Nasional

Belajar Agroindustri ke Resolusi Konflik: Perjalanan yang Tidak Linear

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 04/09/2026 20:55 WIB


Aula Merah Putih, Universitas Pertahanan 3 September 2026 dengan Dekan Fak. Keamanan Nasional May. Jend. Dr. Nefra Firdaus
Aula Merah Putih, Universitas Pertahanan 3 September 2026 dengan Dekan Fak. Keamanan Nasional May. Jend. Dr. Nefra Firdaus

Oleh

Muhammad Sirod, S.TP., M. Han*) | Depok, 3 September 2026

Jakarta, INDONEWS.ID - Lulus dari Institut Pertanian Bogor pada akhir tahun 2002 dari Teknologi Industri Pertanian membuat saya mahasiswa yang tergolong telat lulus setelah lulus dari SMA di tahun 1997. Hampir seperempat abad kemudian, saya menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Pertahanan pada bidang Damai dan Resolusi Konflik.

Jika dua gelar itu diletakkan berdampingan, hubungan akademiknya mungkin tidak langsung terlihat. Agroindustri berbicara tentang teknologi, proses produksi, sistem industri, efisiensi, dan pengelolaan sumber daya. Memang termasuk sumber daya manusia. Tapi manusia dalam perspektif Teknik Industri, ia adalah alat produksi, sangat kapitalistik.

Jejak memperdalam ilmu manusia (Human Resources) telah banyak dilalui para senior, tetap memasukkan faktor manusia sebagai capital, maka istilahnya pun “Human Capital.” Rasa-rasanya kok gak terlalu menarik bagi saya...

Perjalanan pendidikan saya tidak dibangun dengan rencana akademik yang lurus dari satu jenjang ke jenjang berikutnya. Ia tumbuh mengikuti pengalaman hidup dan kemudian memunculkan pertanyaan-pertanyaan dari pekerjaan, bisnis, organisasi, serta interaksi dengan masyarakat.

Manusia acapkali memang diukur, dinilai dan disetarakan dengan kekuatan modal. Tapi melulu melihat manusia dari kacamata ini membuat saya lelah dan bosan.

Dalam perjalanan karir dan kehidupan, saya belajar mengenai pasar, membangun usaha sendiri, memimpin perusahaan, aktif di berbagai organisasi, berhadapan dengan persoalan publik dan bahkan lembaga negara.

Ilmu Resolusi konflik membawa saya kepada persoalan manusia, relasi sosial, kepentingan, kekuasaan, hukum, psikologi, sosiologi, dan negara. Bagi saya bidang-bidang ini lebih menarik, banyak kebaruan yang sebelumnya menjadi titik gelap (blind spot) buat saya.

Hari ini saya lulus dan menyelesaikan S2 pada usia 47 tahun. Bagi sebagian orang, usia tersebut mungkin dianggap terlambat untuk kembali menjadi mahasiswa. Saya melihatnya dengan cara berbeda. Saya datang ke kampus setelah membawa pengalaman kerja, pengalaman bisnis, pengalaman organisasi, dan berbagai persoalan nyata yang sebelumnya saya temui di lapangan. Pertanyaan yang saya bawa ke ruang kelas sudah terbentuk melalui perjalanan panjang. Pendidikan kemudian memberikan kerangka ilmiah untuk memahami pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Saya menyadari dan percaya bahwa pendidikan tidak mempunyai satu jadwal yang berlaku untuk semua orang.

PENDIDIKAN PERTAMA SAYA ADALAH SISTEM

Ketika belajar Teknologi Industri Pertanian di IPB, saya belajar melihat sesuatu sebagai sistem. Bahan baku masuk, proses berlangsung, teknologi digunakan, produk dihasilkan, kemudian produk masuk ke pasar. Ada manusia yang menjalankan proses, ada organisasi yang mengambil keputusan, ada biaya yang harus dikendalikan, dan ada konsumen yang menentukan apakah suatu produk mempunyai nilai. System thinking seperti itu kemudian mengikuti perjalanan profesional saya.

Setelah lulus pada 2002, saya memasuki dunia kerja. Bekerja di perusahaan besar seperti Unilever dan AVK Valves dari Denmark pernah saya jalani. Bahkan perusahaan-perusahaan kecil yang dikeluarga dan hampir bangkrut pun pernah. 13 tahun berkarya sebagai profesional dan 10 tahun sebagai CEO Entrepreneur. Pengalaman tsb banyak mengajarkan ilmu dan pemahaman yang kebanyakan tidak diperoleh di ruang kuliah.

