SERI MEMAHAMI ESTOM #15
Dari Maneuver Menuju Feedback dan Pembelajaran
Oleh: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
PENGANTAR
Seri #14 menghasilkan satu pemahaman:
KEPUTUSAN STRATEGIS
BUKAN KEBENARAN YANG ABADI.
IA ADALAH HIPOTESIS
YANG AKAN DIUJI OLEH KENYATAAN.
Lalu bagaimana kenyataan memberikan jawabannya?
Melalui:
HASIL.
Di sinilah banyak organisasi keliru.
Program selesai dianggap berhasil.
Anggaran terserap dianggap berhasil.
Gedung dibangun dianggap berhasil.
Pelatihan dilaksanakan dianggap berhasil.
Laporan selesai dianggap berhasil.
Padahal pertanyaan sebenarnya adalah:
APAKAH KEADAAN
BENAR-BENAR BERUBAH?
Karena:
AKTIVITAS BUKAN HASIL.
OUTPUT BUKAN SELALU OUTCOME.
DAN OUTCOME BELUM TENTU
MENJADI DAMPAK.
1. MANEUVER BUKAN AKHIR
Dalam ESTOM:
ENVIRONMENT
→ SENSING
→ THINKING
→ OPERATION
→ MANEUVER.
Tetapi setelah Maneuver dilakukan,
dunia tidak berhenti.
Kebijakan menghasilkan akibat.
Pasar bereaksi.
Masyarakat bereaksi.
Pesaing atau lawan menyesuaikan.
Teknologi berkembang.
Biaya berubah.
Muncul akibat yang direncanakan
maupun yang tidak direncanakan.
Semua itu membentuk:
ENVIRONMENT BARU.
Maka Maneuver bukan akhir.
Ia adalah awal dari:
PEMBUKTIAN.
2. BEDAKAN AKTIVITAS, OUTPUT, OUTCOME DAN DAMPAK
AKTIVITAS
→ apa yang kita kerjakan.
OUTPUT
→ hasil langsung dari kegiatan.
OUTCOME
→ perubahan yang muncul setelah output digunakan.
DAMPAK
→ perubahan lebih luas dan berjangka panjang.
Contoh:
AKTIVITAS:
membangun jaringan irigasi.
OUTPUT:
saluran irigasi selesai.
OUTCOME:
ketersediaan air pertanian membaik.
DAMPAK:
produktivitas, pendapatan petani
dan ketahanan pangan meningkat.
Karena itu:
SELESAI DIBANGUN
BELUM BERARTI
SELESAI MASALAHNYA.
3. ANGKA BESAR BELUM TENTU HASIL BESAR
Bayangkan:
10.000 ORANG TELAH DILATIH.
Angka itu terlihat besar.
Tetapi tanyakan:
Berapa yang benar-benar memperoleh keterampilan?
Berapa yang bekerja?
Berapa yang produktivitasnya meningkat?
Berapa yang pendapatannya membaik?
Apakah keterampilannya masih relevan
beberapa tahun kemudian?
Karena:
JUMLAH PESERTA
ADALAH OUTPUT.
PERUBAHAN KAPASITAS
ADALAH OUTCOME.
4. INDIKATOR HARUS MENGIKUTI TUJUAN
Misalnya tujuan:
MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN.
Jangan hanya mengukur:
berapa sekolah dibangun,
berapa komputer dibeli,
berapa guru dilatih.
Itu penting.
Tetapi pertanyaan akhirnya:
APAKAH ANAK
BENAR-BENAR BELAJAR LEBIH BAIK?
Indikator harus mengikuti:
TUJUAN.
Bukan sekadar:
AKTIVITAS.
5. ESTONIA — DIGITALISASI ADALAH SISTEM, BUKAN SEKADAR APLIKASI
Estonia memberikan contoh menarik.
Kekuatan digital pemerintahannya
bukan sekadar karena banyak layanan tersedia secara online.
Salah satu fondasinya adalah X-Road:
infrastruktur pertukaran data yang memungkinkan berbagai sistem pemerintah dan pihak terkait berkomunikasi secara aman.
Estonia juga menerapkan:
ONCE-ONLY PRINCIPLE.
Warga tidak seharusnya terus-menerus
memberikan data yang sama kepada lembaga berbeda
ketika data tersebut telah tersedia dan dapat digunakan secara sah.
