Nasional

Presiden Prabowo Dorong Penggunaan Atap Ijuk dan Rumbia, Arsitek: Relevan tetapi Kurang Praktis

Oleh : Rikard Djegadut - Sabtu, 01/08/2026 13:04 WIB


 

Jakarta, INDONEWS.ID – Presiden Prabowo Subianto mengusulkan agar masyarakat kembali memanfaatkan bahan-bahan alami seperti ijuk dan rumbia sebagai material atap rumah. Gagasan tersebut disampaikan sebagai alternatif penggunaan seng dan asbes yang menurutnya berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan, sekaligus sebagai upaya menghidupkan kembali identitas arsitektur tradisional Indonesia.

Usulan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Jumat (31/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menilai masyarakat Indonesia sejak dahulu telah memiliki kemampuan membangun rumah dengan material lokal, termasuk genteng, ijuk, maupun rumbia.

"Aslinya bangsa Indonesia tidak memakai seng. Kalau perlu kita kembali pakai ijuk, kembali pakai rumbia, kalau tidak kita harus cari alternatif. Rakyat kita dari dulu bisa bikin genteng, genteng bukan teknologi baru," ujar Prabowo.

Menurut Presiden, penggunaan seng, terutama yang telah mengalami korosi, dikhawatirkan dapat berdampak terhadap kesehatan penghuni rumah. Karena itu, ia mendorong penggunaan material yang dinilai lebih aman sekaligus sesuai dengan karakter bangunan tradisional Nusantara.

Dalam kajian ilmiah mengenai material bangunan tradisional, atap ijuk dibuat dari serat hitam pohon aren (Arenga pinnata). Serat tersebut dikenal memiliki kekuatan mekanis yang baik, tahan terhadap kelembapan, tidak mudah rapuh, serta mampu bertahan menghadapi perubahan cuaca sehingga sejak lama dimanfaatkan sebagai penutup bangunan di berbagai daerah di Indonesia.

Sementara itu, atap rumbia memanfaatkan daun pohon rumbia atau nipah yang banyak tumbuh di kawasan tropis. Setelah melalui proses pengeringan dan pengolahan, daun tersebut dapat disusun menjadi penutup atap yang ramah lingkungan dan memiliki kemampuan meredam panas secara alami.

Arsitek: Relevan, Tapi Tak Praktis

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Aryanto, mengatakan penggunaan ijuk dan rumbia bukanlah hal baru dalam sejarah arsitektur Nusantara. Menurutnya, hampir seluruh rumah tradisional di Indonesia pada masa lalu memanfaatkan kedua material tersebut sebelum material modern berkembang luas.

"Pada masa dahulu, seluruh rumah di Nusantara memakai atap berbahan dasar ijuk atau rumbia karena berbahan dasar alami," kata Teguh.

Ia menjelaskan bahwa secara teknis material tersebut masih memungkinkan digunakan pada bangunan masa kini. Namun, penerapannya menghadapi berbagai kendala, terutama dari sisi ketersediaan bahan, industri pendukung, serta efisiensi konstruksi.

Menurut Teguh, perkembangan industri bahan bangunan telah menghadirkan berbagai pilihan atap yang lebih praktis, lebih kuat, dan memiliki usia pakai lebih panjang. Selain itu, atap berbahan ijuk maupun rumbia juga memiliki sejumlah keterbatasan.

"Banyak kelemahan dari bahan tersebut, seperti mudah terbakar dan rentan terhadap kebocoran," ujarnya.

Selain persoalan daya tahan, penggunaan atap alami juga memerlukan perawatan berkala serta tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus dalam pemasangannya. Kondisi tersebut membuat material tradisional semakin jarang digunakan, terutama di kawasan perkotaan.

Meski demikian, sejumlah kalangan menilai atap ijuk dan rumbia tetap memiliki nilai penting sebagai bagian dari warisan arsitektur Indonesia. Material alami tersebut juga dinilai memiliki keunggulan dalam menjaga kenyamanan termal bangunan serta lebih ramah lingkungan dibandingkan sebagian material konstruksi modern.

Artikel Lainnya