Opini

MENDENGAR NUSANTARA

Oleh : luska - Minggu, 30/08/2026 10:10 WIB


MENDENGAR NUSANTARA

SERI KESADARAN NUSANTARA — 3


APAKAH PESAN KESADARAN YANG SAMA

HIDUP DALAM BAHASA DAN KEBUDAYAAN

YANG BERBEDA?


Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol

Jakarta, 28 Agustus 2026


PENGANTAR


Pada dua seri sebelumnya kita menemukan empat fungsi kesadaran:


JAYABAYA

— membaca zaman.


SABDO PALON

— menjaga arah.


RANGGAWARSITA

— eling lan waspada.


BUDAK ANGON

— ngorehan, mencari kembali yang berserak.


Tetapi kita harus berhenti sejenak.


Semua itu baru datang dari dua ruang kebudayaan besar:


JAWA dan SUNDA.


Padahal Nusantara jauh lebih luas.


Jika kita langsung menyebutnya

“Arsitektur Kesadaran Nusantara”,

kita justru melakukan kesalahan yang sejak awal ingin kita hindari:


MENYIMPULKAN SEBELUM MENDENGAR.


Maka Seri 3 bukan mencari pembenaran.


Seri ini mengajukan pertanyaan:


APAKAH KEBUDAYAAN-Kebudayaan NUSANTARA

YANG BERBEDA JUGA MENYIMPAN

CARA UNTUK MENJAGA MANUSIA

AGAR TIDAK KEHILANGAN ARAH?


JANGAN MENCARI KATA YANG SAMA


Batak tidak harus mempunyai Sabdo Palon.


Minangkabau tidak harus mempunyai Budak Angon.


Bugis-Makassar tidak harus mengenal

“eling lan waspada”.


Bali tidak harus berbicara

dengan bahasa Jayabaya.


Sebab setiap kebudayaan tumbuh

dari ruang kehidupan yang berbeda.


Gunung membentuk pengalaman.


Laut membentuk pengalaman.


Hutan membentuk pengalaman.


Sawah membentuk pengalaman.


Perdagangan, peperangan, migrasi,

kekerabatan, kepercayaan, dan perjumpaan

antarmanusia juga membentuk pengalaman.


Karena itu jangan mencari istilah yang sama.


Carilah sesuatu yang lebih dalam:


PERSOALAN MANUSIA YANG SAMA,

YANG DIJAWAB OLEH SETIAP KEBUDAYAAN

DENGAN CARANYA SENDIRI.


BATAK — MANUSIA TIDAK BERDIRI SENDIRI


Dalam kebudayaan Batak Toba dikenal

DALIHAN NA TOLU.


Secara harfiah ia sering digambarkan

sebagai tungku berkaki tiga.


Tetapi kedalamannya tidak berhenti

pada bentuk tungku.


Ia berbicara mengenai hubungan manusia.


Dalam kehidupan adat,

seseorang tidak berdiri sendiri.


Ia berada dalam jaringan kekerabatan

yang membawa kedudukan,

hak, kewajiban, penghormatan,

dan tanggung jawab.


Dikenal prinsip:


SOMBA MARHULA-HULA.


ELEK MARBORU.


MANAT MARDONGAN TUBU.


Menghormati hula-hula.


Mengayomi dan menjaga hubungan dengan boru.


Berhati-hati dan memelihara hubungan

dengan dongan tubu.


Yang sangat menarik:


orang yang sama dapat mempunyai

kedudukan berbeda dalam hubungan

yang berbeda.


Dalam satu keadaan ia dihormati.


Dalam hubungan lainnya ia berkewajiban

melayani dan menghormati.


Artinya:


KEDUDUKAN BUKAN HANYA

TENTANG SIAPA KITA.


KEDUDUKAN JUGA DITENTUKAN

OLEH HUBUNGAN KITA DENGAN ORANG LAIN.


Di sinilah terdapat pelajaran besar

bagi manusia modern.


Jabatan dapat tinggi.


Kekayaan dapat besar.


Pengaruh dapat luas.


Tetapi manusia tidak pernah benar-benar

berdiri sendiri.


Setiap keputusan menyentuh manusia lain.


Setiap hak membawa kewajiban.


