Opini

MATAHARI TIDAK BERDEBAT DENGAN KEGELAPAN

Oleh : luska - Senin, 29/06/2026 10:42 WIB


Oleh: MJP Hutagaol

Setiap pagi matahari kembali terbit.

Bukan karena dunia telah adil.Bukan karena manusia telah bijaksana.Dan bukan karena bumi telah bebas dari pertikaian.

Ia terbit karena kehidupan tidak pernah menyerahkan masa depan kepada keputusasaan.

Hari-hari ini Nusantara berjalan di tengah jalan yang tidak ringan.

Suara semakin banyak, tetapi kejernihan semakin langka.Informasi mengalir deras, tetapi kebijaksanaan tidak selalu ikut datang.Orang berlomba menjadi terlihat, namun perlahan kehilangan kemampuan untuk melihat.

Kita menyaksikan paradoks zaman.

Teknologi semakin canggih, tetapi manusia semakin mudah marah.Jaringan semakin luas, tetapi kesepian semakin dalam.Demokrasi semakin ramai, tetapi ruang mendengar semakin sempit.

Dan dunia—yang dahulu dibayangkan sebagai rumah bersama—perlahan berubah menjadi arena saling membuktikan siapa yang paling kuat.

Di tengah semua itu, Nusantara memiliki warisan yang sering terlupakan.

Leluhur tidak meninggalkan gedung tertinggi.

Mereka meninggalkan cara memandang hidup.

Bahwa gunung berdiri tanpa merendahkan lembah.Bahwa sungai bergerak tanpa meminum airnya sendiri.Bahwa pohon yang paling kokoh justru memberi tempat berteduh.Bahwa kekuatan tertinggi bukan kemampuan menguasai, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan.

Tetapi manusia modern sering lupa.

Kita ingin menguasai alam, sebelum menguasai diri.Kita ingin mengatur dunia, sebelum menata batin.Kita ingin memenangkan perdebatan, tetapi kehilangan kemampuan membangun peradaban.

Padahal sejarah diam-diam memberi pelajaran.

Banyak kerajaan runtuh bukan karena musuh di luar, tetapi karena kehilangan pusat di dalam.

Banyak bangsa melemah bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kehilangan arah.

Dan banyak manusia jatuh bukan karena gagal, melainkan karena terlalu yakin bahwa dirinya tidak mungkin salah.

Karena itu pagi bukan pergantian jam.

Pagi adalah undangan.

Untuk kembali membedakan mana yang penting dan mana yang hanya gaduh.

Untuk mengingat bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan melahirkan ketakutan.Ilmu tanpa nurani melahirkan kesombongan.Kemajuan tanpa kemanusiaan melahirkan kehampaan.

Dunia hari ini tidak sedang kekurangan orang pintar.

Dunia sedang menunggu lebih banyak manusia yang jernih.

Maka jika hari ini matahari masih datang tanpa meminta tepuk tangan,

mungkin itu pelajaran tertinggi:

bahwa cahaya tidak lahir untuk mengalahkan gelap,

tetapi untuk membuat manusia kembali melihat.

Rahayu Sagung Dumadi.

Dari tanah yang mengajarkan harmoni,untuk Nusantara,untuk dunia,agar manusia kembali menjadi penjaga kehidupan.

— MJP Hutagaol —

Artikel Lainnya