Nasional

AS Turun Tangan Saat Suriah-Israel Kembali Memanas, Apa yang Dibahas?

Oleh : Rikard Djegadut - Senin, 24/08/2026 19:38 WIB


AS Turun Tangan Saat Suriah-Israel Kembali Memanas, Apa yang Dibahas?

Konflik Suriah-Israel Kembali Memanas, AS Turun Tangan Mediasi

Jakarta, INDONEWS.ID - Ketegangan antara Suriah dan Israel kembali meningkat. Amerika Serikat (AS) turun tangan dengan memediasi pertemuan tingkat tinggi antara kedua negara yang digelar di Yordania, Minggu (23/8/2026).

Kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan pertemuan tersebut digelar untuk meredakan ketegangan setelah Israel melancarkan serangan terhadap pangkalan udara Abu Al Duhur di Suriah.

Informasi mengenai pertemuan itu disampaikan melalui sumber diplomatik di Kementerian Luar Negeri Suriah. Selain membahas ketegangan terbaru, pertemuan tersebut juga diarahkan untuk mencegah Suriah terseret lebih jauh dalam ketegangan antara Israel dan Turki.

Pertemuan di Yordania menjadi salah satu upaya diplomatik penting karena merupakan negosiasi langsung pertama antara Suriah dan Israel dalam beberapa bulan terakhir.

Delegasi Suriah dipimpin Menteri Luar Negeri Asaad Al Shaibani. Sementara dari pihak Israel hadir sejumlah pejabat, termasuk Kepala Mossad Roman Gofman.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas sejumlah mekanisme untuk mencegah terjadinya konfrontasi lebih luas di wilayah Suriah.

Salah satu usulan yang dibahas adalah pembentukan "ruang operasi khusus" di Yordania. Ruang tersebut nantinya akan diawasi oleh AS dan ditujukan untuk mencegah eskalasi konflik di Suriah.

Pembentukan mekanisme tersebut juga berkaitan dengan kekhawatiran konflik Suriah-Israel berkembang dan melibatkan Turki.

Informasi mengenai pembahasan itu dilaporkan Middle East Eye dengan mengutip sumber diplomatik dan sumber pemerintah Suriah yang disampaikan kepada AFP.

Suriah Tegaskan Status Dataran Tinggi Golan

Dalam perundingan tersebut, delegasi Suriah kembali menegaskan posisi Damaskus bahwa Dataran Tinggi Golan merupakan wilayah Suriah yang diduduki Israel.

Suriah juga menilai pembahasan mengenai status akhir wilayah tersebut masih terlalu dini untuk dilakukan dalam perundingan saat ini. Damaskus kemudian menyampaikan dua prioritas utama dalam pembicaraan.

Pertama, Suriah meminta Israel menarik pasukannya ke posisi sebelum 8 Desember 2024. Kedua, Suriah mendesak implementasi penuh perjanjian pelepasan pasukan 1974.

Perjanjian tersebut menjadi salah satu dasar pengaturan pemisahan pasukan Suriah dan Israel di kawasan Golan.

Pertemuan di Yordania berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai kemungkinan meluasnya konflik di kawasan. Keterlibatan AS menunjukkan Washington masih berupaya memainkan peran sebagai mediator untuk mencegah ketegangan antara Suriah dan Israel berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Artikel Lainnya