Dari Majapahit, Bung Karno, hingga Indonesia Masa Kini
Oleh: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
I. Pendahuluan
Sejarah tidak pernah sekadar menceritakan masa lalu. Sejarah adalah cermin yang memantulkan nilai, karakter, dan kebijaksanaan yang menentukan bangkit atau runtuhnya sebuah peradaban. Di dalamnya terdapat kisah tentang kemenangan dan kekalahan, kesetiaan dan pengkhianatan, persatuan dan perpecahan, yang terus berulang dalam bentuk berbeda pada setiap zaman.
Salah satu tokoh yang hingga kini masih memunculkan beragam penafsiran adalah Rangga Lawe dari Tuban. Dalam beberapa sumber sejarah, ia dicatat sebagai tokoh yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Raden Wijaya pada masa awal berdirinya Majapahit.¹ Namun di sisi lain, masyarakat Tuban mengenangnya sebagai seorang ksatria yang menjunjung tinggi kehormatan, keberanian, dan harga diri.
Perbedaan cara pandang tersebut justru menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu dapat dibaca secara hitam dan putih. Setiap peristiwa memiliki latar belakang, konteks, dan dinamika politik yang harus dipahami secara utuh. Karena itu, membaca sejarah bukan untuk mencari siapa yang harus dipuja atau disalahkan, melainkan untuk menemukan hikmah yang dapat menjadi bekal bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Rangga Lawe bukanlah tokoh biasa. Bersama ayahnya, Arya Wiraraja, ia menjadi bagian penting dari perjuangan Raden Wijaya dalam mendirikan Majapahit pada tahun 1293.² Berdirinya kerajaan besar tersebut bukanlah hasil perjuangan satu orang, melainkan buah pengorbanan banyak tokoh yang memiliki keberanian, kecerdasan, dan kesetiaan terhadap cita-cita bersama.
Namun sejarah juga memperlihatkan kenyataan yang berulang hingga hari ini.
Perjuangan merebut kemenangan sering kali lebih mudah daripada menjaga persatuan setelah kemenangan diraih.
Di sinilah letak nilai universal kisah Rangga Lawe. Persoalannya bukan semata-mata apakah ia benar atau salah menurut perspektif sejarah, melainkan bagaimana sebuah bangsa mengelola perbedaan pandangan di antara mereka yang pernah berjuang bersama. Sebab, dalam banyak peradaban, ancaman terbesar sering kali muncul bukan ketika menghadapi musuh dari luar, melainkan ketika perbedaan di antara sesama pejuang berubah menjadi perpecahan.
Majapahit pernah mengalaminya.
Kerajaan-kerajaan besar di dunia pernah mengalaminya.
Demikian pula perjalanan Republik Indonesia.
Rumah H.O.S. Tjokroaminoto pernah menjadi tempat belajar tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Musso, dan S.M. Kartosuwiryo. Mereka sama-sama tumbuh dalam semangat melawan penjajahan, tetapi kemudian memilih jalan perjuangan yang berbeda. Soekarno membangun Republik Indonesia berdasarkan Pancasila, Musso memilih jalan revolusi komunis, sedangkan Kartosuwiryo mendirikan Negara Islam Indonesia. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa guru yang sama tidak selalu melahirkan pilihan sejarah yang sama.
Tan Malaka pun merupakan contoh penting. Sebagai salah satu pemikir revolusioner Indonesia melalui karya monumentalnya Madilog, ia memberikan sumbangan besar terhadap tradisi berpikir kritis bangsa. Namun dalam perjalanan sejarah, perbedaan strategi dan pandangan politik membuat hubungan di antara sesama pejuang kemerdekaan menjadi kompleks. Sejarah akhirnya memperlihatkan bahwa kesamaan cita-cita tidak selalu berarti kesamaan jalan.
Pelajaran serupa dapat ditemukan di berbagai belahan dunia. Julius Caesar dan Brutus di Romawi, Mahatma Gandhi dan Muhammad Ali Jinnah di India, Lenin, Trotsky, dan Stalin di Rusia. Mereka pernah berada dalam pusaran perjuangan yang sama, tetapi kemudian menempuh jalan sejarah yang berbeda.
Dengan demikian, persoalan terbesar sebuah bangsa bukanlah munculnya perbedaan pandangan. Perbedaan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi dan peradaban. Yang menentukan masa depan sebuah bangsa adalah kemampuan para pemimpinnya mengelola perbedaan tersebut agar tidak berubah menjadi konflik yang melemahkan negara.
