Opini

MATA KETIGA: ZHANG ZHISHUN DAN MISTERI PANJANG UMUR MANUSIA

Oleh : luska - Senin, 10/08/2026 05:29 WIB


MATA KETIGA: ZHANG ZHISHUN DAN MISTERI PANJANG UMUR MANUSIA

Oleh:Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol


Jakarta, 9 , Agustus 2026


Manusia modern berhasil memperpanjang kehidupan melalui kedokteran, sanitasi, nutrisi, obat-obatan, dan teknologi.


Namun jauh sebelum laboratorium modern mengenal genetika dan biologi molekuler, peradaban-peradaban tua telah mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar:


APAKAH PANJANG UMUR HANYA PERSOALAN MEMPERTAHANKAN TUBUH?


Kisah Taois Zhang Zhishun (张至顺) membawa kita memasuki pertanyaan tersebut.


Ia hidup melampaui satu abad dan dikenal menjalani kehidupan yang sangat disiplin dalam tradisi Tao.


Tetapi yang menarik bukan semata-mata angka usianya.


Yang lebih menarik adalah CARA MEMANDANG MANUSIA.


Dalam pemikiran Tao terdapat konsep Jing, Qi, dan Shen—tiga dimensi yang secara tradisional menggambarkan esensi kehidupan, daya kehidupan, serta spirit atau kesadaran.


Manusia tidak dipandang sekadar sebagai kumpulan organ.


Tubuh harus dijaga.


Energi harus ditata.


Pikiran harus ditenangkan.


Dan kesadaran harus dibentuk.


Di sinilah muncul sebuah paradoks peradaban modern.


Kita semakin mengetahui cara kerja tubuh, tetapi belum tentu semakin memahami cara menjalani kehidupan.


Kita mampu memperpanjang fungsi organ, tetapi belum tentu mampu menenangkan pikiran.


Kita mempunyai teknologi untuk mengukur detak jantung, tekanan darah, tidur, bahkan aktivitas otak—tetapi belum mempunyai alat yang dapat mengukur secara utuh MAKNA sebuah kehidupan.


MATA KETIGA


Mata pertama melihat dunia di luar diri.


Mata kedua melihat kenyataan melalui akal dan pengetahuan.


Tetapi Mata Ketiga adalah metafora bagi kemampuan manusia melihat ke dalam dirinya sendiri.


Bukan kemampuan supranatural.


Melainkan KESADARAN.


Kesadaran terhadap tubuhnya.


Kesadaran terhadap pikirannya.


Kesadaran terhadap emosinya.


Kesadaran terhadap batas dirinya.


Dan akhirnya kesadaran mengenai untuk apa kehidupan itu dijalani.


Mungkin rahasia panjang umur tidak pernah berada pada satu latihan, satu makanan, satu ramuan, ataupun satu teknik pernapasan.


Genetika berperan.


Lingkungan berperan.


Nutrisi berperan.


Aktivitas fisik berperan.


Kesehatan dan pelayanan medis berperan.


Tetapi kisah Zhang Zhishun mengingatkan kita pada satu dimensi yang sering terlupakan:


BAGAIMANA MANUSIA MENJALANI KEHIDUPANNYA SENDIRI.


Karena umur panjang yang sesungguhnya mungkin bukan hanya persoalan:


BERAPA LAMA MANUSIA HIDUP.


Melainkan:


DALAM KEADAAN SEPERTI APA IA HIDUP, SEBERAPA JERNIH KESADARANNYA, DAN APA MAKNA YANG DITINGGALKANNYA.


Di sanalah pencarian tentang panjang umur berubah menjadi pencarian tentang manusia.


Dan mungkin di sanalah Mata Ketiga mulai terbuka.


TUBUH YANG MENUA, KESADARAN YANG TETAP HIDUP


Ada sesuatu yang menarik ketika manusia melihat seseorang yang telah melewati usia satu abad tetapi masih mampu berdiri tegak, berkomunikasi, bergerak, dan mempertahankan kejernihan pikirannya.


Pertanyaannya bukan lagi sekadar:


BAGAIMANA IA DAPAT HIDUP BEGITU LAMA?


Pertanyaan yang lebih penting adalah:


BAGAIMANA KUALITAS KEHIDUPANNYA DAPAT BERTAHAN DI USIA YANG SANGAT LANJUT?


Di sinilah kisah Zhang Zhishun menjadi menarik untuk dibaca berdampingan dengan pengetahuan modern.


Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa umur panjang tidak mempunyai satu penyebab tunggal.


Genetika memberikan fondasi, tetapi kehidupan sehari-hari ikut menentukan bagaimana tubuh mengalami proses penuaan. Aktivitas fisik, makanan, tidur, lingkungan, hubungan sosial, paparan penyakit, pelayanan kesehatan, serta berbagai faktor lain saling berinteraksi sepanjang kehidupan.


