Oleh. Muhadam (Ketua Harian MIPI)
Korupsi bukan hanya mendekati tubir. Ia bahkan tak tersentuh dikedalaman. Mungkin itu pula, mengapa publik cenderung permisif dengan kanker sosial itu. Di tiap kali pesta demokrasi mereka mengais rezeki. Di projek strategis nasional mereka mendulang emas.
Celios (2026) menunjukkan bagaimana alasan stunting tak reliabel dengan realitas makan bergizi. Daerah dengan stunting tinggi tak punya penampang SPPG yang sepadan. Sebaliknya, daerah rendah stunting justru ditopang oleh ribuan SPPG.
Andai tujuan MBG mengurangi beban domestik, sejogjanya tiap keluarga bertambah uang saku, bukan depresiasi. Tabungan terkuras, daya beli menurun disebabkan harga menanjak. Nilai rupiah hampir tak berwibawa kecuali alat tukar di sekitar kompleks.
Argumen menggerakkan rantai pasok pun tak nampak dipermukaan. Petani, peternak, dan nelayan tak kunjung merasa diborong produknya. UMKM lokal tak merasa bergetar akibat sentimen bahan baku projek nasional.
Tujuan mulia presiden dibengkokkan di tengah jalan. Di tengah kecemasan PHK ribuan pegawai kontrak di Ternate, kita menemukan hidup mewah segelintir mafia MBG. Ke atas mereka buat laporan indah. Di pelosok mereka menipu dengan kelas kosong.
Berbohong telah menjadi semacam hak prerogatif para elite. Ibarat pembuat roti, apa saja boleh diletakkan dipermukaan sepanjang menarik pelanggan. Entah racun atau madu. Kebohongan dianggap jamak dengan alasan kita hidup di era _post truth._
Kejujuran tak lagi berharga. Ia hanya kebodohan di tengah pendengung di dunia maya. Dalam realitas politik tak ada orang jujur yang bisa bertahan lama kata Socrates. Mereka terisolasi seperti pesakitan lepra yang tak berguna. Berani jujur, penjara.
Kaum pandir mengendalikan arena politik. 37% anggota parlemen dikuasai politisi tak jelas ijazahnya. Sama gelapnya membuktikan keaslian ijazah mantan petinggi di negeri ini. Semua sanggahan berguguran hingga ijazah dinyatakan hilang di Kantor Polisi.
Kita sedang menghadapi kenyataan dimana keberhargaan nilai intrinsik tak punya tempat. Ruang-ruang pemerintahan kaya akan sebaliknya. Tempat dimana manusia tanpa integritas melenggang. Entah perias artis, tukang ojek, hingga pemuas birahi.
Pemerintahan adalah produk masyarakat. Kita semestinya berharap banyak pada masyarakat. Bukan pada penguasa, apalagi pengusaha. Sebagai produsen kita paling bertanggungjawab atas pilihan hari ini. Suka atau tidak, mau tidak mau.
Daya kritis _pressure group_ kian menipis dan meredup. Sebagian dikanalisasi kedalam barak BUMN. Sisanya diselesaikan dipinggir jalan lewat transaksi _cash and carry._ Tiba-tiba peluh mahasiswa kering dan balik kandang.
Daya sambung _interest group_ melemah dan diam. Yang dulu merah menyala kini tinggal asap. Yang dulu putih suci kini tak bergeming. Semua ada dalam belanga koalisi. Maklum, nila setetes dapat merusak susu sebelanga.
Patikel terkecil mengambil jalan lisan maupun tulisan. Mereka dibiarkan agar demokrasi tampak baik-baik saja. Tapi publik seakan berhadapan dengan Benteng Takeshi. Anjing boleh menggonggong, kafilah tetap berlalu.
Akhirnya, kita perlu terus membangun kesadaran. Kesadaran kolektif tentang tanggungjawab perubahan. Bukan semata untuk kita, tapi untuk peradaban. Bila ingin menghindari tuntutan moral dan spiritual dimasa depan, maka sebagai produsen pemerintahan kita perlu gerakan moral perubahan.
