Bisnis

Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Triwulan Kedua 2026, CELIOS: Data Pemerintah Diragukan

Oleh : very - Rabu, 05/08/2026 17:06 WIB


Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda. (Foto: Ist)
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Pemerintah mengumumkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua 2026 sebesar 5,29 persen, melambat dibandingkan dengan triwulan pertama 2026 yang tumbuh sebesar 5,61 persen. Namun masih tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan kedua 2025 yang tumbuh sebesar 5,12 persen.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan 2 yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu itu, tidak sejalan dengan kondisi ekonomi yang terjadi di masyarakat.

Data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, mengalami penurunan jika kita tarik dari awal tahun. “Untuk pertumbuhan IKK (YoY) pada April-Juni di angka 1,0 persen (April), 2,9 persen (Mei), dan 0,0 persen (Juni). Tidak ada kenaikan yang signifikan dari sisi keyakinan konsumsi masyarakat,” ujarnya melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Data kedua yakni terkait dengan sektor ritel atau perdagangan dengan pertumbuhan 6,39 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang tumbuh sebesar 5,38 persen.

Padahal Indeks Perdagangan Ritel (IPR) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada April, Mei, Juni 2026 menurun dibandingkan tahun lalu maupun 3 bulan awal tahun.

Pada April, kata Nailul, IPR turun sebesar -3,67 persen, Mei (-3,89 persen), dan Juni (-4,44 persen). ”Jadi sektor ritel mengalami penurunan tajam, tapi pemerintah menyebutkan sektor ritel tumbuh tinggi. Alasannya adalah adanya pengiriman mobil niaga (untuk keperluan KDMP) yang jumlahnya tidak besar, dan nilai tambah penjualannya juga kecil. Selain itu, mobil niaga juga diimpor sehingga nilai tambah ke industri juga sangat kecil,” katanya.

Selain itu, industri pengolahan non migas tumbuh 5,32 persen, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan 2 2026, namun masih lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan pertama 2026.

Angka yang masih 5,32 persen ini, kata Nailul, menunjukkan keanehan ketika kita bandingkan dengan Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur yang di triwulan kedua di batas zona ekspansif dengan nilai 49,1 (April), 50 (Mei), 46,9 (Juni).

Ketika di bawah 50 maka perusahaan tidak melakukan ekspansi usaha-nya yang artinya tambahan produksi akan sangat minim.

Sedangkan dari sisi pengeluaran, untuk Pembentukan Modal Tetap Bruto masih didominasi oleh Impor Kendaraan yang bersumber dari importasi mobil untuk Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

”Artinya adalah importasi masih menjadi penyumbang pertumbuhan PMTB dan bisa berdampak buruk ke industri pengolahan alat angkutan atau otomotif dalam negeri. Hal ini bisa jadi pembenaran kita melakukan importasi secara terus menerus,” katanya.

Dari sisi konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 5,06 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan kedua 2025 (4,97 persen) di saat share pendapatan masyarakat untuk konsumsi mengalami perlambatan.

Pada data Bank Indonesia, share pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi hanya 72-73 persen saja. Tahun lalu, dengan periode waktu yang sama, di angka 74-75 persen.

”Artinya, masyarakat lebih menahan konsumsinya di triwulan kedua 2026. Meskipun ada kenaikan upah buruh yang relatif kecil sebesar 3 persen. Kecurigaan saya, kenaikan konsumsi  ditopang oleh orang kaya yang pada akhirnya menyebabkan ketimpangan pengeluaran semakin melebar,” pungkasnya. *

Artikel Lainnya