Setiap kedudukan membawa tanggung jawab.


Maka kebesaran seseorang tidak hanya diukur

dari berapa banyak orang berada di bawahnya,


tetapi juga:


BAGAIMANA IA MENEMPATKAN DIRINYA

DI ANTARA MANUSIA LAIN.


MINANGKABAU — ALAM MENJADI GURU


Dari Minangkabau kita menemukan

ungkapan yang sangat kuat:


ALAM TAKAMBANG JADI GURU.


Alam yang terbentang menjadi guru.


Kalimat ini bukan sekadar penghormatan

kepada alam.


Ia mengandung sebuah cara memperoleh

pengetahuan.


Manusia belajar dengan melihat.


Mengalami.


Membandingkan.


Mengenali pola.


Memahami hubungan sebab-akibat.


Kemudian mengambil hikmah.


Artinya:


KEHIDUPAN SENDIRI ADALAH

RUANG BELAJAR.


Alam mengajarkan bahwa segala sesuatu

mempunyai batas.


Ada musim.


Ada keseimbangan.


Ada perubahan.


Ada akibat dari setiap tindakan.


Manusia boleh menciptakan teknologi

yang semakin canggih.


Kita dapat mengolah gunung.


Membendung sungai.


Menembus bumi.


Mengubah bentang alam.


Tetapi kemampuan melakukan sesuatu

tidak otomatis berarti bahwa sesuatu itu

bijaksana untuk dilakukan.


Di situlah pesan lama bertemu

dengan persoalan abad ke-21:


MANUSIA BOLEH MENJADI

SEMAKIN CERDAS.


TETAPI JANGAN BERHENTI

MENJADI MURID KEHIDUPAN.


BALI — KEHIDUPAN ADALAH KESEIMBANGAN


Dalam kebudayaan Bali dikenal

TRI HITA KARANA.


Secara umum ia menggambarkan keharmonisan

hubungan manusia dengan Yang Ilahi,

dengan sesama manusia,

dan dengan lingkungan alam.


Yang penting bukan sekadar angka tiga.


Yang penting adalah kesadarannya:


KEHIDUPAN TIDAK DITOPANG

OLEH SATU HUBUNGAN SAJA.


Ekonomi dapat tumbuh.


Tetapi jika hubungan sosial rusak,

kemajuan menjadi rapuh.


Teknologi dapat berkembang.


Tetapi jika alam dihancurkan,

kemajuan meninggalkan utang

kepada generasi berikutnya.


Kehidupan spiritual dapat berkembang.


Tetapi jika manusia kehilangan kepedulian

terhadap sesamanya,

spiritualitas kehilangan pijakan sosialnya.


Maka ukuran kemajuan tidak cukup:


SEBERAPA CEPAT KITA BERGERAK.


Pertanyaan yang lebih dalam adalah:


APAKAH HUBUNGAN-HUBUNGAN

YANG MENOPANG KEHIDUPAN

MASIH TERJAGA?


BUGIS-MAKASSAR — MARTABAT DAN RASA KEMANUSIAAN


Dalam kebudayaan Bugis-Makassar

dikenal konsep siri’ serta pesse/pacce.


Maknanya tidak sederhana.


Siri’ tidak cukup diterjemahkan hanya

sebagai “malu”.


Di dalam ruang kebudayaannya,

ia berkaitan dengan martabat,

harga diri, kehormatan,

dan kepatutan.


Pesse atau pacce membawa dimensi lain:


kepekaan,


solidaritas,


dan kemampuan merasakan penderitaan

manusia lain.


Keduanya membawa kita kepada

pertanyaan yang sangat penting:


APAKAH MANUSIA MASIH MEMPUNYAI

BATAS BATIN TERHADAP APA

YANG TIDAK PATUT DILAKUKAN?


Sebab hukum tidak selalu mampu

menjangkau seluruh perilaku manusia.


Ada sesuatu yang seharusnya bekerja

sebelum hukum datang:


BUDI.


RASA MALU.


KEPATUTAN.


MARTABAT.


KEPEDULIAN.


Masyarakat dapat mempunyai banyak aturan,

tetapi kehilangan kepatutan.