Pelajarannya:
DIGITALISASI BUKAN
MEMINDAHKAN BIROKRASI
DARI KERTAS KE LAYAR.
DIGITALISASI HARUS
MENGUBAH CARA SISTEM BEKERJA.
Maka jangan hanya bertanya:
BERAPA APLIKASI DIBUAT?
Tanyakan:
APAKAH PELAYANAN
MENJADI LEBIH MUDAH,
TERHUBUNG,
AMAN,
DAN EFISIEN?
6. RWANDA — TARGET HARUS DAPAT DIBACA HASILNYA
Rwanda menggunakan sistem kontrak kinerja:
IMIHIGO.
Sejak 2006, performance contracts tersebut digunakan untuk menghubungkan target pemerintah dengan agenda pembangunan nasional.
Pelaksanaannya kemudian dievaluasi.
Prinsip yang dapat kita ambil:
TUJUAN
↓
TARGET
↓
PELAKSANAAN
↓
PENGUKURAN
↓
EVALUASI.
Pelajarannya:
KEBIJAKAN HARUS MENINGGALKAN
JEJAK HASIL
YANG DAPAT DIBACA.
7. INGGRIS — KEBIJAKAN HARUS BERANI DIUJI
Inggris mempunyai Magenta Book sebagai pedoman pemerintah mengenai evaluasi.
Evaluasi tidak hanya bertanya:
APAKAH PROGRAM DILAKSANAKAN?
Tetapi juga:
APAKAH INTERVENSI BEKERJA?
SEBERAPA BESAR PERUBAHANNYA?
MENGAPA?
UNTUK SIAPA?
DALAM KONDISI APA?
APAKAH PERUBAHAN TERSEBUT
DAPAT DIHUBUNGKAN DENGAN INTERVENSI?
DAN:
BERAPA BIAYANYA?
Di sinilah evaluasi berubah dari:
PEMERIKSAAN ADMINISTRASI
menjadi:
PEMBELAJARAN KEBIJAKAN.
8. SELANDIA BARU — ANGGARAN BUKAN TUJUAN AKHIR
Wellbeing Budget Selandia Baru pada 2019
memberikan contoh lain.
Keberhasilan pembangunan tidak hanya dibaca melalui ukuran ekonomi yang sempit.
Kesejahteraan manusia,
kesehatan,
lingkungan,
kapasitas manusia,
komunitas,
dan keberlanjutan antargenerasi
ikut masuk dalam pertimbangan.
Pelajarannya:
ANGGARAN ADALAH INPUT.
PROGRAM ADALAH INSTRUMEN.
YANG DICARI ADALAH:
PERUBAHAN
DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT.
9. FEEDBACK — KENYATAAN BERBICARA KEMBALI
Setelah Maneuver,
hasil menghasilkan informasi.
Informasi tersebut menjadi:
FEEDBACK.
Feedback dapat mengatakan:
BERHASIL.
SEBAGIAN BERHASIL.
TIDAK BERHASIL.
ATAU:
BERHASIL,
TETAPI MENCIPTAKAN
MASALAH BARU.
Feedback bukan ancaman
bagi pembuat keputusan.
Feedback adalah:
MATA SISTEM.
10. FEEDBACK YANG PALING BERGUNA SERING TIDAK MENYENANGKAN
Manusia senang menerima data
yang membenarkan keputusannya.
Sebaliknya,
data yang menunjukkan kegagalan
sering terasa mengganggu.
Di sinilah muncul:
CONFIRMATION BIAS.
Informasi yang mendukung diterima.
Informasi yang bertentangan diabaikan.
Akibatnya organisasi dapat terlihat berhasil
di dalam laporannya—
tetapi sedang kehilangan kenyataan.
Karena:
SISTEM YANG HANYA MAU
MENDENGAR KABAR BAIK
AKAN TERLAMBAT
MENGETAHUI KABAR BURUK.
11. KEGAGALAN JUGA DATA
Jika pilot project gagal,
belum tentu seluruh usaha sia-sia.
Kegagalan dapat menunjukkan:
asumsi yang salah,
teknologi yang belum siap,
biaya terlalu tinggi,
masyarakat belum menerima,
pasar belum terbentuk,
atau implementasi yang buruk.
