Nasional

Duduk Perkara Bentrokan Menteng: Berawal dari Motor Digeber, Berujung Satu Orang Tewas

Oleh : Rikard Djegadut - Senin, 27/07/2026 14:44 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Bentrokan yang melibatkan dua kelompok pecah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (26/7) pagi. Kerusuhan yang diduga dipicu persoalan sepele itu berujung maut setelah seorang pria berinisial K (23) meninggal dunia, sementara sejumlah orang lainnya harus menjalani pemeriksaan polisi.

Kericuhan terjadi di sekitar Jalan Tambak, Matraman Dalam, dan Jalan Proklamasi, Pegangsaan, Menteng. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga dan sekelompok orang saling berhadapan serta melempar batu. Beberapa orang terlihat membawa kayu dan bambu.

Bentrok tersebut juga menyebabkan sejumlah fasilitas di sekitar lokasi rusak. Pagar dan gerobak pedagang mengalami kerusakan. Pecahan kaca berserakan di jalan, sementara sebuah sepeda motor dilaporkan terbakar. Polisi juga menemukan jejak darah dan batu yang berlumuran darah di lokasi kejadian.

Duduk Perkara

Berdasarkan penyelidikan awal kepolisian, bentrokan bermula dari keributan di sekitar gerobak makanan di kawasan Matraman Dalam.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold Elisa Partomuan Hutagalung mengatakan, persoalan bermula ketika dua orang yang mengendarai sepeda motor melintas sambil menggeber kendaraan. Suara bising dari kendaraan tersebut kemudian memicu teguran.

Kedua orang itu diduga tidak terima ditegur. Mereka kemudian kembali ke lokasi bersama sejumlah rekannya.

“Motif yang kami terima saat ini, ada dua orang menggunakan kendaraan bermotor melewati lokasi jualan nasi uduk. Mereka menggeber motor sehingga menimbulkan kebisingan. Setelah ditegur, mereka tidak terima dan kembali bersama lima orang lainnya,” kata Reynold.

Sekelompok orang tersebut kemudian diduga melakukan keributan dan merusak sejumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk gerobak pedagang makanan. Warga sekitar yang merasa terganggu kemudian melakukan perlawanan.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra menjelaskan, berdasarkan keterangan sementara, kelompok tersebut awalnya datang untuk membeli sarapan. Namun, terjadi persoalan yang kemudian berkembang menjadi keributan.

“Kelompok yang diserang itu datang untuk membeli sarapan. Kemudian mungkin merasa tidak dilayani dengan baik atau ada hal yang tidak berkenan, lalu menggeber kendaraannya. Mereka pergi dan kemudian kembali bersama teman-temannya hingga merusak gerobak penjual nasi uduk,” ujar Roby.

Perusakan tersebut kemudian memicu kemarahan warga. Serangan balasan pun terjadi hingga bentrokan meluas.

Satu Orang Meninggal Dunia

Dalam bentrokan tersebut, dua orang dievakuasi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Salah satunya, K, dinyatakan meninggal dunia.

“Dua orang dievakuasi ke RSCM. Salah satunya berinisial K dan yang lainnya DS. Kami turut berduka cita karena berdasarkan informasi yang kami terima, K yang berusia 23 tahun telah meninggal dunia,” kata Reynold.

Polisi sebelumnya berupaya menghentikan bentrokan. Namun, banyaknya orang yang terlibat membuat kerusuhan sulit segera dikendalikan.

Dari lokasi kejadian, polisi menemukan sejumlah barang bukti, antara lain puing bangunan yang terbakar, kendaraan terbakar, batu berlumuran darah, serta jejak darah.

Polisi telah mengamankan tiga orang yang diduga terlibat dalam penganiayaan terhadap K dan DS. Ketiganya berinisial S, T, dan U.

“Mereka saat ini sudah diamankan di Polsek Menteng dan menjalani pemeriksaan secara intensif untuk mengetahui asal-muasal peristiwa tersebut,” ujar Reynold.

Selain tiga orang tersebut, sekitar 15 orang juga telah diperiksa. Polisi memilah keterlibatan masing-masing pihak dalam sejumlah rangkaian peristiwa yang terjadi di Matraman, Matraman Dalam, dan Jalan Tambak.

Menurut Reynold, penyidik juga mendalami dugaan perusakan gerobak pedagang serta dugaan pemukulan terhadap warga yang menjadi bagian awal dari perselisihan.

Polisi juga masih menyelidiki apakah pihak yang diduga menggeber sepeda motor berada di bawah pengaruh minuman keras saat kejadian.

Pasca-bentrokan, personel Brimob dan TNI masih disiagakan di sekitar Jalan Tambak dan Matraman Dalam. Aparat melakukan patroli untuk mencegah terjadinya bentrokan susulan.

Sejumlah personel terlihat berjalan kaki menyusuri Jalan Tambak hingga kawasan gerobak makanan yang diduga menjadi titik awal keributan. Pengamanan juga dilakukan di sekitar masjid yang berada tidak jauh dari lokasi.

Polisi Bantah Isu Nasi Uduk Tak Dibayar dan Masjid Dirusak

Kapolsek Menteng AKBP Braiel Arnold Rondonuwu membantah informasi yang beredar di media sosial bahwa bentrokan dipicu oleh kelompok etnis Ambon yang makan nasi uduk tetapi tidak membayar.

Ia juga membantah adanya perusakan masjid dalam peristiwa tersebut.

“Berdasarkan keterangan penjual nasi uduk, tidak ada rekan-rekan dari pihak Timur atau saudara-saudara kita dari Ambon yang membeli dan tidak membayar nasi uduk,” kata Braiel.

Menurut dia, informasi yang diterima polisi menyebut kelompok tersebut tidak membeli nasi uduk. Mereka disebut membeli bubur.

Braiel juga memastikan tidak ada rumah ibadah yang dirusak. Klarifikasi itu, kata dia, telah dilakukan bersama pengurus Masjid Jami Matraman.

“Tidak ada kerusakan terhadap rumah ibadah yang dilakukan oleh saudara-saudara kita dari Timur,” ujarnya.

Advokat Kelompok Ambon Bantah Narasi yang Beredar

Advokat kelompok etnis Ambon, Nefton Alfares, juga membantah narasi yang menyebut kelompok tersebut makan nasi uduk tanpa membayar hingga memicu bentrokan.

Menurut Nefton, persoalan bermula ketika salah satu anggota kelompok menyalakan sepeda motor. Suara kendaraan itu kemudian dianggap bising oleh orang yang berada di sekitar lokasi.

“Pemicunya adalah ada saudara kami yang menyalakan motor. Suara motor itu dianggap bising oleh warga yang duduk di sekitar nasi uduk, sehingga terjadi cekcok,” ujar Nefton.

Ia juga membantah tudingan bahwa kelompok Ambon merusak masjid. Menurut dia, bentrokan memang terjadi di depan masjid, tetapi tidak ada tindakan perusakan terhadap rumah ibadah tersebut.

“Peristiwanya kebetulan terjadi di depan masjid. Jadi bukan saudara-saudara kami sengaja melakukan perusakan terhadap masjid,” katanya.

Nefton kembali menegaskan bahwa kelompok tersebut tidak makan nasi uduk dan tidak melakukan aksi makan tanpa membayar.

Ia meminta polisi menindak seluruh pihak yang terlibat dalam bentrokan, termasuk mereka yang terekam dalam video.

“Kami meminta semua yang teridentifikasi dalam video ditangkap karena mereka adalah pihak yang mengakibatkan dua saudara kami menjadi korban,” tegasnya.

Artikel Lainnya