Dalam perspektif inilah kisah Rangga Lawe dari Tuban memperoleh makna yang melampaui zamannya. Ia bukan sekadar bagian dari sejarah Majapahit, melainkan cermin bagi setiap generasi pemimpin Indonesia: bahwa kemenangan harus disertai kebijaksanaan, kekuasaan harus disertai keadilan, dan persatuan harus selalu ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Catatan Kaki
1. Pararaton (Kitab Raja-raja), terjemahan dan edisi yang digunakan; lihat pula Slamet Muljana, Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit.
2. Mpu Prapañca, Nāgarakṛtāgama (Desawarnana); bandingkan dengan Pararaton dan kajian Slamet Muljana mengenai awal berdirinya Majapahit.
II. Rangga Lawe, Majapahit, dan Ujian Kepemimpinan Setelah Kemenangan
Majapahit lahir bukan dalam keadaan damai, melainkan dari pergulatan politik, peperangan, dan strategi yang rumit. Setelah Singhasari runtuh akibat serangan Jayakatwang dari Kediri pada tahun 1292, Raden Wijaya menyusun kekuatan baru dengan dukungan sejumlah tokoh penting, di antaranya Arya Wiraraja dari Madura beserta putranya, Rangga Lawe dari Tuban.¹
Dukungan tersebut bukan sekadar bantuan militer, melainkan juga strategi politik yang memungkinkan Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk menumbangkan Jayakatwang. Setelah itu, pasukan Mongol sendiri berhasil dipukul mundur, dan pada tahun 1293 berdirilah Kerajaan Majapahit.²
Keberhasilan itu merupakan kemenangan bersama. Tidak ada satu tokoh pun yang dapat mengklaim berdirinya Majapahit sebagai hasil perjuangannya sendiri. Di balik mahkota seorang raja terdapat pengabdian para panglima, para adipati, para penasihat, dan ribuan prajurit yang mempertaruhkan nyawa demi lahirnya sebuah kerajaan.
Namun, sejarah mengajarkan bahwa kemenangan sering kali melahirkan ujian baru.
Setelah Majapahit berdiri, muncul dinamika mengenai pembagian kedudukan dan tanggung jawab pemerintahan. Dalam tradisi yang tercatat dalam Pararaton dan Kidung Rangga Lawe, Rangga Lawe merasa tidak memperoleh posisi yang dianggap sesuai dengan jasa dan pengabdiannya.³ Di sinilah muncul benih perselisihan yang kemudian berkembang menjadi konflik terbuka.
Peristiwa tersebut selama berabad-abad dikenal sebagai "Pemberontakan Rangga Lawe". Akan tetapi, sejumlah sejarawan mengingatkan bahwa istilah "pemberontakan" merupakan cara pandang yang lahir dari sudut pandang pemerintahan yang sedang berkuasa. Dari sudut pandang lain, peristiwa itu juga dapat dipahami sebagai konflik politik pada masa konsolidasi sebuah kerajaan yang baru berdiri.⁴
Perbedaan penafsiran inilah yang membuat kisah Rangga Lawe tetap hidup hingga sekarang.
Sejarah akhirnya lebih banyak ditulis oleh mereka yang memenangkan kekuasaan. Namun masyarakat sering kali menyimpan ingatan yang berbeda. Di Tuban, nama Rangga Lawe tidak dikenang sebagai simbol pengkhianatan, melainkan sebagai lambang keberanian, harga diri, dan kesetiaan kepada prinsip yang diyakininya.
Di sinilah kebijaksanaan membaca sejarah menjadi sangat penting.
Tugas sejarah bukan sekadar menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tugas sejarah adalah memahami mengapa sebuah peristiwa terjadi, faktor-faktor yang melatarbelakanginya, serta pelajaran apa yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bagi seorang prajurit, pelajaran tersebut memiliki makna yang sangat dalam.
Kesetiaan merupakan kehormatan tertinggi. Akan tetapi, kesetiaan juga harus dipelihara oleh kepemimpinan yang adil, terbuka, dan mampu menghargai jasa para pejuangnya. Hubungan antara pemimpin dan mereka yang dipimpin bukan hanya dibangun oleh perintah, melainkan juga oleh kepercayaan, penghormatan, dan rasa keadilan.
Sejarah memperlihatkan bahwa banyak konflik besar bukan bermula dari perbedaan tujuan, melainkan dari perbedaan cara memandang keadilan, penghargaan, dan masa depan.
