Nasional

IKAMADA Sukses Gelar Festival Budaya Manggarai di TMII

Merawat Manggarai dari Tanah Rantau: Ketika Diaspora Menjaga Warisan Leluhur

Oleh : Rikard Djegadut - Selasa, 04/08/2026 20:34 WIB


Foto: Dok. IKAMADA/Kormen

Jakarta, INDONEWS.ID  - Susana di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada Minggu, (2/8/26) pagi terasa berbeda dari biasanya. Ribuan orang mengenakan kain tenun songke dan berbagai atribut khas Manggarai memenuhi jalur menuju Anjungan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di antara dentuman gong dan tabuhan gendang, mereka berjalan beriringan sambil melantunkan syair adat. Bagi sebagian besar peserta, perjalanan sejauh hampir satu kilometer itu bukan sekadar kirab budaya. Itu adalah perjalanan pulang—setidaknya secara batin—ke tanah Manggarai yang berjarak lebih dari seribu kilometer dari Jakarta.

Sejak pukul 05.00 WIB, peserta sudah mengantre memasuki kawasan TMII. Hampir seribu orang mengikuti kirab budaya yang kemudian menjadi pembuka Festival Budaya yang digelar Ikatan Keluarga Manggarai Raya Djakarta (IKAMADA)—sebuah perayaan yang mempertemukan warga Manggarai diaspora dari berbagai penjuru ibu kota dan sekitarnya.

Di tengah hiruk pikuk kota metropolitan, festival itu menjadi cara diaspora Manggarai memastikan akar budaya mereka tidak tercerabut oleh jarak dan waktu.

Ketika pertunjukan dimulai, satu per satu kesenian tradisional tampil di hadapan ribuan penonton. Tarian Caci yang sarat makna, Sanda, Mbata, Danding Ndudundake hingga Goyang Ria bergantian menghidupkan panggung.

Sorak penonton berpadu dengan lagu-lagu timur yang membawa suasana khas Flores ke jantung Jakarta. Namun bagi komunitas Manggarai, festival itu bukan sekadar pertunjukan seni.

Ketua IKAMADA, Rikard Bagun, mengatakan setiap unsur budaya yang ditampilkan menyimpan filosofi yang diwariskan turun-temurun. Salah satunya adalah kain tenun songke yang dikenakan hampir seluruh peserta kirab.

"Songke tidak hanya ragam hias. Banyak motif terinspirasi alam, seperti flora, baru kemudian fauna. Karena asosiasi pertama orang Manggarai adalah alam," ujarnya.

Pandangan itu menggambarkan bahwa budaya Manggarai tidak berhenti pada tarian atau pakaian adat, melainkan juga cara masyarakat memandang hubungan manusia dengan alam dan kehidupan.

Semangat itulah yang diangkat melalui tema festival tahun ini, "Reko Be`o Tanah Kuni Agu Kalo", yang bermakna mencintai sekaligus merawat nilai-nilai budaya sebagai warisan leluhur.

Tokoh Manggarai lainnya, Gaudens Wodar, menilai tema tersebut menjadi pengingat bahwa identitas budaya tidak boleh luntur hanya karena seseorang tinggal jauh dari kampung halaman.

"Merawat budaya berarti merawat identitas dan asal-usul, meski kita merantau jauh," katanya.

Menurut Gaudens, tradisi Manggarai menyimpan nilai-nilai yang sering kali tidak dipahami masyarakat luar. Misalnya tarian Caci yang kerap dianggap sekadar pertunjukan saling cambuk. Padahal, setiap gerakan diatur oleh norma, etika, dan nilai spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, ia berharap pemerintah terus mendukung upaya pelestarian budaya agar tradisi tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Pelestarian budaya juga diwujudkan melalui kuliner. Di sepanjang area festival, aroma kopi Congkar Manggarai, kompiang hangat, soto ayam, cucur gola, olahan daun kelor hingga ayam Putus Lidah mengundang pengunjung untuk mengenal cita rasa khas Manggarai.

Puluhan pelaku UMKM memanfaatkan festival sebagai ruang memperkenalkan produk mereka. Kain songke, makanan tradisional hingga kopi lokal menjadi bukti bahwa budaya juga mampu menjadi penggerak ekonomi kreatif masyarakat perantauan.

Festival yang digagas Ikatan Keluarga Manggarai Raya Djakarta (IKAMADA) terselenggara berkat campur tangan berbagai komunitas diaspora Manggarai di Jabodetabek, seperti Komunitas Perempuan Manggarai (KPM), AK5 Jakarta Barat, IKAMASI Bekasi, DEBORA Depok Bogor Raya, serta didukung mahasiswa Manggarai yang tengah menempuh pendidikan di sejumlah perguruan tinggi.

Ketua panitia Libertus Jehani mengatakan panitia bahkan menyediakan sekitar 650 tiket gratis agar semakin banyak warga Manggarai maupun masyarakat umum dapat ikut merasakan kemeriahan festival.

Antusiasme masyarakat pun melampaui perkiraan. Ribuan orang memadati Anjungan NTT hingga sore hari. Sejumlah stasiun televisi nasional, content creator, dan pegiat media sosial ikut mendokumentasikan jalannya acara.

Penyelenggara memperkirakan sekitar 5.000 orang menghadiri festival tersebut. Namun di balik angka itu, tersimpan pesan yang lebih besar. Festival Budaya Diaspora Manggarai menunjukkan bahwa identitas tidak selalu ditentukan oleh tempat tinggal.

Di tengah kehidupan metropolitan yang serba cepat, masyarakat Manggarai membuktikan warisan leluhur tetap dapat hidup melalui tarian, musik, tenun, kuliner, hingga kebersamaan antarsesama perantau.

Bagi diaspora Manggarai, menjaga budaya bukan sekadar mengenang masa lalu. Itu adalah cara memastikan generasi berikutnya tetap mengenal dari mana mereka berasal, meski tumbuh jauh dari tanah kelahiran.*

Artikel Lainnya