Bisnis

Survei PP ISEI Terkait Persepsi Ekonomi: Kondisi Perekonomian Akan Semakin Baik dalam 6 Bulan ke Depan

Oleh : very - Jum'at, 28/08/2026 22:48 WIB


Survei Ekonomi. (Foto: Ilustrasi)
Survei Ekonomi. (Foto: Ilustrasi)

Jakarta, INDONEWS.ID – Para ekonom ternyata memiliki pendapat berbeda dengan masyarakat biasa pada umumnya terkait kondisi perekonomian saat ini dan ke depan.

Bagaimana pandangan para ekonom terhadap konsidi perekonomian nasional?

Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI) mengadakan survei secara online, yang biasa dilakukan setiap tahun dan dipublikasikan pada sidang pleno di Bogor 26-28 Agustus 2026. Metodenya dengan purposive sampling khusus kepada responden (4012 responsen), yang memiliki latar belakang ekonomi.

Ekonom Senior, Pengurus Pusat ISEI, Prof. Didik J Rachbini, Ph.D. mengatakan, para ekonom dan responden berlatar belakang ekonomi dan bisnis pada umumnya mempunyai persepsi positif terhadap pertumbuhan ekonomi pada semester 1 tahun 2026 ini (indeks 60).

”Kinerja pertumbuhan 5 persen dinilai sebagai modal untuk terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya. 

Didik mengatakan, persepsi para ekonom dan responden yang berlatar belakang ekonomi dan bisnis tentang pertumbuhan ekonomi semester 2 yang akan datang juga optimistis (indeks 62,3), seperti ditunjukkan dalam indeks yang lebih tinggi dibandingkan dengan indeks semester pertama. 

Persepsi terhadap optimisme pertumbuhan ekonomi ini didukung oleh hasil survei, juga optimistis terhadap kinerja ekspor, yang dianggap lebih tinggi dari impor (indeks 60,3).

Sementara itu, untuk semester kedua yang akan datang lebih yakin lagi dengan kinerja ekspor, yang lebih optimistis (indeks 62,0). Namun demikian, responden mempunyai persepsi lebih kurang yakin terhadap masalah pengangguran dan tingkat inflasi.

Hal ini, kata Didik, berbeda sama sekali dengan survei terhadap publik secara keseluruhan, seperti dilakukan bulan Juli 2026 oleh SMRC. Berdasarkan rilis survei SMRC penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi adalah terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Mayoritas menilai buruk yaitu sebanyak 49,4% responden menilai kondisi ekonomi nasional saat ini dalam kategori buruk atau sangat buruk. Sementara itu, sentimen positif hanya 15,7% masyarakat yang masih memandang ekonomi nasional berada dalam kondisi baik atau sangat baik. Sisa responden lainnya menilai tidak ada perubahan atau memilih tidak menjawab.

Bagaimana survei ini bisa berbeda?

Rektor Universitas Paramadina ini mengatakan, hal tersebut terjadi karena responden yang pertama (diambil secara purposive) adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih mendalam dibandingkan dengan survei publik, yang diambil secara acak.

”Survei yang pertama melihat keadaan lebih realistis karena mengetahui dengan lebih benar dibandingkan dengan yang kedua, yang lebih merupakan persepsi,” katanya.

Sedangkan hasil survei terhadap kepastian hukum, para ekonom dan responden yang berlatar belakang ekonomi dan bisnis memiliki persepsi rendah dan tidak yakin pemerintah dapat menjamin kepastian hukum dengan baik (indeks 53,4). 

Penilaian ini relatif sama dengan persepsi publik terhadap kepastian hukum dari survei SMRC. Jumlah masyarakat yang menilai penegakan hukum berjalan baik atau sangat baik hanya tersisa 26,4 persen dan sebanyak 37,6 persen responden menilai penegakan hukum saat ini buruk atau sangat buruk. Sisanya sebanyak 30,2 persen, memilih menilai penegakan hukum berada dalam kondisi sedang.

Prof Didik mengatakan, kesimpulan dari survei ISEI ini adalah optimisme yang cukup menonjol yaitu anggota ISEI memiliki ekspektasi kondisi perekonomian akan semakin baik dalam 6 bulan ke depan (semester kedua).

”Namun tantangan yang menghadang tidak lain adalah daya beli masyarakat, peningkatan harga-harga (pangan dan energi), serta defisit APBN. Berbeda dengan persepsi umum, anggota ISEI cukup percaya bahwa pemerintah (pusat dan daerah) dinilai memiliki kemapuan dalam peningkatan perekonomian Indonesia,” pungkasnya. *

 

 

Artikel Lainnya