Jakarta, INDONEWS.ID – Kritik terhadap pidato berbahasa Arab yang disampaikan Rais Aam PBNU, Kiai Miftahul Akhyar, saat penutupan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di Bangkalan, Jawa Timur menuai sorotan.
Salah satu kritik pedas disampaikan oleh HRM Khalilur R Abdullah Sahlawy yang mengaku sebagai warga NU dan kiai kampung. Dalam catatan yang beredar di media sosial, ia menilai pidato yang disiarkan melalui kanal YouTube NU Online itu mengandung dugaan pengambilan materi tanpa menyebut sumber serta sejumlah kesalahan dalam pembacaan teks Arab.
Menurut Khalilur, isi pidato yang disampaikan Kiai Miftahul Akhyar, khususnya bagian yang mengutip hadis mengenai kemakmuran sebuah negeri meski dipimpin non-Muslim selama terbebas dari kezaliman, merupakan kutipan dari kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali.
Ia menyoroti tidak adanya penyebutan sumber kitab maupun nama pengarang selama pidato berlangsung sekitar 16 menit. Atas dasar itu, Khalilur mempertanyakan praktik tersebut dan menyebutnya dapat dikategorikan sebagai sariqah atau plagiasi dalam perspektif akademik modern.
Selain itu, Khalilur juga mengkritik pelafalan bahasa Arab yang dibacakan Rais Aam PBNU. Salah satu yang disorot ialah penyebutan tahun Hijriah yang dinilai keliru sehingga secara harfiah bermakna "14.048 Hijriah", bukan 1448 Hijriah sebagaimana dimaksud.
Ia juga mengklaim menemukan sedikitnya enam kesalahan dalam pembacaan teks, terdiri dari empat kesalahan harakat dan dua kesalahan lafal. Kesalahan-kesalahan tersebut, menurutnya, muncul pada sejumlah frasa yang berkaitan dengan istilah usul fikih, kepemimpinan, hingga kutipan dari kitab Nasihatul Muluk.
Dalam catatannya, Khalilur menyebut beberapa frasa yang menurutnya dibaca tidak sesuai dengan teks asli, seperti penggunaan "badzlil was`i" yang disebut seharusnya "badzlul wus`i", serta sejumlah kesalahan lain pada struktur kalimat dan pelafalan kosakata Arab.
"Menurut saya, kekeliruan-kekeliruan semacam ini tidak seharusnya muncul dari seorang Rais Aam PBNU, terlebih ketika yang dibaca hanyalah sebuah teks yang telah tersedia," tulis Khalilur dalam pernyataannya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Kiai Miftahul Akhyar maupun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terkait kritik dan tuduhan yang disampaikan tersebut.
Video pidato yang menjadi sorotan itu masih dapat disaksikan melalui siaran langsung penutupan Munas-Konbes NU yang diunggah di kanal YouTube NU Online.