Di perusahaan saya belajar banyak hal-hal teknis: Pemilihan teknologi, spesifikasi produk, penjadwalan proyek, analisa biaya, penjualan, pemahaman masalah pelanggan, kepemimpinan dan kemampuan menggerakkan orang.

Perlahan saya menyadari bahwa teknologi yang bagus tidak otomatis menghasilkan bisnis yang bagus. Strategi yang bagus juga tidak otomatis menghasilkan implementasi yang bagus. Di antara keduanya terdapat manusia, organisasi, kepentingan, komunikasi, dan kemampuan mengambil keputusan. Bekal dari bekerja tsb kemudian saya pakai sampai sekarang setelah menjadi pengusaha.

DARI PROFESIONAL MENJADI PENGUSAHA

Dalam satu dekade terakhir ini, saya lebih banyak menjalankan perusahaan sendiri dan mengambil tanggung jawab sebagai entrepreneur sekaligus CEO. Dunia usaha memberi saya ruang belajar yang berbeda.

Ketika menjadi karyawan, sebagian risiko keputusan berada dalam struktur organisasi. Sangat berbeda ketika menjadi pengusaha, keputusan menjadi lebih personal. Kesalahan membaca pasar, memilih orang dapat, mengelola arus kas atau keliru dalam melakukan investasi akan berhadapan dengan kerugian yang saya harus telan pahit. Sampai saat ini pun saya masih merasa belum sukses dan menganggap masih sedikit mengambil “jatah gagal” dalam hidup.

Entrepreneurship bagi saya bukan hanya mengenai keberanian mengambil risiko. Jangkauannya jauh lebih luas: yaitu kemampuan membaca peluang, menghitung risiko, mengorganisasi sumber daya, menjual, membangun kepercayaan, dan mengambil keputusan saat informasi yang tersedia belum lengkap.

Cara saya berfikir berdasarkan pengalaman empiris ini memengaruhi cara saya melihat dunia pendidikan formal.

Saya tidak lagi melihat pendidikan sebagai kumpulan mata kuliah yang harus diselesaikan untuk mendapatkan ijazah. Pendidikan saya perlukan ketika ada persoalan yang belum mampu saya pahami dengan cukup baik. Titik gelap pada soal manusia yang yang cukup mendalam, membawa saya ingin mempelajari resolusi konflik.

ILMU TENTANG MANUSIA

Selama bekerja dan berorganisasi, saya semakin sering melihat persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis.

Sebuah proyek dapat memiliki desain yang baik, tetapi tetap menghadapi penolakan masyarakat. Sebuah organisasi dapat mempunyai aturan yang jelas, tetapi tetap mengalami konflik internal. Pemerintah dapat memiliki program yang rasional, tetapi implementasinya bisa menghadapi perbedaan kepentingan di lapangan.

Persoalan seperti itu membawa saya pada pertanyaan yang berbeda: bagaimana manusia mengambil keputusan? Mengapa kelompok yang mempunyai kepentingan berbeda sulit mencapai kesepakatan? Mengapa konflik tertentu berulang? Mengapa sebuah persoalan yang secara teknis sederhana dapat berkembang menjadi konflik sosial yang kompleks?

Agroindustri mengajarkan bagaimana memahami sistem produksi dan teknologi, di dunia profesional memberikan perspektif mendalam soal organisasi dan pasar. Lalu setelah menjadi entrepreneur saya terbiasa harus mengambil keputusan sulit dan mengelola risiko. Hobi saya berorganisasi mempertemukan saya dengan berbagai kelompok dan kepentingan. Dalam studi resolusi konflik inilah kemudian yang memberikan kerangka pemahaman soal manusia yang berada di dalam seluruh sistem tersebut.

Yang awalnya saya belajar tentang bagaimana sistem bekerja dan melihat manusia melulu hanya sebagai kapital, dalam ilmu baru ini saya mempelajari bagaimana manusia berinteraksi di dalam sistem hidupnya yang lebih nyata. Entah itu lokus kecil di sebuah desa, kota atau bahkan antar negara.

Sistem ekonomi, pemerintahan, bisnis, teknologi, dan masyarakat pada akhirnya dijalankan oleh manusia. Saat kepentingan manusia bertemu, muncul kerja sama. Saat kepentingan berbeda, muncul negosiasi. Ketika ketidakpercayaan tumbuh, muncul ketegangan. Ketika mekanisme penyelesaian tidak berjalan, konflik dapat berkembang.

Karena itu, kemampuan memahami manusia menjadi semakin penting bagi siapa pun yang ingin memimpin organisasi atau membangun bisnis.

RELEVANSI RESOLUSI KONFLIK

Generasi muda memasuki dunia yang jauh lebih kompleks dibandingkan dunia kerja ketika saya pertama kali lulus kuliah.

