SERI KESADARAN NUSANTARA — 3
APAKAH PESAN KESADARAN YANG SAMA
HIDUP DALAM BAHASA DAN KEBUDAYAAN
YANG BERBEDA?
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 28 Agustus 2026
PENGANTAR
Pada dua seri sebelumnya kita menemukan empat fungsi kesadaran:
JAYABAYA
— membaca zaman.
SABDO PALON
— menjaga arah.
RANGGAWARSITA
— eling lan waspada.
BUDAK ANGON
— ngorehan, mencari kembali yang berserak.
Tetapi kita harus berhenti sejenak.
Semua itu baru datang dari dua ruang kebudayaan besar:
JAWA dan SUNDA.
Padahal Nusantara jauh lebih luas.
Jika kita langsung menyebutnya
“Arsitektur Kesadaran Nusantara”,
kita justru melakukan kesalahan yang sejak awal ingin kita hindari:
MENYIMPULKAN SEBELUM MENDENGAR.
Maka Seri 3 bukan mencari pembenaran.
Seri ini mengajukan pertanyaan:
APAKAH KEBUDAYAAN-Kebudayaan NUSANTARA
YANG BERBEDA JUGA MENYIMPAN
CARA UNTUK MENJAGA MANUSIA
AGAR TIDAK KEHILANGAN ARAH?
JANGAN MENCARI KATA YANG SAMA
Batak tidak harus mempunyai Sabdo Palon.
Minangkabau tidak harus mempunyai Budak Angon.
Bugis-Makassar tidak harus mengenal
“eling lan waspada”.
Bali tidak harus berbicara
dengan bahasa Jayabaya.
Sebab setiap kebudayaan tumbuh
dari ruang kehidupan yang berbeda.
Gunung membentuk pengalaman.
Laut membentuk pengalaman.
Hutan membentuk pengalaman.
Sawah membentuk pengalaman.
Perdagangan, peperangan, migrasi,
kekerabatan, kepercayaan, dan perjumpaan
antarmanusia juga membentuk pengalaman.
Karena itu jangan mencari istilah yang sama.
Carilah sesuatu yang lebih dalam:
PERSOALAN MANUSIA YANG SAMA,
YANG DIJAWAB OLEH SETIAP KEBUDAYAAN
DENGAN CARANYA SENDIRI.
BATAK — MANUSIA TIDAK BERDIRI SENDIRI
Dalam kebudayaan Batak Toba dikenal
DALIHAN NA TOLU.
Secara harfiah ia sering digambarkan
sebagai tungku berkaki tiga.
Tetapi kedalamannya tidak berhenti
pada bentuk tungku.
Ia berbicara mengenai hubungan manusia.
Dalam kehidupan adat,
seseorang tidak berdiri sendiri.
Ia berada dalam jaringan kekerabatan
yang membawa kedudukan,
hak, kewajiban, penghormatan,
dan tanggung jawab.
Dikenal prinsip:
SOMBA MARHULA-HULA.
ELEK MARBORU.
MANAT MARDONGAN TUBU.
Menghormati hula-hula.
Mengayomi dan menjaga hubungan dengan boru.
Berhati-hati dan memelihara hubungan
dengan dongan tubu.
Yang sangat menarik:
orang yang sama dapat mempunyai
kedudukan berbeda dalam hubungan
yang berbeda.
Dalam satu keadaan ia dihormati.
Dalam hubungan lainnya ia berkewajiban
melayani dan menghormati.
Artinya:
KEDUDUKAN BUKAN HANYA
TENTANG SIAPA KITA.
KEDUDUKAN JUGA DITENTUKAN
OLEH HUBUNGAN KITA DENGAN ORANG LAIN.
Di sinilah terdapat pelajaran besar
bagi manusia modern.
Jabatan dapat tinggi.
Kekayaan dapat besar.
Pengaruh dapat luas.
Tetapi manusia tidak pernah benar-benar
berdiri sendiri.
Setiap keputusan menyentuh manusia lain.
Setiap hak membawa kewajiban.
Setiap kedudukan membawa tanggung jawab.