Dapat mempunyai kekayaan,

tetapi kehilangan solidaritas.


Dapat mempunyai kekuasaan,

tetapi kehilangan rasa malu.


Jika itu terjadi,

yang rusak bukan hanya aturan.


YANG MULAI RUNTUH ADALAH

BENTENG BATIN PERADABAN.


EMPAT KEBUDAYAAN — EMPAT PINTU


Sekarang kita mulai melihat sebuah pola.


Bukan kesamaan istilah.


Bukan pula bukti bahwa semua kebudayaan

Nusantara mempunyai filsafat yang sama.


Tetapi empat pintu untuk membaca

persoalan manusia.


BATAK


DALIHAN NA TOLU


Bagaimana manusia menjaga

HUBUNGAN DAN TANGGUNG JAWAB?



MINANGKABAU


ALAM TAKAMBANG JADI GURU


Bagaimana manusia

BELAJAR DARI KEHIDUPAN?



BALI


TRI HITA KARANA


Bagaimana manusia menjaga

KESEIMBANGAN HUBUNGAN?



BUGIS-MAKASSAR


SIRI’ — PESSE/PACCE


Bagaimana manusia menjaga

MARTABAT DAN SOLIDARITAS?


Bahasanya berbeda.


Simbolnya berbeda.


Sejarahnya berbeda.


Tetapi semuanya membawa manusia

kepada pertanyaan yang semakin mendasar:


BAGAIMANA MANUSIA

MENEMPATKAN DIRINYA

DI DALAM KEHIDUPAN?


DARI JAWA DAN SUNDA,

BENANG ITU MULAI MEMANJANG


Sekarang kita letakkan kembali

apa yang telah kita temukan.


JAYABAYA

mengajak membaca perubahan zaman.


SABDO PALON

dapat dibaca sebagai fungsi pengingat arah.


RANGGAWARSITA

mengingatkan untuk eling lan waspada.


BUDAK ANGON

mengajak ngorehan —

mencari kembali yang berserak.


DALIHAN NA TOLU

mengingatkan bahwa manusia hidup

dalam hubungan dan tanggung jawab.


ALAM TAKAMBANG JADI GURU

mengajarkan manusia untuk terus

membaca kehidupan.


TRI HITA KARANA

mengingatkan pentingnya keseimbangan

hubungan yang menopang kehidupan.


SIRI’ — PESSE/PACCE

menjaga martabat, kepatutan,

dan solidaritas kemanusiaan.


Jika semuanya kita pertemukan,

mulai terlihat sebuah kemungkinan:


KESADARAN BUKAN HANYA

APA YANG ADA DI DALAM PIKIRAN.


KESADARAN ADALAH CARA MANUSIA

MEMBACA ZAMAN,

MENEMPATKAN DIRI,

MEMPERLAKUKAN SESAMA,

BERHUBUNGAN DENGAN ALAM,

MENJAGA MARTABAT,

DAN BERTANGGUNG JAWAB

TERHADAP MASA DEPAN.


TETAPI JANGAN TERBURU-BURU

MENYEBUTNYA NUSANTARA


Di sinilah disiplin berpikir harus dijaga.


Jawa, Sunda, Batak, Minangkabau,

Bali, dan Bugis-Makassar

belum seluruh Nusantara.


Masih ada berbagai tradisi

di Aceh, Melayu, Kalimantan,

Maluku, Nusa Tenggara, Papua,

dan banyak ruang kebudayaan lainnya.


Bahkan di dalam satu wilayah pun

tidak selalu terdapat satu suara tunggal.


Karena itu kita belum boleh mengatakan:


“INILAH ARSITEKTUR KESADARAN NUSANTARA.”


Belum.


Yang sedang kita bangun masih sebuah

HIPOTESIS KERJA.


Kita sedang:


MENDENGAR.


MEMBANDINGKAN.


MEMERIKSA.


DAN MENCARI BENANGNYA.


Jika ternyata benangnya tidak sama,

jangan dipaksakan sama.


Sebab kejujuran terhadap perbedaan

jauh lebih berharga daripada

kesimpulan yang indah tetapi dipaksakan.