Teknologi berkembang sangat cepat. Artificial intelligence mengubah cara orang bekerja. Perkembangan media sosial saat ini telah mengubah cara informasi diproduksi dan dikonsumsi. Batas antara komunikasi personal, komunikasi organisasi, pemasaran, dan komunikasi publik semakin tipis.

Masyarakat menjadi semakin terhubung. Sebuah isu lokal dapat menjadi pembicaraan nasional dalam hitungan jam. Perbedaan pendapat dapat berkembang menjadi konflik digital. Kesalahan komunikasi dapat memengaruhi reputasi perusahaan atau lembaga.

Kemampuan teknis tetap penting. Namun kemampuan membaca manusia, berkomunikasi, membangun kepercayaan, melakukan negosiasi, dan mengelola konflik juga semakin menentukan. Artinya ilmu resolusi konflik relevan dengan perkembangan teknologi.

AI dapat membantu manusia mencari informasi, membuat analisis, menyusun dokumen, mengolah data, bahkan menghasilkan berbagai bentuk konten. Namun keputusan mengenai kepentingan siapa yang harus diprioritaskan, bagaimana sebuah kebijakan diterima masyarakat, bagaimana dua pihak yang berseberangan membangun kepercayaan, dan bagaimana konflik diselesaikan tetap membutuhkan kemampuan, peran dan interaksi manusia.

Teknologi meningkatkan kemampuan manusia. Ia tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan untuk memahami manusia.

MEDIA SOSIAL DAN KEMAMPUAN MEMBANGUN PENGARUH

Saya juga melihat perubahan besar pada cara seseorang membangun pengaruh.

Dulu, kemampuan menyampaikan gagasan sangat bergantung pada akses terhadap media. Sekarang setiap orang dapat menjadi produser dirinya sendiri. Ponsel pintar dan media sosial membuat seseorang dapat membangun audiens tanpa harus memiliki perusahaan media.

Rupanya media sosial bukan hanya melulu berbicara tentang kemampuan membuat konten. Terlebih penting adalah kemampuan memahami audiens, menyusun pesan, memilih platform yang tepat, membangun kredibilitas, dan mempertanggungjawabkan informasi yang disampaikan.

Kemampuan tersebut mempunyai hubungan langsung dengan leadership. Seorang pemimpin perlu menjelaskan arah. Entrepreneur perlu menjual gagasan. Organisasi perlu membangun kepercayaan. Pemerintah perlu berkomunikasi dengan masyarakat. Semua membutuhkan kemampuan menyampaikan pesan secara tepat. Rupanya ada hubungan antara kemampuan berkomunikasi, ilmu kepemimpinan, entrepreneurial, dan resolusi konflik.

JALAN PANJANG MEMBENTUK IDENTITAS

Salah satu pelajaran terbesar dari perjalanan saya adalah bahwa manusia sering terlalu cepat menentukan identitas profesionalnya.

Saya lulusan agroindustri IPB, menjadi profesional, lalu menjadi entrepreneur memimpin usaha saya sendiri. Karena hobi, saya aktif dalam organisasi, menjadi menjadi trainer/pengajar, dan mempelajari komunikasi khususnya media sosial untuk memaksimalkan peran saya di masyarakat dan dunia bisnis. Sekarang saya mempunyai latar belakang akademik di bidang resolusi konflik.

Kalau semua fase tersebut harus dimasukkan ke dalam satu kotak, mungkin akan sulit difahami nyambungnya di mana. Namun saya tidak lagi merasa perlu memasukkannya ke dalam satu kotak.

Dunia kerja masa depan membutuhkan orang yang memiliki kedalaman sekaligus kemampuan menghubungkan berbagai disiplin (interdisipliner). Seseorang dapat menjadi ahli teknologi, justru akan semakin kuat apabila memahami bisnis. Seorang entrepreneur akan lebih efektif apabila memahami manusia. Seorang komunikator akan lebih bertanggung jawab apabila memahami dampak sosial dari pesan yang disebarkannya dan tentunya seorang pemimpin akan lebih matang ketika ia faham mengelola konflik.

Semua tak masalah dipelajari, yang terpenting adalah kedalaman.

Menjadi manusia yang multidisiplin ilmu tidak berarti mengetahui semuanya secara dangkal. Seseorang tetap perlu memiliki kompetensi utama, kemudian membangun kemampuan untuk menghubungkannya dengan bidang lain.

Perjalanan saya memberikan contoh yang cukup sederhana: saya mempunyai kedalaman pengalaman di bisnis dan industri air, kemudian membangun kemampuan di bidang leadership, komunikasi, organisasi, dan resolusi konflik.