Pelajaran itulah yang membuat kisah Rangga Lawe tetap relevan bagi Indonesia masa kini. Dalam kehidupan berbangsa, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. Yang tidak boleh terjadi adalah ketika perbedaan tersebut berkembang menjadi permusuhan yang merusak persatuan nasional.
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dari perbedaan, melainkan bangsa yang memiliki kebijaksanaan untuk mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama.
Catatan Kaki
1. Pararaton; Slamet Muljana, Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit.
2. George Coedès, The Indianized States of Southeast Asia; Mpu Prapañca, Nāgarakṛtāgama.
3. Pararaton; Kidung Rangga Lawe.
4. Slamet Muljana, Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit; M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c.1200.
III. Sejarah yang Berulang: Ketika Para Pejuang Memilih Jalan Berbeda
Kisah Rangga Lawe bukanlah satu-satunya contoh dalam sejarah tentang para pejuang yang kemudian memiliki jalan berbeda setelah melewati masa perjuangan bersama. Sejarah manusia menunjukkan sebuah kenyataan bahwa kesamaan cita-cita pada satu masa tidak selalu berarti kesamaan pandangan tentang masa depan.
Justru setelah kemenangan tercapai, perbedaan sering kali mulai terlihat.
Hal itu terjadi karena perjuangan memiliki dua tahap yang berbeda. Tahap pertama adalah perjuangan menghadapi tantangan bersama. Tahap kedua adalah perjuangan menentukan arah setelah tujuan awal tercapai. Pada tahap kedua inilah kepemimpinan, kebijaksanaan, dan kemampuan mengelola perbedaan benar-benar diuji.
Dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia, rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya menjadi salah satu tempat penting yang melahirkan pemikiran para tokoh bangsa. Dari lingkungan pendidikan politik tersebut muncul tokoh-tokoh seperti Soekarno, Musso, dan S.M. Kartosuwiryo.
Mereka sama-sama belajar tentang perjuangan melawan penjajahan dan pentingnya membangun bangsa yang merdeka. Namun perjalanan sejarah membawa mereka pada pilihan ideologi dan strategi yang berbeda.
Soekarno memilih jalan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan dasar Pancasila. Musso memilih perjuangan melalui gerakan komunis yang kemudian berhadapan dengan pemerintah Republik dalam Peristiwa Madiun 1948. Sementara S.M. Kartosuwiryo mendirikan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang kemudian berkonflik dengan negara.¹
Sejarah mencatat bahwa setiap pilihan membawa konsekuensi. Negara memiliki tanggung jawab mempertahankan konstitusi dan keutuhan wilayahnya, sementara para tokoh yang mengambil jalan berbeda menghadapi respons negara sesuai konteks zamannya.
Namun, pelajaran yang lebih dalam bukan sekadar tentang akhir perjalanan setiap tokoh. Pelajaran utamanya adalah bahwa sebuah bangsa harus mampu mengelola perbedaan gagasan tanpa kehilangan tujuan bersama.
Tan Malaka juga memberikan contoh menarik. Ia adalah salah satu pemikir besar dalam sejarah perjuangan Indonesia. Melalui karya Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), ia berusaha mendorong tradisi berpikir rasional dan kritis di tengah masyarakat yang sedang berjuang membangun masa depan bangsa.²
Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan para pejuang lainnya memiliki satu tujuan besar: Indonesia merdeka. Namun mereka memiliki perbedaan pandangan mengenai strategi perjuangan dan bentuk masa depan negara.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia bukanlah perjalanan yang sederhana. Ia dibangun melalui perdebatan gagasan, pertarungan pemikiran, pengorbanan, dan pilihan-pilihan sulit.
Di tingkat dunia, pola yang sama juga terlihat.
Mahatma Gandhi dan Muhammad Ali Jinnah sama-sama berjuang melawan kolonialisme Inggris, tetapi memiliki pandangan berbeda mengenai masa depan anak benua India. Perbedaan tersebut kemudian berkontribusi pada lahirnya India dan Pakistan.
Dalam Revolusi Rusia, Lenin, Trotsky, dan Stalin pernah berada dalam perjuangan yang sama, tetapi kemudian terjadi konflik mengenai arah revolusi dan kepemimpinan negara.
Dari berbagai contoh tersebut, terdapat satu benang merah: perbedaan di antara para pejuang adalah kenyataan sejarah, tetapi kemampuan mengelola perbedaan menentukan apakah sebuah bangsa menjadi kuat atau justru melemah.