WARISAN YANG TIDAK TERLIHAT


Selama ini ketika berbicara tentang

warisan Nusantara,

kita mudah melihat:


candi,


rumah adat,


kain,


senjata,


tarian,


bahasa,


musik,


dan upacara.


Semua itu penting.


Tetapi ada warisan yang tidak selalu

dapat disentuh dengan tangan:


CARA MEMBACA KEHIDUPAN.


Cara memahami hubungan.


Cara membaca alam.


Cara menjaga keseimbangan.


Cara menjaga martabat.


Cara mengingatkan kekuasaan.


Cara menghadapi perubahan.


Cara menentukan apa yang patut

dan tidak patut dilakukan.


Inilah warisan yang paling mudah hilang.


Bangunan dapat dipugar.


Kain dapat ditenun kembali.


Tarian dapat dipelajari kembali.


Tetapi jika cara berpikir

di balik sebuah kebudayaan hilang,


kita mungkin masih mempunyai

bentuk kebudayaannya,


tetapi kehilangan:


JIWA PENGETAHUANNYA.


DARI WARISAN MENUJU PENGETAHUAN PERADABAN


Di sinilah perjalanan kita menjadi strategis.


Karuhun tidak hanya meninggalkan

benda-benda budaya.


Mereka juga meninggalkan

hasil pengalaman manusia

menghadapi kehidupan.


Bukan berarti semua warisan lama benar.


Bukan berarti semua harus dipertahankan.


Justru seperti pesan ngorehan:


CARI.


PERIKSA.


PILAH.


TIMBANG.


AMBIL YANG MASIH BERNILAI.


Kemudian pertemukan dengan:


ilmu pengetahuan,


teknologi,


pengalaman modern,


dan tantangan zaman.


Sebab tujuan kita bukan

mengubah warisan menjadi museum.


Tujuan kita adalah menemukan:


APA YANG MASIH DAPAT MEMBANTU

MANUSIA HARI INI

MEMBANGUN MASA DEPAN.


PENUTUP


Mendengar Nusantara

bukan mencari satu suara.


Nusantara memang tidak lahir

dari satu suara.


Ia tumbuh dari ribuan pulau,

ratusan bahasa,

berbagai lingkungan alam,

perjalanan manusia,

perjumpaan budaya,

konflik,

perdagangan,

perpindahan,

dan penyatuan.


Karena itu jangan menyeragamkannya.


Biarkan Jawa berbicara

dalam bahasanya.


Biarkan Sunda berbicara

dalam bahasanya.


Biarkan Batak,

Minangkabau,

Bali,

Bugis-Makassar,

dan kebudayaan lainnya

berbicara dari pengalaman mereka sendiri.


Lalu kita:


DENGARKAN.


NGOREHAN.


PERIKSA.


BANDINGKAN.


TIMBANG DENGAN BUDI.


DAN TEMUKAN BENANGNYA.


Mungkin Karuhun Nusantara

tidak meninggalkan satu kitab yang sama.


Tetapi mereka meninggalkan

banyak cara untuk menjawab

pertanyaan yang sama:


BAGAIMANA MANUSIA

TETAP MENJADI MANUSIA

KETIKA ZAMAN BERUBAH?


Jika kelak berbagai jalan itu

memang bertemu,

barulah kita mempunyai dasar

untuk berbicara lebih jauh tentang:


ARSITEKTUR KESADARAN NUSANTARA.


Bukan sebagai romantisme masa lalu.


Bukan sebagai ramalan.


Bukan sebagai mistifikasi leluhur.


Tetapi sebagai:


PENGETAHUAN PERADABAN

UNTUK MEMBANTU MANUSIA

MEMBACA MASA DEPAN

TANPA KEHILANGAN AKAR,

AKAL,

BUDI,

DAN TANGGUNG JAWABNYA.


Sebab sebelum berbicara

atas nama Nusantara,


kita harus terlebih dahulu

belajar satu hal yang sederhana:


MENDENGAR NUSANTARA.



MJP Hutagaol ’86

Jakarta, 28 Agustus 2026



— BERSAMBUNG —


SERI 4


ARSITEKTUR KESADARAN NUSANTARA


DARI WARISAN KARUHUN

MENUJU MANUSIA ABAD KE-21

Artikel Lainnya