Nasional

Rabi Israel Serukan Aksi Protes ke Gereja Inggris yang Bahas Dugaan Genosida di Gaza

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 10/07/2026 21:43 WIB


 

Jakarta, INDONEWS.ID – Rabi Kepala Yahudi Inggris, Sir Ephraim Mirvis, menyerukan aksi protes terhadap Gereja Inggris menjelang pembahasan sebuah mosi yang mengajak jemaat mempelajari dokumen mengenai penderitaan warga Palestina di Jalur Gaza. Mirvis menilai langkah tersebut berpotensi merusak hubungan antara komunitas Yahudi dan Kristen di Inggris.

Mengutip laporan The Telegraph yang dikutip Middle East Monitor, Mirvis memperingatkan Sinode Umum Gereja Inggris agar tidak melanjutkan pembahasan dokumen berjudul A Moment of Truth: Faith in a Time of Genocide atau dikenal sebagai Kairos II.

Sinode Umum, yang merupakan badan legislatif Church of England, dijadwalkan membahas mosi tersebut dalam pertemuan tahunan di York. Mosi itu tidak meminta gereja mengadopsi isi dokumen, melainkan mengajak anggotanya untuk mempelajari dan berdialog mengenai pengalaman komunitas Kristen Palestina di tengah perang di Jalur Gaza.

Dokumen Kairos II diterbitkan pada 14 November 2025 oleh Kairos Palestine. Dalam pembukaannya, para penyusunnya menyatakan bahwa umat Kristen Palestina menyusun dokumen tersebut setelah merenungkan penderitaan rakyat Palestina di bawah pendudukan.

Dokumen itu menyebut situasi yang terjadi di Gaza sebagai "masa genosida, pembersihan etnis, dan pengusiran paksa yang berlangsung di depan mata dunia." Selain itu, Israel digambarkan sebagai "entitas kolonial, pemukim, dan eksklusif", sementara warga Palestina disebut sebagai penduduk asli wilayah tersebut.

Kairos II juga menyerukan gereja-gereja di seluruh dunia untuk membedakan dialog dengan komunitas Yahudi dan dialog mengenai Zionisme. Dokumen tersebut menyatakan bahwa perang di Gaza merupakan kelanjutan dari proyek Zionis untuk menguasai seluruh wilayah Palestina.

Menanggapi hal itu, Mirvis menyebut isi Kairos II sebagai sesuatu yang "sangat mengkhawatirkan". Menurutnya, dokumen tersebut menyederhanakan persoalan politik dan sejarah yang kompleks menjadi narasi sepihak serta mengabaikan pengalaman historis bangsa Yahudi.

Ia juga menilai dokumen tersebut lebih mencerminkan aktivisme politik yang dibungkus dengan pendekatan teologis daripada upaya membangun dialog antarumat beragama.

Pernyataan Mirvis memicu perhatian karena disampaikan menjelang pembahasan resmi di Sinode Umum Gereja Inggris, yang selama ini menjadi forum pengambilan keputusan tertinggi dalam berbagai kebijakan gerejawi.

Hingga berita ini ditulis, Gereja Inggris belum mengumumkan keputusan akhir terkait mosi tersebut. Sementara itu, dokumen Kairos II terus memicu perdebatan di kalangan organisasi keagamaan dan pemerhati konflik Timur Tengah mengenai cara gereja menyikapi situasi kemanusiaan yang terjadi di Jalur Gaza.

Artikel Lainnya