Karena itu, kisah Rangga Lawe dari Tuban bukan hanya cerita tentang masa lalu Majapahit. Ia adalah cermin bahwa setiap generasi akan menghadapi pertanyaan yang sama:
Apakah kemenangan akan menjadi awal persatuan, atau justru menjadi awal perpecahan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan.
Catatan Kaki
1. Untuk konteks H.O.S. Tjokroaminoto dan tokoh-tokoh pergerakan: lihat Robert E. Elson, The Idea of Indonesia: A History; serta kajian mengenai Sarekat Islam dan pergerakan nasional Indonesia.
2. Tan Malaka, Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika; lihat juga Harry A. Poeze, Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia.
IV. Bung Karno, Pancasila, dan Karakter Bangsa: Menjaga Persatuan Setelah Kemenangan
Sejarah perjuangan bangsa Indonesia menunjukkan bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tugas yang jauh lebih besar: membangun sebuah negara yang mampu bertahan dalam keberagaman.
Bung Karno memahami bahwa bangsa Indonesia tidak lahir dari keseragaman. Indonesia dibangun dari pertemuan berbagai suku, budaya, agama, bahasa, dan pengalaman sejarah yang berbeda-beda. Karena itu, kekuatan Indonesia tidak terletak pada kesamaan, melainkan pada kemampuan menyatukan perbedaan dalam sebuah cita-cita bersama.
Gagasan tentang pembangunan karakter bangsa atau Nation and Character Building menjadi salah satu pemikiran penting Bung Karno. Bagi beliau, sebuah negara tidak cukup hanya memiliki wilayah, pemerintahan, dan kekuatan ekonomi. Sebuah bangsa juga membutuhkan jiwa, identitas, dan karakter yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
Dalam konteks itulah Pancasila menjadi titik temu perjalanan bangsa Indonesia. Pancasila bukan lahir dari satu kelompok atau satu golongan, melainkan dari proses panjang perumusan para pendiri bangsa yang mencari dasar bersama bagi Indonesia yang majemuk.
Jika kisah Rangga Lawe mengajarkan tentang ujian persatuan setelah kemenangan Majapahit, maka pengalaman Indonesia modern juga memberikan pelajaran serupa. Setelah perjuangan kemerdekaan berhasil, tantangan berikutnya adalah menjaga agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi perpecahan nasional.
Sebuah bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak memiliki perbedaan. Sebaliknya, bangsa besar adalah bangsa yang memiliki kedewasaan untuk mengelola perbedaan melalui dialog, hukum, dan kepentingan bersama.
Dalam perjalanan Republik Indonesia, kita melihat bahwa para pendiri bangsa pun memiliki perbedaan pemikiran. Soekarno, Mohammad Hatta, Tan Malaka, dan tokoh-tokoh lainnya tidak selalu memiliki pandangan yang sama mengenai strategi perjuangan dan pembangunan negara. Namun, mereka memiliki satu tujuan besar: Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
Perbedaan di antara mereka tidak seharusnya dilihat sebagai kelemahan, tetapi sebagai bagian dari dinamika sejarah yang menunjukkan bahwa bangsa ini dibangun melalui pergulatan gagasan.
Di sinilah relevansi kisah Rangga Lawe muncul kembali.
Rangga Lawe mengingatkan bahwa mereka yang ikut mendirikan sebuah kekuatan besar juga membutuhkan ruang penghargaan, komunikasi, dan kebijaksanaan dari pemimpin. Sebaliknya, para pejuang juga diuji untuk menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan pribadi.
Kepemimpinan sejati bukan hanya kemampuan mengumpulkan kekuatan untuk mencapai kemenangan, tetapi kemampuan merawat persatuan setelah kemenangan itu diperoleh.
Pelajaran tersebut semakin penting bagi Indonesia abad ke-21. Tantangan bangsa saat ini tidak hanya datang dalam bentuk ancaman fisik, tetapi juga melalui persaingan gagasan, arus informasi, polarisasi sosial, dan perubahan global yang sangat cepat.
Karena itu, karakter bangsa menjadi kekuatan strategis. Bangsa yang memiliki kepercayaan diri, persatuan, dan kemampuan berpikir kritis akan lebih mampu menghadapi perubahan zaman.
Pada akhirnya, pesan Bung Karno tentang pembangunan karakter bangsa memiliki hubungan yang kuat dengan pelajaran dari Majapahit: kejayaan tidak hanya dibangun oleh keberanian para pejuang, tetapi juga oleh kebijaksanaan para pemimpin dalam menjaga ikatan kebangsaan.
Catatan Kaki
1. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi, berbagai pidato dan tulisan mengenai perjuangan nasional serta Nation and Character Building.
2. Mohammad Hatta, berbagai tulisan dan pidato mengenai demokrasi, kebangsaan, dan dasar negara Indonesia.
3. Yudi Latif, Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila.
IV. Bung Karno, Pancasila, dan Karakter Bangsa: Menjaga Persatuan Setelah Kemenangan
Sejarah perjuangan bangsa Indonesia menunjukkan bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tugas yang jauh lebih besar: membangun sebuah negara yang mampu bertahan dalam keberagaman.
Bung Karno memahami bahwa bangsa Indonesia tidak lahir dari keseragaman. Indonesia dibangun dari pertemuan berbagai suku, budaya, agama, bahasa, dan pengalaman sejarah yang berbeda-beda. Karena itu, kekuatan Indonesia tidak terletak pada kesamaan, melainkan pada kemampuan menyatukan perbedaan dalam sebuah cita-cita bersama.
Gagasan tentang pembangunan karakter bangsa atau Nation and Character Building menjadi salah satu pemikiran penting Bung Karno. Bagi beliau, sebuah negara tidak cukup hanya memiliki wilayah, pemerintahan, dan kekuatan ekonomi. Sebuah bangsa juga membutuhkan jiwa, identitas, dan karakter yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
Dalam konteks itulah Pancasila menjadi titik temu perjalanan bangsa Indonesia. Pancasila bukan lahir dari satu kelompok atau satu golongan, melainkan dari proses panjang perumusan para pendiri bangsa yang mencari dasar bersama bagi Indonesia yang majemuk.
Jika kisah Rangga Lawe mengajarkan tentang ujian persatuan setelah kemenangan Majapahit, maka pengalaman Indonesia modern juga memberikan pelajaran serupa. Setelah perjuangan kemerdekaan berhasil, tantangan berikutnya adalah menjaga agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi perpecahan nasional.
Sebuah bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak memiliki perbedaan. Sebaliknya, bangsa besar adalah bangsa yang memiliki kedewasaan untuk mengelola perbedaan melalui dialog, hukum, dan kepentingan bersama.
Dalam perjalanan Republik Indonesia, kita melihat bahwa para pendiri bangsa pun memiliki perbedaan pemikiran. Soekarno, Mohammad Hatta, Tan Malaka, dan tokoh-tokoh lainnya tidak selalu memiliki pandangan yang sama mengenai strategi perjuangan dan pembangunan negara. Namun, mereka memiliki satu tujuan besar: Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
Perbedaan di antara mereka tidak seharusnya dilihat sebagai kelemahan, tetapi sebagai bagian dari dinamika sejarah yang menunjukkan bahwa bangsa ini dibangun melalui pergulatan gagasan.
Di sinilah relevansi kisah Rangga Lawe muncul kembali.
Rangga Lawe mengingatkan bahwa mereka yang ikut mendirikan sebuah kekuatan besar juga membutuhkan ruang penghargaan, komunikasi, dan kebijaksanaan dari pemimpin. Sebaliknya, para pejuang juga diuji untuk menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan pribadi.
Kepemimpinan sejati bukan hanya kemampuan mengumpulkan kekuatan untuk mencapai kemenangan, tetapi kemampuan merawat persatuan setelah kemenangan itu diperoleh.
Pelajaran tersebut semakin penting bagi Indonesia abad ke-21. Tantangan bangsa saat ini tidak hanya datang dalam bentuk ancaman fisik, tetapi juga melalui persaingan gagasan, arus informasi, polarisasi sosial, dan perubahan global yang sangat cepat.
Karena itu, karakter bangsa menjadi kekuatan strategis. Bangsa yang memiliki kepercayaan diri, persatuan, dan kemampuan berpikir kritis akan lebih mampu menghadapi perubahan zaman.
Pada akhirnya, pesan Bung Karno tentang pembangunan karakter bangsa memiliki hubungan yang kuat dengan pelajaran dari Majapahit: kejayaan tidak hanya dibangun oleh keberanian para pejuang, tetapi juga oleh kebijaksanaan para pemimpin dalam menjaga ikatan kebangsaan.
Catatan Kaki
1. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi, berbagai pidato dan tulisan mengenai perjuangan nasional serta Nation and Character Building.
2. Mohammad Hatta, berbagai tulisan dan pidato mengenai demokrasi, kebangsaan, dan dasar negara Indonesia.
3. Yudi Latif, Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila.
V. Epilog:
Rangga Lawe dari Tuban dan Pesan Kepemimpinan Nusantara
Sejarah Majapahit tidak hanya berbicara tentang kejayaan sebuah kerajaan, tetapi juga tentang kompleksitas manusia yang berada di balik kejayaan tersebut. Di dalamnya terdapat keberanian, kesetiaan, pengorbanan, ambisi, perbedaan pandangan, dan berbagai pilihan sulit yang harus dihadapi para pemimpinnya.
Rangga Lawe dari Tuban menjadi salah satu simbol dari dinamika tersebut. Ia adalah bagian dari perjuangan yang melahirkan Majapahit, tetapi kemudian berada dalam konflik dengan pusat kekuasaan yang dahulu diperjuangkannya.
Peristiwa itu mengajarkan bahwa setelah kemenangan diraih, tantangan terbesar bukan lagi hanya menghadapi musuh dari luar, melainkan menjaga kepercayaan dan persatuan di antara mereka yang telah bersama-sama membangun kemenangan.
Dalam perjalanan awal Majapahit, dinamika serupa juga terlihat dalam konflik yang melibatkan tokoh-tokoh penting lainnya, termasuk Mahapatih Nambi. Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kerajaan besar tidak hanya dibangun melalui keberanian di medan perang, tetapi juga melalui kemampuan mengelola hubungan politik, menghargai jasa, dan menjaga keseimbangan kekuasaan.¹
Pelajaran dari Majapahit kemudian terus berulang dalam sejarah bangsa-bangsa.
Indonesia modern pun dibangun melalui perjuangan banyak tokoh dengan latar belakang, pemikiran, dan strategi yang berbeda. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika sejarah. Yang menentukan kebesaran sebuah bangsa bukanlah ketiadaan perbedaan, melainkan kemampuan untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bersama.
Bung Karno melalui gagasan Pancasila dan pembangunan karakter bangsa mengingatkan bahwa Indonesia hanya dapat berdiri kokoh apabila seluruh kekuatan bangsa mampu menemukan titik temu dalam kepentingan yang lebih besar.
Dalam konteks Indonesia abad ke-21, pesan tersebut semakin relevan. Tantangan bangsa tidak hanya berupa ancaman konvensional, tetapi juga perang persepsi, persaingan teknologi, perubahan geopolitik, serta berbagai bentuk polarisasi yang dapat melemahkan kepercayaan di antara sesama anak bangsa.
Karena itu, kepemimpinan masa kini membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan. Dibutuhkan kebijaksanaan, kemampuan merangkul, ketegasan yang berlandaskan keadilan, serta kesadaran bahwa kekuasaan pada akhirnya adalah amanah untuk menjaga persatuan.
Rangga Lawe dari Tuban tidak harus dipahami hanya melalui label menang atau kalah, benar atau salah. Ia harus dipahami sebagai bagian dari perjalanan panjang Nusantara yang mengajarkan bahwa manusia besar pun dapat menghadapi pilihan-pilihan sulit dalam sejarah.
Dari Rangga Lawe kita belajar tentang kehormatan seorang ksatria.
Dari Majapahit kita belajar bahwa kejayaan membutuhkan persatuan.
Dari Bung Karno kita belajar bahwa bangsa besar membutuhkan karakter dan cita-cita bersama.
Dan dari sejarah dunia kita belajar bahwa perbedaan di antara para pejuang adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari, tetapi kebijaksanaan dalam mengelolanya menentukan masa depan sebuah bangsa.
Pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu memenangkan perjuangan, tetapi bangsa yang mampu menjaga persatuan setelah kemenangan itu tercapai.
Sejarah tidak mengajak kita mengulang masa lalu. Sejarah mengajak kita mengambil hikmah agar Indonesia terus bergerak maju sebagai bangsa yang kuat, bersatu, dan bermartabat.
Bangsa yang besar dibangun oleh keberanian para pejuang, tetapi dipertahankan oleh kebijaksanaan para pemimpinnya.
Jakarta, 20 Juli 2026
Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
Catatan Kaki
Pararaton dan kajian sejarah Majapahit mengenai konflik politik awal kerajaan; lihat pula Slamet Muljana, Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit.