Tradisi Tao menggunakan bahasa yang berbeda.


Ia berbicara mengenai keseimbangan.


Tentang napas.


Tentang gerak.


Tentang ketenangan.


Tentang pengendalian keinginan.


Dan tentang hubungan manusia dengan alam serta dirinya sendiri.


Apakah qi sama dengan energi yang dikenal dalam ilmu fisika?


Tidak.


Apakah jing dapat begitu saja diterjemahkan sebagai genetika?


Tidak.


Apakah shen identik dengan aktivitas otak?


Juga tidak.


Masing-masing lahir dari sistem pengetahuan yang berbeda.


Tetapi ketika keduanya ditempatkan berdampingan secara hati-hati, muncul sebuah titik pertemuan yang menarik:


MANUSIA ADALAH SEBUAH KESATUAN.


Tubuh memengaruhi pikiran.


Pikiran memengaruhi perilaku.


Perilaku memengaruhi tubuh.


Lingkungan memengaruhi semuanya.


Dan seluruh proses itu berlangsung terus-menerus selama manusia hidup.


PANJANG UMUR BUKAN SEKADAR MENAMBAH TAHUN


Di sinilah pengertian panjang umur perlu diperluas.


Apa artinya hidup seratus tahun apabila puluhan tahun terakhir dijalani tanpa kemandirian, kejernihan, ataupun kemampuan menikmati kehidupan?


Ilmu kesehatan modern mengenal gagasan healthspan: bukan hanya berapa lama seseorang hidup, tetapi berapa lama kehidupan tersebut dapat dijalani dalam kondisi relatif sehat dan berfungsi.


Tradisi kuno tentu tidak menggunakan istilah healthspan.


Namun disiplin kehidupan yang menekankan gerak, keteraturan, pengendalian diri, ketenangan batin, dan keseimbangan menunjukkan bahwa manusia sejak lama telah memikirkan kualitas kehidupan pada usia lanjut.


Maka pencarian kita mulai berubah.


Bukan lagi mencari RAMUAN PANJANG UMUR.


Bukan mencari satu teknik rahasia.


Bukan pula mengejar keabadian tubuh.


Yang kita cari adalah:


BAGAIMANA MEMELIHARA KEUTUHAN MANUSIA SELAMA MUNGKIN.


DARI JING–QI–SHEN MENUJU TUBUH–ENERGI–KESADARAN


Di titik inilah saya melihat sebuah jembatan pemikiran.


Tradisi Tao berbicara mengenai Jing–Qi–Shen.


Ilmu modern berbicara mengenai tubuh biologis, metabolisme, sistem saraf, psikologi, lingkungan, dan perilaku.


Sedangkan dalam pencarian filosofis yang lebih luas, kita dapat melihat manusia melalui tiga lapisan:


TUBUH — ENERGI — KESADARAN.


Tubuh adalah wadah kehidupan.


Energi memungkinkan sistem kehidupan bekerja.


Kesadaran memberi arah terhadap bagaimana kehidupan itu dijalankan.


Tetapi ketiganya tidak boleh dipisahkan.


Tubuh tanpa energi berhenti bekerja.


Energi tanpa sistem tidak mempunyai keteraturan.


Dan kekuatan tanpa kesadaran dapat kehilangan arah.


Karena itu, mungkin persoalan terbesar manusia modern bukan hanya bagaimana memperpanjang usia.


Melainkan bagaimana menjaga agar semakin panjang usia seseorang, semakin matang pula kesadarannya.


Tubuh memang akan menua.


Kekuatan fisik akan berubah.


Tetapi pengalaman dapat berkembang menjadi kebijaksanaan.


Keinginan dapat berubah menjadi pengendalian diri.


Dan pengetahuan dapat berkembang menjadi kesadaran.


Jika itu terjadi, usia tua bukan semata-mata periode kemunduran.


Ia dapat menjadi PUNCAK PEMATANGAN MANUSIA.


Mungkin inilah pelajaran yang lebih dalam dari pencarian panjang umur:


TUJUAN MANUSIA BUKAN SEKADAR MENAMBAHKAN TAHUN KE DALAM KEHIDUPAN, TETAPI MENAMBAHKAN KEHIDUPAN, KEJERNIHAN, DAN MAKNA KE DALAM TAHUN-TAHUN YANG MASIH DIMILIKINYA.


MATA KETIGA DAN KESADARAN MANUSIA


Jika tubuh adalah wadah, energi adalah daya, dan pikiran adalah pengolah informasi, maka masih tersisa satu pertanyaan:


SIAPA YANG MENYADARI SEMUANYA?


Di sinilah istilah Mata Ketiga memperoleh makna yang lebih dalam.


Mata Ketiga dalam tulisan ini bukan organ baru pada tubuh manusia. Bukan pula klaim tentang kemampuan melihat sesuatu yang tidak terlihat.


Ia adalah metafora tentang KESADARAN YANG MAMPU MELIHAT DIRINYA SENDIRI.


Manusia dapat melihat dunia, tetapi belum tentu mampu melihat dirinya.


Ia dapat mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu memahami keinginannya sendiri.


Ia dapat menguasai teknologi, organisasi, bahkan manusia lain, tetapi belum tentu mampu menguasai kemarahan, ketakutan, keserakahan, dan egonya.


Karena itu, tingkat tertinggi dari kecerdasan mungkin bukan hanya kemampuan mengetahui dunia.


Tetapi kemampuan MENGENALI DIRI SENDIRI DI DALAM DUNIA.


DARI KESADARAN MENUJU KESELARASAN


Di sinilah tradisi kuno dan pengetahuan modern dapat berdialog tanpa harus dipaksakan menjadi sama.


Tradisi Tao berbicara tentang keseimbangan dan kultivasi diri.


Ilmu pengetahuan mempelajari tubuh, otak, perilaku, stres, tidur, aktivitas fisik, nutrisi, dan proses penuaan.


Sementara pengalaman kehidupan mengajarkan sesuatu yang tidak kalah penting:


MANUSIA TIDAK HIDUP DALAM BAGIAN-BAGIAN.


Ketika pikiran terguncang, tubuh dapat merasakannya.


Ketika tubuh melemah, pikiran dapat terpengaruh.


Ketika kehidupan kehilangan tujuan, seluruh cara manusia menjalani harinya dapat berubah.


Karena itu, panjang umur tidak seharusnya dipisahkan dari kualitas kesadaran.


Bukan hanya:


BERAPA TAHUN KITA HIDUP?


Tetapi:


DALAM KESADARAN SEPERTI APA KITA MENJALANI TAHUN-TAHUN ITU?


RAHASIA YANG MUNGKIN BUKAN RAHASIA


Manusia selama ribuan tahun mencari ramuan kehidupan.


Kini ilmu pengetahuan mencari jawabannya melalui genetika, regenerasi sel, metabolisme, bioteknologi, dan berbagai penelitian tentang penuaan.


Pencarian itu penting.


Tetapi kisah manusia seperti Zhang Zhishun mengingatkan kita bahwa ada pertanyaan lain yang tidak boleh hilang:


BAGAIMANA KITA HIDUP?


Mungkin tidak ada satu rahasia panjang umur.


Yang ada adalah suatu ekosistem kehidupan:


gerak yang cukup,


makanan yang terjaga,


istirahat,


keteraturan,


hubungan manusia,


ketenangan batin,


kemampuan beradaptasi,


tujuan hidup,


dan kesadaran untuk menjaga diri.


Tidak semuanya menjamin seseorang mencapai usia seratus tahun.


Tetapi semuanya mengingatkan bahwa kehidupan bukan hanya sesuatu yang kita MILIKI.


Kehidupan adalah sesuatu yang setiap hari harus kita KELOLA.


PENUTUP — MELIHAT KE DALAM


Pada akhirnya, Mata Ketiga bukanlah tentang kemampuan melihat masa depan.


Ia adalah kemampuan melihat sesuatu yang justru paling dekat tetapi sering tidak terlihat:


DIRI KITA SENDIRI.


Melihat kapan tubuh meminta berhenti.


Melihat kapan pikiran mulai kehilangan kejernihan.


Melihat kapan keinginan berubah menjadi keserakahan.


Melihat kapan kekuasaan mulai menguasai pemiliknya.


Melihat kapan hidup yang sibuk mulai kehilangan makna.


Dan melihat bahwa umur panjang tanpa kesadaran hanyalah perpanjangan waktu.


Sedangkan kehidupan yang dijalani dengan kesadaran dapat mengubah waktu menjadi kebijaksanaan.


Zhang Zhishun akhirnya meninggalkan dunia setelah menjalani kehidupan yang sangat panjang.


Tetapi pertanyaan yang ditinggalkannya jauh melampaui angka usia:


APAKAH KITA HANYA INGIN HIDUP LEBIH LAMA—ATAU INGIN MENJADI LEBIH UTUH SELAMA KITA HIDUP?


Mungkin manusia tidak pernah menemukan keabadian tubuh.


Tetapi selama ia masih mampu belajar, menyadari, memperbaiki diri, dan memberi makna kepada kehidupan, ada sesuatu dalam dirinya yang terus bertumbuh.


Dan mungkin—


DI SANALAH MATA KETIGA SESUNGGUHNYA TERBUKA.


Brigjen (Purn.) MJP 

Hutagaol


Jakarta, 9 Agustus 2026

Artikel Lainnya