Artinya:
KEGAGALAN DAPAT
MENGHASILKAN PENGETAHUAN.
Pertanyaan strategisnya:
APAKAH ORGANISASI
MAMPU BELAJAR DARINYA?
12. BEDAKAN SALAH STRATEGI DAN SALAH PELAKSANAAN
Ketika hasil buruk muncul,
jangan langsung menyimpulkan
strateginya salah.
Bisa terjadi:
STRATEGI BENAR
TETAPI PELAKSANAAN BURUK.
Atau:
PELAKSANAAN BAIK
TETAPI STRATEGI SALAH.
Karena itu evaluasi harus bertanya:
APAKAH KITA MELAKUKAN
HAL YANG BENAR?
DAN:
APAKAH KITA MELAKUKANNYA
DENGAN BENAR?
Keduanya berbeda.
13. HASIL BAIK PUN HARUS DIUJI
Misalnya sebuah program berhasil.
Jangan berhenti pada:
“TARGET TERCAPAI.”
Tanyakan:
MENGAPA BERHASIL?
Apakah karena kebijakan?
Karena ekonomi sedang tumbuh?
Karena harga komoditas berubah?
Karena teknologi?
Karena tindakan pihak lain?
Atau karena beberapa faktor sekaligus?
Jangan mengambil kredit
untuk perubahan yang sebenarnya
bukan disebabkan oleh tindakan kita.
Karena itu evaluasi perlu mencari:
SEBAB
DAN
AKIBAT.
14. JANGAN UKUR SEMUA HAL
Kesalahan lain adalah membuat
ratusan indikator.
Akhirnya organisasi sibuk:
MENGISI DATA,
tetapi lupa:
MEMBACA DATA.
Pilih indikator yang benar-benar membantu menjawab:
APAKAH TUJUAN TERCAPAI?
APA YANG BERUBAH?
APA YANG TIDAK BERUBAH?
DAN MENGAPA?
Karena:
DATA YANG BANYAK
BELUM TENTU
MENGHASILKAN PEMAHAMAN.
15. INDIKATOR AWAL DAN INDIKATOR HASIL
Sebagian indikator membantu membaca arah
sebelum hasil akhir terlihat.
LEADING INDICATOR.
Sebagian lainnya menunjukkan hasil
setelah perubahan terjadi.
LAGGING INDICATOR.
Pemimpin membutuhkan keduanya.
Yang pertama membantu:
MENGANTISIPASI.
Yang kedua membantu:
MEMBUKTIKAN.
Sebab organisasi yang hanya melihat ke belakang
akan terlambat membaca perubahan.
Tetapi organisasi yang hanya melihat ke depan
tanpa mengukur hasil
tidak pernah mengetahui apakah tindakannya benar.
16. FEEDBACK MASUK KEMBALI KE SENSING
Di sinilah ESTOM menjadi hidup.
MANEUVER
↓
HASIL
↓
FEEDBACK
↓
SENSING KEMBALI.
Feedback bukan huruf baru dalam ESTOM.
Ia menjadi masukan baru bagi:
SENSING.
Kemudian Thinking bertanya:
Apa artinya?
Apakah asumsi kita benar?
Apakah strategi harus:
DIPERTAHANKAN?
DIPERBAIKI?
DIPERBESAR?
DIKURANGI?
ATAU DIHENTIKAN?
17. PEMBELAJARAN LEBIH DALAM DARI KOREKSI
Organisasi yang belajar
tidak hanya memperbaiki kesalahan teknis.
Kadang hasil mengharuskan kita mengubah:
ASUMSI,
ATURAN,
STRUKTUR,
TEKNOLOGI,
DOKTRIN,
BAHKAN TUJUAN.
Maka ada perbedaan:
CORRECTION
dan
LEARNING.
Correction memperbaiki tindakan.
Learning dapat memperbaiki:
CARA BERPIKIR.
18. DOUBLE-LOOP LEARNING — MENGUJI ASUMSI DI BALIK TINDAKAN
Konsep ini dikenal dalam pemikiran
Chris Argyris sebagai:
DOUBLE-LOOP LEARNING.
Bayangkan sebuah program
tidak mencapai tujuan.
Pertanyaan pertama:
“BAGAIMANA PROGRAM INI
DAPAT DILAKSANAKAN LEBIH BAIK?”
