Gaya Hidup

Kreatif Merdeka Carnival 2026: Tiga Tokoh Film Bahas Masa Depan Komedi Indonesia dari Warkop hingga Agak Laen

Oleh : rio apricianditho - Rabu, 26/08/2026 22:58 WIB


Kreatif Merdeka Carnival 2026: Tiga Tokoh Film Bahas Masa Depan Komedi Indonesia dari Warkop hingga Agak Laen

Jakarta, INDONEWS.ID - Masa depan film komedi Indonesia menjadi salah satu pembahasan utama dalam Diskusi Film Komedi dalam rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 yang digelar Pusat Produksi Film Negara (PFN) di PFN Heritage, Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Diskusi bertajuk “Komedi dari Warkop sampai Agak Laen” itu menghadirkan kritikus, Sutradara dan akademisi film Joko Nugroho, sutradara sekaligus aktor Harry De Fretes, serta komedian senior Didin Bonito dari grup Bagito. Diskusi dipandu Alyne Maarif dan diikuti ratusan pelajar serta guru dari sekolah perfilman dan pendidikan menengah se-Jabodetabek.

Forum tersebut tidak sekadar membicarakan sejarah komedi di layar lebar, tetapi juga menyoroti regenerasi pelaku industri, perubahan selera penonton, kebebasan kreatif, hingga tantangan sineas muda dalam memproduksi dan mendistribusikan film.


Didin Bonito: Komedi Tak Sekadar Membuat Penonton Tertawa


Didin Bonito menilai regenerasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan genre komedi Indonesia. Ia mendorong generasi muda untuk tidak menunggu kesempatan datang, tetapi mulai membangun karya sejak sekarang.

“Kalau tidak mulai kapan lagi? Coba dari sekarang. Mumpung masih muda,” kata Didin.

Menurutnya, film komedi idealnya tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa pesan yang dapat memberikan semangat kepada penonton. 

Didin juga melihat adanya perubahan dalam lanskap komedi Indonesia. Jika sebelumnya pelawak menjadi wajah utama genre tersebut, kini aktor juga semakin banyak mengambil peran dalam film komedi.

“Setiap zaman ada bintangnya,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan generasi muda bahwa perkembangan platform digital seperti YouTube dan TikTok telah membuka ruang ekspresi yang jauh lebih luas. Berbagai persoalan sosial dan kehidupan masyarakat Indonesia, kata dia, masih dapat dikembangkan menjadi materi cerita komedi.


Harry De Fretes: Film Komedi Harus Berani Bercerita tentang Indonesia


Harry De Fretes kemudian mengajak peserta mempertanyakan makna “merdeka” dalam konteks kreativitas film komedi.

Ia menilai sebuah karya belum sepenuhnya merdeka apabila cerita yang diangkat justru tidak berangkat dari realitas dan karakter masyarakat Indonesia.

“Jangan-jangan film komedi kita ceritanya bukan tentang masyarakat kita. Berarti belum merdeka dong, masih numpang,” ujar Harry.

Harry juga menilai komedi memiliki fungsi penting bagi masyarakat. Di tengah berbagai tekanan sosial, film komedi dapat menjadi ruang bagi penonton untuk mendapatkan hiburan sekaligus melihat persoalan kehidupan dari perspektif yang lebih ringan.

“Tertawa itu the best obat. Pas rakyat tegang, kita butuh film komedi dan film Komedi akan ada terus di hati masyarakat dan penikmat film komedi,” paparnya.

Menurut Harry, dominasi film horor selama beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan tanda-tanda pergeseran. Kesuksesan film Agak Laen menjadi salah satu indikator bahwa komedi masih memiliki kekuatan besar di pasar film nasional.

Meski demikian, ia mengingatkan pelaku industri agar tidak hanya mengejar tren. Kualitas cerita dan keberanian berinovasi tetap menjadi faktor penting dalam menjaga masa depan genre komedi.

Harry juga berharap PFN mengambil peran lebih besar dalam ekosistem produksi film nasional. "PFN jangan cuma jadi gedung. Ayo produksi film komedi yang berkualitas dan diterima masyarakat,” tegasnya.


Joko Nugroho Soroti Kesenjangan Selera Antar-generasi


Sementara itu, Joko Nugroho melihat tantangan lain dalam perkembangan film komedi, yakni perbedaan selera humor antara generasi lama dan generasi baru.

Menurutnya, humor yang populer pada era Warkop belum tentu memiliki respons yang sama dari penonton generasi sekarang “Kekuatan Warkop dan Agak Laen itu sama. Hanya eranya yang berbeda,” jelas Joko.

Ia menilai diperlukan ruang dialog yang mempertemukan pelaku industri dari berbagai generasi. Dengan begitu, pengalaman komedian senior dapat bertemu dengan perspektif kreator muda.

Joko menawarkan dua pendekatan yang dapat dikembangkan industri. Film komedi bisa dibuat secara spesifik berdasarkan segmen usia atau dikembangkan menjadi family comedy maupun action comedy yang dapat diterima penonton lintas generasi.

Ia juga memprediksi film komedi Indonesia ke depan akan semakin mengandalkan kekuatan visual dan unsur aksi, seiring munculnya karakter penonton dari generasi Alpha.

Di sisi lain, Joko meminta produser tetap membuka peluang bagi komedian senior untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. "Yang tua belum tentu nggak bisa adaptasi. Kasih kesempatan,” ujarnya.


Sineas Muda Minta Dukungan Produksi hingga Distribusi


Diskusi kemudian berkembang pada persoalan yang dihadapi pelajar dan calon sineas. Peserta mempertanyakan bagaimana gagasan dan karya mereka dapat memperoleh kesempatan untuk masuk ke industri film secara profesional.

Sejumlah peserta menyoroti adanya kesenjangan panjang antara era Warkop dan kemunculan film komedi populer generasi baru. Mereka menyebut penolakan naskah, keterbatasan biaya produksi, fasilitas, hingga akses distribusi dan layar bioskop sebagai sejumlah tantangan yang masih dihadapi kreator muda.

Mereka berharap Kreatif Merdeka Carnival dapat dilanjutkan dengan program yang lebih konkret, seperti dukungan pendanaan produksi, akses fasilitas PFN, pendampingan bagi sineas pemula, serta peluang distribusi dan pemutaran film di bioskop.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa komedi masih memiliki ruang besar dalam industri film Indonesia. Tantangannya kini bukan sekadar membuat penonton tertawa, tetapi melahirkan cerita yang relevan dengan kehidupan masyarakat, mampu menjangkau berbagai generasi, serta memberikan ruang bagi talenta baru dan komedian senior untuk terus berkarya.

Melalui peran lembaga perfilman dan dukungan ekosistem yang lebih kuat, kebangkitan film komedi diharapkan tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi berkembang menjadi salah satu kekuatan utama perfilman nasional.

Artikel Lainnya