Olah Raga

Gatot Prasetyo: Liga Soeratin U-15 Jadi Ruang Belajar, Pembinaan harus Ada di Daerah

Oleh : rio apricianditho - Sabtu, 05/09/2026 22:55 WIB


Gatot Prasetyo: Liga Soeratin U-15 Jadi Ruang Belajar, Pembinaan harus Ada di Daerah

Jakarta, INDONEWS.ID - Mantan kiper Persib Bandung Gatot Prasetyo menyaksikan Liga Suratin, U-15, menurutnya kompetisi usia dini harus diadakan di daerah-daerah karena menjadi sarana penting meningkatkan kualitas pembinaan sepakbola usia muda, Sabtu (05/09).

Menurutnya, format kompetisi berbasis liga memberikan kesempatan lebih banyak bagi pemain untuk mendapatkan pengalaman bertanding. Hal tersebut dinilai penting karena perkembangan pemain tidak cukup hanya melalui latihan, tetapi juga membutuhkan jam terbang dalam pertandingan.

"Kalau kita menggarap level-level seperti ini dengan baik, kualitas sepak bola kita akan lebih baik", ungkapnya.

Gatot juga mengapresiasi dukungan orang tua yang terlihat antusias mendampingi anak-anak mereka. Menurutnya, sinergi antara pemain, pelatih, penyelenggara dan orang tua sangat penting agar pembinaan tidak semata-mata mengejar kemenangan.

Ia menyebut adanya komunikasi antara penyelenggara, pelatih dan orang tua merupakan langkah positif untuk menyatukan visi mengenai arah pembinaan anak.

"Intinya kita membantu anak tumbuh dan berkembang dengan baik dalam sebuah kompetisi yang berbasis liga" ujarnya mantan kiper yang juga ingin Bandung punya liga usia dini.

Sebagai mantan pemain, Gatot membandingkan kondisi pembinaan saat ini dengan masa ketika dirinya tumbuh sebagai pesepak bola. Menurut dia, generasi sekarang memiliki keuntungan karena pengetahuan kepelatihan, kualitas sumber daya manusia serta fasilitas pembinaan sudah jauh berkembang.

Karena itu, menurut Gatot, tidak ada alasan bagi pembinaan sepak bola Indonesia untuk tidak mengalami kemajuan. Terlebih saat ini semakin banyak pelatih berpengalaman yang terlibat dalam pembinaan usia muda.

Gatot juga menyoroti posisi penjaga gawang. Ia melihat mulai bermunculan kiper-kiper muda dengan postur yang cukup ideal. Namun, postur tersebut harus diimbangi dengan teknik serta pemahaman taktik yang baik.

"Postur yang bagus harus diimbangi dengan teknik yang baik dan pemahaman taktik yang baik" ujarnya.

Lebih jauh, Gatot mengingatkan tantangan Indonesia sebagai negara kepulauan. Menurutnya, pembinaan sepak bola jangan terlalu berpusat di Jakarta karena hal tersebut dapat menyulitkan pemain dari daerah untuk berkembang.

Ia mencontohkan pemain-pemain dari Papua yang harus menempuh perjalanan jauh jika ingin mengikuti pembinaan atau kompetisi di Jakarta. Kondisi tersebut bukan hanya membutuhkan biaya besar, tetapi juga pengorbanan dari sisi pendidikan dan keluarga.

Karena itu, Gatot mendorong adanya desentralisasi pembinaan melalui sentra-sentra sepak bola di berbagai daerah.

Menurutnya, sejumlah daerah sebenarnya telah memiliki potensi dan tradisi pembinaan yang dapat dikembangkan menjadi pusat-pusat penghasil pemain berkualitas.

"Indonesia ini negara kepulauan. Jadi pembinaan dan kompetisi grassroots sebaiknya bisa didesentralisasi ke daerah-daerah. Kita buat sentra-sentra sepak bola agar pemain bisa tumbuh dan berkembang di daerahnya," katanya.

Dengan model tersebut, pemain tidak harus meninggalkan daerah sejak usia sangat muda hanya untuk mendapatkan kesempatan berkompetisi. Sebaliknya, mereka bisa berkembang di lingkungan masing-masing dengan dukungan pelatih dan sistem pembinaan yang berkualitas.

Gatot membayangkan setiap sentra nantinya memiliki database pemain yang terukur. Ketika Timnas membutuhkan pemain, pencarian talenta dapat dilakukan berdasarkan data dari berbagai sentra tersebut.

Dengan begitu, pemusatan pemain nasional tidak harus berlangsung terlalu lama karena para pemain sudah memiliki fondasi pembinaan yang kuat dari daerah asalnya.

Bagi Gatot, Liga Soeratin U-15 bukan sekadar pertandingan anak-anak. Kompetisi seperti ini merupakan bagian dari proses panjang untuk membangun pemain masa depan. Namun, agar hasilnya maksimal, kompetisi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelatih, dukungan orang tua, serta sistem pembinaan yang merata hingga ke daerah.

"Jangan semua anak harus datang ke Jakarta. Biarkan mereka tumbuh dan berkembang di daerahnya, lalu ketika Timnas membutuhkan, kita tinggal melihat database dari sentra-sentra tersebut."

Artikel Lainnya