perawatan bedah RSUD Nabire setelah dirujuk dari RSUD Sugapa.

Sesaat setelah ledakan terjadi, warga Kampung Danggoa bergerak cepat menyelamatkan Aliana. Tanpa ambulans dan fasilitas evakuasi memadai, masyarakat menggunakan sehelai sarung sebagai tandu darurat. Mereka memikul tubuh Aliana dari lokasi kejadian menuju kendaraan yang kemudian membawanya ke RSUD Sugapa.

Di rumah sakit tersebut, luka Aliana hanya dibalut perban sebelum akhirnya dirujuk ke Nabire pada Jumat (19/6/2026). Menurut Jemi, sejak pertama kali dirawat hingga tiba di Nabire, luka ibunya belum mendapatkan tindakan operasi.

"Sejak kemarin luka itu hanya diikat dan dibiarkan begitu saja sampai sekarang," ujarnya.

Kondisi itu membuat keluarga semakin cemas. Mereka khawatir luka yang dialami Aliana akan mengalami infeksi apabila tidak segera ditangani secara maksimal.

Trauma yang Belum Sembuh

Kekhawatiran keluarga bukan tanpa alasan. Satu bulan sebelumnya, keluarga besar Aliana telah kehilangan anggota keluarga akibat insiden serupa. Adik Aliana menjadi korban ledakan bom di Gereja Stasi Santo Paulus Nabuni, Kampung Mbamogo, Distrik Agisiga, pada 17 Mei 2026.

Saat itu korban sempat dirujuk ke Timika untuk mendapatkan perawatan medis. Namun nyawanya tidak tertolong. Peristiwa tersebut meninggalkan luka batin yang belum sembuh. Kini, keluarga kembali menghadapi situasi yang nyaris sama.

"Kami sangat takut kondisi Mama sama seperti adiknya kemarin," kata Jemi dengan suara bergetar.

Di ruang perawatan, keluarga bergantian berjaga. Harapan mereka sederhana: Aliana dapat segera menjalani tindakan medis dan kembali berkumpul bersama anak-anaknya.

Di tengah kecemasan itu, Jemi menyampaikan satu pesan yang terus ia ulang. Menurutnya, luka yang dialami sang ibu tidak bisa dipandang sebagai kecelakaan biasa.

"Ini bukan karena tabrakan, bukan jatuh. Ini karena ledakan bom atau granat. Jadi kami minta penanganan yang semaksimal mungkin," tegasnya.

Ia juga mendesak pemerintah daerah dan DPRD Intan Jaya untuk memberikan perhatian serius terhadap keselamatan warga sipil yang terus menjadi korban di tengah konflik berkepanjangan.

"Kami minta ada tindakan nyata di lapangan. Sudah berapa banyak warga kampung yang menjadi korban? Kami tidak mau masalah ini hanya beredar di media sosial lalu dilupakan," ujarnya.

Di Kampung Danggoa, kehidupan perlahan kembali berjalan. Namun suara ledakan yang mengguncang siang itu masih membekas di benak warga.

Bagi keluarga Aliana Pogau, tragedi tersebut bukan sekadar catatan insiden keamanan. Ia adalah kisah seorang ibu petani, penyandang disabilitas, yang sedang mencuci ubi hasil kebunnya ketika ledakan tiba-tiba merenggut rasa aman yang selama ini mereka miliki.

Dan hingga kini, keluarga hanya bisa berharap agar luka yang diderita Aliana tidak berakhir seperti tragedi yang lebih dahulu merenggut nyawa adiknya.

Artikel Lainnya