Maka kebesaran seseorang tidak hanya diukur
dari berapa banyak orang berada di bawahnya,
tetapi juga:
BAGAIMANA IA MENEMPATKAN DIRINYA
DI ANTARA MANUSIA LAIN.
MINANGKABAU — ALAM MENJADI GURU
Dari Minangkabau kita menemukan
ungkapan yang sangat kuat:
ALAM TAKAMBANG JADI GURU.
Alam yang terbentang menjadi guru.
Kalimat ini bukan sekadar penghormatan
kepada alam.
Ia mengandung sebuah cara memperoleh
pengetahuan.
Manusia belajar dengan melihat.
Mengalami.
Membandingkan.
Mengenali pola.
Memahami hubungan sebab-akibat.
Kemudian mengambil hikmah.
Artinya:
KEHIDUPAN SENDIRI ADALAH
RUANG BELAJAR.
Alam mengajarkan bahwa segala sesuatu
mempunyai batas.
Ada musim.
Ada keseimbangan.
Ada perubahan.
Ada akibat dari setiap tindakan.
Manusia boleh menciptakan teknologi
yang semakin canggih.
Kita dapat mengolah gunung.
Membendung sungai.
Menembus bumi.
Mengubah bentang alam.
Tetapi kemampuan melakukan sesuatu
tidak otomatis berarti bahwa sesuatu itu
bijaksana untuk dilakukan.
Di situlah pesan lama bertemu
dengan persoalan abad ke-21:
MANUSIA BOLEH MENJADI
SEMAKIN CERDAS.
TETAPI JANGAN BERHENTI
MENJADI MURID KEHIDUPAN.
BALI — KEHIDUPAN ADALAH KESEIMBANGAN
Dalam kebudayaan Bali dikenal
TRI HITA KARANA.
Secara umum ia menggambarkan keharmonisan
hubungan manusia dengan Yang Ilahi,
dengan sesama manusia,
dan dengan lingkungan alam.
Yang penting bukan sekadar angka tiga.
Yang penting adalah kesadarannya:
KEHIDUPAN TIDAK DITOPANG
OLEH SATU HUBUNGAN SAJA.
Ekonomi dapat tumbuh.
Tetapi jika hubungan sosial rusak,
kemajuan menjadi rapuh.
Teknologi dapat berkembang.
Tetapi jika alam dihancurkan,
kemajuan meninggalkan utang
kepada generasi berikutnya.
Kehidupan spiritual dapat berkembang.
Tetapi jika manusia kehilangan kepedulian
terhadap sesamanya,
spiritualitas kehilangan pijakan sosialnya.
Maka ukuran kemajuan tidak cukup:
SEBERAPA CEPAT KITA BERGERAK.
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
APAKAH HUBUNGAN-HUBUNGAN
YANG MENOPANG KEHIDUPAN
MASIH TERJAGA?
BUGIS-MAKASSAR — MARTABAT DAN RASA KEMANUSIAAN
Dalam kebudayaan Bugis-Makassar
dikenal konsep siri’ serta pesse/pacce.
Maknanya tidak sederhana.
Siri’ tidak cukup diterjemahkan hanya
sebagai “malu”.
Di dalam ruang kebudayaannya,
ia berkaitan dengan martabat,
harga diri, kehormatan,
dan kepatutan.
Pesse atau pacce membawa dimensi lain:
kepekaan,
solidaritas,
dan kemampuan merasakan penderitaan
manusia lain.
Keduanya membawa kita kepada
pertanyaan yang sangat penting:
APAKAH MANUSIA MASIH MEMPUNYAI
BATAS BATIN TERHADAP APA
YANG TIDAK PATUT DILAKUKAN?
Sebab hukum tidak selalu mampu
menjangkau seluruh perilaku manusia.
Ada sesuatu yang seharusnya bekerja
sebelum hukum datang:
BUDI.
RASA MALU.
KEPATUTAN.
MARTABAT.
KEPEDULIAN.
Masyarakat dapat mempunyai banyak aturan,
tetapi kehilangan kepatutan.
Dapat mempunyai kekayaan,
tetapi kehilangan solidaritas.
Dapat mempunyai kekuasaan,
tetapi kehilangan rasa malu.
