Oleh : JIMMY H SIAHAAN
Vivat Academia adalah penggalan lirik dari lagu akademis populer berjudul Gaudeamus Igitur. Lagu Latin klasik ini sering dinyanyikan saat upacara wisuda
dan penyambutan mahasiswa baru untuk merayakan semangat belajar.
Denzel Washington menyampaikan pidato kelulusannya yang terkenal "Jatuh ke Depan" di Universitas Pennsylvania pada tanggal 16 Mei 2011.
Dalam pidato tersebut, ia mendorong para lulusan untuk menerima kegagalan, mengambil risiko, dan mengutamakan iman mereka.
Washington memulai dengan mencatat bahwa jika ia akan jatuh, ia ingin jatuh ke depan, bukan ke belakang, sehingga ia dapat melihat apa yang ditabraknya.
Ia mengutip Thomas Edison, yang melakukan 1000 percobaan yang gagal sebelum menciptakan bola lampu. "Setiap percobaan yang gagal adalah satu langkah lebih dekat menuju kesuksesan," kata Washington.
Mengacu pada kehidupannya sendiri, Washington menceritakan kisah tentang bagaimana, di awal kariernya, ia memiliki IPK 1,7 di Universitas Fordham dan putus kuliah.
Ia akhirnya menemukan jalannya ke dunia akting, tetapi kegagalan mengajarkan pelajaran penting kepadanya: "Untuk mendapatkan sesuatu yang belum pernah kamu miliki, kamu harus melakukan sesuatu yang belum pernah kamu lakukan."
Kebebasan Akademik Rendah
Indonesia berada dalam jajaran negara dengan persentase kebebasan akademik terendah di dunia versi Academic Freedom Index (AFI) tahun 2025. Dikutip dari laporan Pembaruan Indeks Kebebasan Akademik tahun 2026 yang dilakukan V-Dem Institute, Kamis (16/7/2026),
Indonesia menduduki persentase kebebasan akademik di angka 30 hingga 40 persen.
Dalam laporan tersebut, Indonesia persentase Indonesia masih di bawah beberapa negara yang juga mengalami penurunan sepanjang 2015 hingga 2025.
Jalur SNBP 2026 Sediakan kumpulan data paling komprehensif tentang subjek kebebasan akademik.Penurunan yang paling luas terjadi pada dimensi yang berkaitan dengan kebebasan individu serta integritas kampus.
Adapun AFI ini mencakup penilaian kebebasan untuk melakukan penelitian dan mengajar, kebebasan dalam pertukaran serta penyebarluasan hasil akademik. Serta kebebasan berekspresi dalam bidang akademik dan budaya.
Didasarkan pada penilaian oleh 2.357 pakar negara di seluruh dunia, kuesioner standar, dan model statistik yang mapan, yang diimplementasikan dan diadaptasi oleh proyek V-Dem .
Indeks Kebebasan Akademik menggunakan metode model pengukuran Bayesian untuk agregasi.
Data indeks ini tidak hanya memberikan apa yang disebut estimasi titik. Tetapi juga secara transparan melaporkan ketidakpastian pengukuran dalam penilaian.
Group Diskusi Alternatif
Sebelum kemerdekaan ternyata kaum pelajar telah membangun group diskusi yang merupakan cikal bakal kemerdekaan dan peristiwa perubahan di dalam kekuasaan.
Group Diskusi, Studie Club yang umum terjadi di kota besar dan dalam kenyataan tumbuh dan berkembangan dalam setiap generasi maupun zaman.
Dari Dua Orasi
Disamping itu, ada dalam pidato ilmiah diluar kampus tentang mengenai Sutan Sjahrir, dari Y. B Mangunwijaya.
Pertama dalam judul, Manusia, Guru, Negarawan Sutan Sjahrir dan Relevansinya Kini dan Hari Mendatang.
Ada Orasi Ilmiah Angkatan II Di Sekolah Ilmu Sosial, 5 Agustus 1988, Bentara Budaya, Jakarta,.
Dalam bulan ini kita memperingati lagi Hari Proklamasi 17 Agustus 1945. Maka perkenankanlah saya, dalam kesempatan pembukaan tahun pengajaran Sekolah Ilmu Sosial yang sangat saya hargai ini, dan dalam kalangan para undangan yang sangat terpilih dan budiwati budiwan, mengajak Anda mengenang bersama seorang nakhoda Republik Indonesia kita pada tahun-tahun paling awal, yang berkat kecerdasan analisis dan praksis politik tingginya, namun terutama berkat kemuliaan sikapnya.
Tanpa berlebihan boleh dikatakan berjasa menyelamatkan Soekarno-Hatta dalam kepemimpinan bangsanya yang sedang bergelora-revolusi, dan dari segi lain, memenangkan seluruh perang diplomasi karena berhasil memikat simpati dunia internasional dan memojokkan Belanda kolonial waktu itu.
Namanya, yang (dalam iklim "kemarau panjang" sejak tahun 50-an sampai sekarang sudah Anda kenal sifat-sifatnya), sengaja atau tidak sengaja dibuat dilupakan.
Selanjutnya dalam orasi yang kedua berjudul Sutan Sjahrir: Etos Politik dan Jiwa Klasik, Orasi mengenang Sutan Sjahrir, 8 April 2006, TIM, Jakarta.
Setelah Jepang menyerah kalah Sjahrir mencatat dengan prihatin bahwa para pemuda terjebak di antara sikap nekad di satu pihak dan keragu-raguan di pihak lainnya. Semboyan “Merdeka atau Mati” ternyata dapat menjadi perangkap kejiwaan.
Karena, selagi menyaksikan kemerdekaan belum sepenuhnya terwujud sedangkan kesempatan untuk mati belum juga tiba, maka para pemuda itu terombang-ambing dalam kebimbangan yang tak menentu.
Ini semua terjadi karena, menurut Sjahrir, selama Jepang berkuasa di Indonesia, para pemuda kita hanya dilatih untuk berbaris dan berkelahi, tetapi tak pernah dilatih untuk memimpin.
Baik totalitarianisme mau pun feodalisme mempunyai kesamaan watak dalam membunuh kebebasan perorangan yang pada akhirnya membuat manusia tidak lebih dari budak kekuasaan.
