Opini

ILMU MEMBAGI: GEOSTRATEGI JIWA DAN MASA DEPAN PERADABAN

Oleh : luska - Selasa, 30/06/2026 09:54 WIB


Ketika Dunia Terlalu Pandai Mengalikan, Tetapi Lupa Mengasihi

Oleh: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol29 Juni 2026

Ada sesuatu yang diam-diam sedang berubah di dunia.

Bukan semata politik.

Bukan semata ekonomi.

Bukan sekadar pergantian kekuasaan.

Tetapi cara manusia memahami arti hidup.

Dunia modern bergerak dengan satu keyakinan besar:

lebih banyak berarti lebih baik.

Pertumbuhan harus ditambah.

Produksi harus diperbesar.

Pasar harus diperluas.

Pengaruh harus dikalikan.

Keuntungan harus dilipatgandakan.

Dan perlahan, tanpa disadari—

manusia mulai mengubah kehidupan menjadi sekadar perhitungan.

Segala sesuatu diberi angka.

Segala sesuatu diberi harga.

Segala sesuatu diukur manfaatnya.

Yang tidak menghasilkan dianggap beban.

Yang tidak menguntungkan dianggap tertinggal.

Dan pada titik tertentu—

manusia sendiri mulai kehilangan nilainya sebagai manusia.

Ia menjadi data.

Menjadi pasar.

Menjadi suara.

Menjadi statistik.

Di sinilah sesungguhnya krisis peradaban dimulai.

Bukan ketika manusia kehilangan kekayaan.

Tetapi ketika manusia kehilangan rasa.

Para leluhur Nusantara tidak banyak meninggalkan teori.

Mereka meninggalkan laku.

Mereka tidak membangun menara konsep.

Mereka menanam cara hidup.

Dan hampir semua warisan kebijaksanaan itu seolah menuju satu pesan yang sama:

manusia tidak hancur karena kekurangan—

tetapi karena kehilangan batas.

Jawa mengingatkan:

eling lan waspada.

Dan nrima ing pandum bukan berarti menyerah kepada nasib.

Ia adalah disiplin batin—

agar manusia tidak diperbudak oleh keinginannya sendiri.

Sunda mengajarkan:

silih asih, silih asah, silih asuh.

Kasih didahulukan sebelum kecerdasan.

Batak menjaga martabat agar kemuliaan tidak berubah menjadi kesombongan.

Bugis menjaga siri’.

Bali menjaga keseimbangan.

Dayak menjaga batas terhadap alam.

Melayu menjaga adab agar kuasa tidak kehilangan arah.

Mereka berbeda bahasa.

Tetapi seperti menyampaikan satu hukum yang sama:

apa yang tidak dibatasi oleh hati—

akan dibatasi oleh sejarah.

Saya mencoba membaca dunia dengan ilmu yang paling sederhana.

Ilmu berhitung.

Tambah.

Kurang.

Kali.

Bagi.

Ilmu tambah diperlukan.

Tanpa pertumbuhan tidak ada kemajuan.

Tetapi tambah yang kehilangan arah berubah menjadi kerakusan.

Lalu datang ilmu kali.

Teknologi mengalikan kemampuan.

Modal mengalikan kekuatan.

Media mengalikan pengaruh.

Politik mengalikan dukungan.

Tetapi diam-diam—

ketimpangan ikut berlipat.

Korupsi ikut berlipat.

Jarak antara rakyat dan harapan ikut berlipat.

Dan yang paling berbahaya—

manusia mulai mengalikan dirinya sendiri.

Yang lemah dijadikan angka.

Yang kecil dijadikan alat.

Yang miskin dijadikan objek.

Di titik itulah peradaban kehilangan jiwanya.

Kita hidup di zaman yang paradoks.

Kekayaan meningkat—

tetapi kecemasan ikut tumbuh.

Informasi melimpah—

tetapi kebijaksanaan terasa langka.

Hukum semakin lengkap—

tetapi sebagian orang merasa keadilan semakin jauh.

Belum tentu selalu demikian dalam kenyataan.

Namun sejarah mengajarkan satu hal:

persepsi yang dibiarkan terlalu lama—

dapat berubah menjadi kenyataan politik.

Karena negara bukan terutama wilayah.

Bukan gedung.

Bukan angka pertumbuhan.

Negara adalah kesediaan jutaan orang untuk tetap percaya—

bahwa esok masih layak diperjuangkan.

Dan kepercayaan tidak lahir dari rasa takut.

Kepercayaan lahir dari rasa diperlakukan sebagai manusia.

Di titik ini saya sampai pada satu renungan.

Ilmu tertinggi ternyata bukan tambah.

Bukan kali.

Bahkan bukan kurang.

Ilmu tertinggi adalah:

membagi.

Karena membagi adalah keputusan batin—

bahwa kehidupan tidak boleh berhenti pada diri sendiri.

Membagi kesempatan.

Membagi perlindungan.

Membagi ilmu.

Membagi martabat.

Membagi harapan.

Dan ketika membagi dilakukan tanpa menghitung kehilangan—

ia berubah menjadi sesuatu yang lebih tinggi.

Kasih.

Kasih bukan kelembutan.

Kasih adalah keberanian melepaskan sebagian diri—

agar kehidupan tetap berjalan.

Kasih adalah geostrategi tertua umat manusia.

Karena tidak ada bangsa yang runtuh karena terlalu banyak kasih.

Tetapi banyak bangsa melemah—

karena terlalu lama memuliakan keserakahan.

Semakin saya renungkan—

mungkin para leluhur memahami sesuatu yang sangat sunyi:

bangsa tidak pertama-tama runtuh karena miskin.

Bangsa mulai melemah ketika kehilangan kepercayaan.

Dan kepercayaan lahir ketika manusia merasa:

dirinya dilihat.

didengar.

diperlakukan adil.

dan masih memiliki tempat dalam masa depan.

Saat pemimpin membagi keadilan—

lahir legitimasi.

Saat orang berilmu membagi pengetahuan—

lahir peradaban.

Saat negara membagi rasa aman—

lahir kesetiaan.

Saat manusia membagi tanpa menghitung kembali—

lahirlah kasih.

Pada akhirnya waktu akan menyamakan semuanya.

Pangkat selesai.

Jabatan selesai.

Kekayaan berpindah.

Nama perlahan memudar.

Tetapi ada satu pertanyaan yang akan tinggal:

selama hidup—

apakah kita hanya menambah untuk diri sendiri,

mengalikan untuk kelompok sendiri,

atau membagi agar lebih banyak orang tetap memiliki harapan.

Karena matahari tidak pernah besar karena menyimpan cahayanya.

Ia besar—

karena membagikannya setiap hari.

Dan mungkin manusia pun demikian.

Tidak dikenang karena yang berhasil dikumpulkan.

Tetapi karena yang berhasil dialirkan.

Catatan Penutup

Ilmu tambah melahirkan pertumbuhan.Ilmu kali melahirkan kekuatan.Ilmu kurang melahirkan kebijaksanaan.Ilmu bagi melahirkan kasih.

Dan kasih—

adalah satu-satunya kekuatan yang ketika dibagikan tidak pernah berkurang.

Rahayu.

Artikel Lainnya