Jika itu terjadi,
yang rusak bukan hanya aturan.
YANG MULAI RUNTUH ADALAH
BENTENG BATIN PERADABAN.
EMPAT KEBUDAYAAN — EMPAT PINTU
Sekarang kita mulai melihat sebuah pola.
Bukan kesamaan istilah.
Bukan pula bukti bahwa semua kebudayaan
Nusantara mempunyai filsafat yang sama.
Tetapi empat pintu untuk membaca
persoalan manusia.
BATAK
DALIHAN NA TOLU
Bagaimana manusia menjaga
HUBUNGAN DAN TANGGUNG JAWAB?
↓
MINANGKABAU
ALAM TAKAMBANG JADI GURU
Bagaimana manusia
BELAJAR DARI KEHIDUPAN?
↓
BALI
TRI HITA KARANA
Bagaimana manusia menjaga
KESEIMBANGAN HUBUNGAN?
↓
BUGIS-MAKASSAR
SIRI’ — PESSE/PACCE
Bagaimana manusia menjaga
MARTABAT DAN SOLIDARITAS?
Bahasanya berbeda.
Simbolnya berbeda.
Sejarahnya berbeda.
Tetapi semuanya membawa manusia
kepada pertanyaan yang semakin mendasar:
BAGAIMANA MANUSIA
MENEMPATKAN DIRINYA
DI DALAM KEHIDUPAN?
DARI JAWA DAN SUNDA,
BENANG ITU MULAI MEMANJANG
Sekarang kita letakkan kembali
apa yang telah kita temukan.
JAYABAYA
mengajak membaca perubahan zaman.
SABDO PALON
dapat dibaca sebagai fungsi pengingat arah.
RANGGAWARSITA
mengingatkan untuk eling lan waspada.
BUDAK ANGON
mengajak ngorehan —
mencari kembali yang berserak.
DALIHAN NA TOLU
mengingatkan bahwa manusia hidup
dalam hubungan dan tanggung jawab.
ALAM TAKAMBANG JADI GURU
mengajarkan manusia untuk terus
membaca kehidupan.
TRI HITA KARANA
mengingatkan pentingnya keseimbangan
hubungan yang menopang kehidupan.
SIRI’ — PESSE/PACCE
menjaga martabat, kepatutan,
dan solidaritas kemanusiaan.
Jika semuanya kita pertemukan,
mulai terlihat sebuah kemungkinan:
KESADARAN BUKAN HANYA
APA YANG ADA DI DALAM PIKIRAN.
KESADARAN ADALAH CARA MANUSIA
MEMBACA ZAMAN,
MENEMPATKAN DIRI,
MEMPERLAKUKAN SESAMA,
BERHUBUNGAN DENGAN ALAM,
MENJAGA MARTABAT,
DAN BERTANGGUNG JAWAB
TERHADAP MASA DEPAN.
TETAPI JANGAN TERBURU-BURU
MENYEBUTNYA NUSANTARA
Di sinilah disiplin berpikir harus dijaga.
Jawa, Sunda, Batak, Minangkabau,
Bali, dan Bugis-Makassar
belum seluruh Nusantara.
Masih ada berbagai tradisi
di Aceh, Melayu, Kalimantan,
Maluku, Nusa Tenggara, Papua,
dan banyak ruang kebudayaan lainnya.
Bahkan di dalam satu wilayah pun
tidak selalu terdapat satu suara tunggal.
Karena itu kita belum boleh mengatakan:
“INILAH ARSITEKTUR KESADARAN NUSANTARA.”
Belum.
Yang sedang kita bangun masih sebuah
HIPOTESIS KERJA.
Kita sedang:
MENDENGAR.
MEMBANDINGKAN.
MEMERIKSA.
DAN MENCARI BENANGNYA.
Jika ternyata benangnya tidak sama,
jangan dipaksakan sama.
Sebab kejujuran terhadap perbedaan
jauh lebih berharga daripada
kesimpulan yang indah tetapi dipaksakan.