Itu penting.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih dalam:
“APAKAH PROGRAM INI
MEMANG CARA YANG TEPAT
UNTUK MENCAPAI TUJUAN?”
Pertanyaan pertama memperbaiki:
TINDAKAN.
Pertanyaan kedua menguji:
ASUMSI,
ATURAN,
DAN CARA KITA
MEMAHAMI MASALAH.
Kadang masalah terbesar
bukan karena kita salah melaksanakan jawaban.
Tetapi karena:
SEJAK AWAL
KITA SALAH MEMAHAMI
PERTANYAANNYA.
19. DARI ORGANISASI BEKERJA MENJADI ORGANISASI BELAJAR
Organisasi yang hanya bekerja bertanya:
APA YANG HARUS DIKERJAKAN?
Organisasi yang belajar bertanya:
APA YANG TERJADI
SETELAH KITA MENGERJAKANNYA?
MENGAPA?
APA YANG KITA PELAJARI?
DAN:
APA YANG HARUS BERUBAH?
Perbedaannya terlihat sederhana.
Tetapi di situlah kemampuan adaptasi lahir.
20. ESTOM MENJADI SIKLUS PEMBELAJARAN
Sekarang rangkaiannya semakin utuh:
ENVIRONMENT
→ MEMAHAMI MEDAN.
SENSING
→ MENANGKAP SINYAL.
THINKING
→ MEMBANGUN MAKNA DAN PILIHAN.
OPERATION
→ MENERJEMAHKAN PILIHAN MENJADI TINDAKAN.
MANEUVER
→ MELAKSANAKAN DAN MENYESUAIKAN.
Kemudian kenyataan memberikan jawaban:
HASIL
↓
FEEDBACK
↓
SENSING KEMBALI
↓
THINKING KEMBALI.
Maka ESTOM bukan hanya:
SIKLUS KEPUTUSAN.
ESTOM juga menjadi:
SIKLUS PEMBELAJARAN.
CATATAN PEMAHAMAN
Jangan hanya bertanya:
APA YANG SUDAH KITA KERJAKAN?
Tanyakan:
APA YANG BERUBAH?
MENGAPA BERUBAH?
APAKAH PERUBAHAN ITU
BENAR-BENAR BERKAITAN
DENGAN TINDAKAN KITA?
APA YANG TIDAK KITA PERKIRAKAN?
DAN:
APA YANG HARUS KITA PELAJARI?
PAHATAN
ORGANISASI YANG LEMAH
MENGUKUR SEBERAPA SIBUK
IA BEKERJA.
ORGANISASI YANG KUAT
MENGUKUR APA YANG BERUBAH.
TETAPI ORGANISASI
YANG TERUS BERTUMBUH
BERANI MENGUJI
CARA BERPIKIRNYA SENDIRI.
SEBAB KENYATAAN
TIDAK DICIPTAKAN
UNTUK MEMBENARKAN KEPUTUSAN KITA.
KEPUTUSAN KITALAH
YANG HARUS BERANI DIKOREKSI
OLEH KENYATAAN.
PENUTUP
Keputusan telah dibuat.
Operation telah disusun.
Maneuver telah dilakukan.
Hasil telah muncul.
Feedback telah dibaca.
Pembelajaran telah terjadi.
Apakah selesai?
TIDAK.
Karena ketika kita belajar,
Environment juga terus berubah.
Pesaing belajar.
Lawan belajar.
Teknologi berkembang.
Masyarakat berubah.
Dan sistem yang hari ini berhasil
dapat kehilangan relevansi besok.
Maka tantangan berikutnya bukan lagi:
BAGAIMANA KITA BELAJAR?
Tetapi:
BAGAIMANA MEMBANGUN
ORGANISASI YANG MAMPU
TERUS BELAJAR—
BAHKAN KETIKA
PEMIMPINNYA BERGANTI?
BERSAMBUNG
SERI MEMAHAMI ESTOM #16
ORGANISASI YANG TIDAK PERNAH SELESAI BELAJAR
Dari Feedback Menuju Adaptive Organization
Bagaimana membangun:
BUDAYA,
STRUKTUR,
KEPEMIMPINAN,
DATA,
DAN MEKANISME KOREKSI,
agar kemampuan belajar
tidak bergantung kepada satu orang?
Jakarta, 24 Agustus 2026
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol