Nasional

Houthi Ancam Hancurkan Fasilitas Minyak dan Infrastruktur Vital Arab Saudi

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 17/07/2026 10:48 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Kelompok Houthi mengancam akan menyerang fasilitas minyak dan infrastruktur vital Arab Saudi jika Riyadh terlibat dalam serangan militer terhadap Yaman.

Ancaman tersebut disampaikan pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, dalam pidato mingguan yang disiarkan melalui stasiun televisi milik kelompok tersebut, Al-Masirah, Kamis.

"Seluruh fasilitas minyak dan instalasi vital Saudi akan menjadi sasaran rudal dan pesawat nirawak (drone) kami jika Riyadh terlibat" dalam serangan terhadap Yaman, kata Abdul Malik al-Houthi.

Ia juga memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur Yaman akan dibalas dengan serangan terhadap fasilitas serupa di Arab Saudi.

"Persamaannya adalah (...) bandara dibalas bandara, pelabuhan dibalas pelabuhan, dan blokade dibalas blokade," tegasnya.

Houthi sebelumnya menembakkan rudal ke wilayah Arab Saudi pada Senin. Serangan itu dilakukan setelah pasukan pemerintah Yaman melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa, yang mengakhiri ketenangan relatif yang telah berlangsung selama beberapa tahun.

Kelompok Houthi menuduh Arab Saudi berada di balik serangan terhadap bandara tersebut. Namun, Riyadh belum memberikan komentar terkait tuduhan itu.

Dalam pidatonya, Abdul Malik menegaskan bahwa menyerah bukanlah pilihan bagi kelompoknya. Ia juga memperingatkan bahwa eskalasi penuh dari Arab Saudi akan dibalas dengan tindakan serupa.

Ia mengeklaim Arab Saudi menyerang Bandara Internasional Sanaa karena Houthi menolak pencabutan blokade terhadap Yaman. Menurutnya, serangan terhadap bandara tersebut akan dibalas dengan serangan terhadap bandara di Riyadh.

"Persamaan yang sebenarnya adalah Bandara Internasional Sanaa dibalas dengan bandara Riyadh," ujarnya.

Sementara itu, Military Watch melaporkan Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi melancarkan serangan rudal jelajah terhadap Bandara Internasional Sanaa. Serangan tersebut disebut bertujuan melumpuhkan landasan pacu bandara, tetapi dilaporkan tidak mencapai hasil yang diharapkan.

Sekitar 10 rudal jelajah Storm Shadow yang ditembakkan dari pesawat Eurofighter Saudi disebut digunakan dalam operasi tersebut. Namun, serangan itu dilaporkan gagal menimbulkan kerusakan fatal yang cukup untuk menghentikan operasional bandara.

Storm Shadow merupakan rudal jelajah yang dikembangkan Inggris dan Prancis untuk menyerang target bernilai tinggi secara presisi, termasuk infrastruktur yang diperkuat, pusat komando, bunker, dan fasilitas lapangan terbang.

Serangan yang melibatkan sekitar 10 rudal tersebut diperkirakan menghabiskan amunisi berpemandu presisi senilai sekitar 20 juta dolar AS.

Menurut laporan tersebut, pesawat Saudi meluncurkan rudal dari jarak aman atau stand-off range. Taktik itu dapat mengurangi risiko terhadap pesawat penyerang, sekaligus menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap kemampuan pertahanan udara Yaman.

Kemampuan pertahanan udara Yaman disebut terus berkembang selama konflik berlangsung. Sistem tersebut dilaporkan telah memberikan tantangan bagi pesawat tempur dan drone yang dioperasikan Amerika Serikat serta negara-negara mitranya di kawasan.

Konflik antara Arab Saudi dan Houthi telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Pada 26 Maret 2015, Raja Salman bin Abdulaziz memerintahkan dimulainya operasi militer terhadap Houthi setelah kelompok tersebut menguasai Sanaa dan bergerak menuju Aden.

Operasi militer Saudi yang didukung sejumlah negara Teluk itu bertujuan mendukung pemerintahan Presiden Yaman saat itu, Abd Rabbuh Mansour Hadi. Namun, operasi tersebut gagal memukul mundur Houthi yang hingga kini masih menguasai sebagian wilayah Yaman, termasuk Sanaa.

Konflik tersebut juga memicu krisis kemanusiaan besar di Yaman. Arab Saudi dan Houthi kemudian menyepakati gencatan senjata pada 2022, yang meredakan sebagian besar pertempuran langsung di antara kedua pihak.

Ketegangan kembali meningkat setelah Houthi melancarkan serangkaian serangan di Laut Merah dan mengancam menutup jalur pelayaran tersebut. Situasi semakin panas setelah konflik regional melibatkan Amerika Serikat, Israel, Iran, dan Yaman.

Serangan terbaru terhadap Bandara Internasional Sanaa kini kembali memicu ancaman pembalasan dari Houthi. Jika Arab Saudi benar-benar terlibat lebih jauh dalam operasi militer terhadap Yaman, kelompok tersebut mengancam akan memperluas serangan ke fasilitas minyak dan infrastruktur vital di wilayah Saudi.*

Artikel Lainnya