Jalur itu tidak dirancang dalam satu malam. Ia terbentuk dari pengalaman. Steve Jobs menyebutnya connecting the dots. Menghubungkan titik-titik ini justru terjadi tanpa direncanakan sebelumnya. Terkadang karena ketertarikan atau takdir semata.

APAKAH SAYA TERLAMBAT?

Pertanyaan ini mungkin paling relevan bagi orang yang berusia 35, 40, atau 45 tahun dan masih mempunyai keinginan untuk belajar. Saya memulai S2 setelah melewati sebagian besar perjalanan profesional saya, dan menyelesaikannya pada usia 47 tahun.

Apakah saya terlambat? Jika ukuran pendidikan adalah usia rata-rata mahasiswa, tentu saya lebih tua. Jika ukuran pendidikan adalah relevansinya terhadap kehidupan, jawabannya bisa berbeda.

Pengalaman dua dekade saya bawa ke ruang kuliah. Bagaimana organisasi bekerja, bagaimana keputusan bisnis dibuat, bagaimana kepentingan bertemu dan bertabrakan, atau bahkan mengalami bagaimana komunikasi yang buruk menghambat sebuah tujuan.

Saat kelas teori konflik dibahas Pak Ichsan Malik misalnya, saya dapat menghubungkannya dengan pengalaman yang pernah saya lihat sendiri dalam menganalisa manusia, organisasi dan masyarakat.

Pengalaman empirik membuat teori mempunyai tempat untuk berpijak di benak saya. Sebaliknya, teori membantu pengalaman dibaca dengan lebih sistematis.

ANAK MUDA TIDAK PERLU MENIRU JALAN SAYA

Saya tidak berharap generasi muda mengikuti jalur yang sama dengan saya. Dunia mereka berbeda. Teknologi yang mereka gunakan berbeda. Pilihan karier mereka juga jauh lebih beragam.

Pesan yang ingin saya sampaikan justru sederhana: jangan terlalu cepat menganggap bahwa pilihan pertama akan menentukan seluruh hidup kita.

Bangun kompetensi, cari pengalaman, lalu belajar bekerja dengan orang lain. Belajar menjual sekaligus memimpin, belajar berkomunikasi, dan menggunakan teknologi. Pelajari bidang yang kita tekuni sampai mempunyai kedalaman. Kemudian tetap beri ruang bagi diri sendiri untuk berubah.

Saya memulai dari mempelajari agroindustri, kemudian berkarier, masuk ke industri air, membangun bisnis, memimpin perusahaan kecil milik sendiri (dan partner), aktif dalam organisasi, mengembangkan kemampuan komunikasi dan media sosial, lalu mempelajari resolusi konflik. Hari ini saya melihat semua itu sebagai rangkaian yang saling melengkapi.

Semakin saya pahami setelah menjalani perjalanan tersebut adalah: semakin kompleks persoalan yang kita hadapi, semakin sulit menyelesaikannya dengan satu disiplin ilmu.

Teknologi selalu membutuhkan manusia, bisnis tak lepas dari pemahaman tentang organisasi, sementara organisasi pasti tak lepas dari soal kepemimpinan. Kepemimpinan biasanya erat kaitannya dengan komunikasi. Lebih luas, masyarakat membutuhkan tata kelola yang di dalamnya ada perbedaan kepentingan yang konfliknya musti dikelola.

Fragmen-fragmen tsb Itulah yang membuat saya terus memilih untuk belajar sepanjang hayat.

Bukan karena saya merasa sudah mengetahui semuanya, tetapi karena pengalaman justru membuat saya semakin sadar bahwa masih banyak hal yang perlu dipahami.

Perjalanan ini membentuk pemahaman saya soal sistem di S1-TIN-IPB, soal organisasi dan market saat saya berkarir profesional, cekatan dalam mengambil keputusan dan menghadapi risiko tatkala memiliki bisnis sendiri. Kemudian, dalam berorganisasi saya belajar bekerja dengan kepentingan yang beragam dan pada resolusi konflik saya belajar manusia yang selalu berada di setiap sistem. Sebuah makna perjalanan belajar yang tidak linear.

Kita tidak selalu tahu ke mana sebuah pengalaman akan membawa kita. Tetapi selama kita terus menambah pengetahuan, memperluas pengalaman, dan berani mempelajari sesuatu yang berbeda, perjalanan yang tampak berbelok dapat membentuk satu kemampuan yang utuh: memahami sistem, membaca manusia, mengambil keputusan, dan terus-menerus memberikan kontribusi pada ummat memiliki batas usia.

 

 

Artikel Lainnya