WARISAN YANG TIDAK TERLIHAT
Selama ini ketika berbicara tentang
warisan Nusantara,
kita mudah melihat:
candi,
rumah adat,
kain,
senjata,
tarian,
bahasa,
musik,
dan upacara.
Semua itu penting.
Tetapi ada warisan yang tidak selalu
dapat disentuh dengan tangan:
CARA MEMBACA KEHIDUPAN.
Cara memahami hubungan.
Cara membaca alam.
Cara menjaga keseimbangan.
Cara menjaga martabat.
Cara mengingatkan kekuasaan.
Cara menghadapi perubahan.
Cara menentukan apa yang patut
dan tidak patut dilakukan.
Inilah warisan yang paling mudah hilang.
Bangunan dapat dipugar.
Kain dapat ditenun kembali.
Tarian dapat dipelajari kembali.
Tetapi jika cara berpikir
di balik sebuah kebudayaan hilang,
kita mungkin masih mempunyai
bentuk kebudayaannya,
tetapi kehilangan:
JIWA PENGETAHUANNYA.
DARI WARISAN MENUJU PENGETAHUAN PERADABAN
Di sinilah perjalanan kita menjadi strategis.
Karuhun tidak hanya meninggalkan
benda-benda budaya.
Mereka juga meninggalkan
hasil pengalaman manusia
menghadapi kehidupan.
Bukan berarti semua warisan lama benar.
Bukan berarti semua harus dipertahankan.
Justru seperti pesan ngorehan:
CARI.
PERIKSA.
PILAH.
TIMBANG.
AMBIL YANG MASIH BERNILAI.
Kemudian pertemukan dengan:
ilmu pengetahuan,
teknologi,
pengalaman modern,
dan tantangan zaman.
Sebab tujuan kita bukan
mengubah warisan menjadi museum.
Tujuan kita adalah menemukan:
APA YANG MASIH DAPAT MEMBANTU
MANUSIA HARI INI
MEMBANGUN MASA DEPAN.
PENUTUP
Mendengar Nusantara
bukan mencari satu suara.
Nusantara memang tidak lahir
dari satu suara.
Ia tumbuh dari ribuan pulau,
ratusan bahasa,
berbagai lingkungan alam,
perjalanan manusia,
perjumpaan budaya,
konflik,
perdagangan,
perpindahan,
dan penyatuan.
Karena itu jangan menyeragamkannya.
Biarkan Jawa berbicara
dalam bahasanya.
Biarkan Sunda berbicara
dalam bahasanya.
Biarkan Batak,
Minangkabau,
Bali,
Bugis-Makassar,
dan kebudayaan lainnya
berbicara dari pengalaman mereka sendiri.
Lalu kita:
DENGARKAN.
NGOREHAN.
PERIKSA.
BANDINGKAN.
TIMBANG DENGAN BUDI.
DAN TEMUKAN BENANGNYA.
Mungkin Karuhun Nusantara
tidak meninggalkan satu kitab yang sama.
Tetapi mereka meninggalkan
banyak cara untuk menjawab
pertanyaan yang sama:
BAGAIMANA MANUSIA
TETAP MENJADI MANUSIA
KETIKA ZAMAN BERUBAH?
Jika kelak berbagai jalan itu
memang bertemu,
barulah kita mempunyai dasar
untuk berbicara lebih jauh tentang:
ARSITEKTUR KESADARAN NUSANTARA.
Bukan sebagai romantisme masa lalu.
Bukan sebagai ramalan.
Bukan sebagai mistifikasi leluhur.
Tetapi sebagai:
PENGETAHUAN PERADABAN
UNTUK MEMBANTU MANUSIA
MEMBACA MASA DEPAN
TANPA KEHILANGAN AKAR,
AKAL,
BUDI,
DAN TANGGUNG JAWABNYA.
Sebab sebelum berbicara
atas nama Nusantara,
kita harus terlebih dahulu
belajar satu hal yang sederhana:
MENDENGAR NUSANTARA.
MJP Hutagaol ’86
Jakarta, 28 Agustus 2026
— BERSAMBUNG —
SERI 4
ARSITEKTUR KESADARAN NUSANTARA
DARI WARISAN KARUHUN
MENUJU MANUSIA ABAD KE-21