Jakarta, INDONEWS.ID – Siswa SMPN 2 Jepara, Jawa Tengah, masih menolak menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih dari sebulan setelah mengalami dugaan keracunan pada awal Agustus 2026.
Kepala SMPN 2 Jepara Agung Sriharto mengatakan, sekolah untuk sementara belum bersedia menerima kembali penyaluran MBG karena sebagian siswa masih mengalami trauma akibat kejadian tersebut.
Pada 4 Agustus 2026, sebanyak 112 siswa dan 13 guru SMPN 2 Jepara mengalami gejala seperti mulas, muntah, dan diare. Gejala tersebut diduga berkaitan dengan menu MBG yang disajikan sehari sebelumnya.
Pascakejadian, sekolah memutuskan menghentikan sementara penerimaan MBG. Agung mengatakan, trauma tersebut masih terlihat ketika pihak sekolah baru-baru ini menggelar pengajian dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam kegiatan itu, pihak SPPG Bandengan 5 yang selama ini memasok MBG ke sekolah memberikan makanan ringan kepada siswa.
Agung kemudian meminta kiai yang memimpin pengajian untuk menyampaikan kepada siswa bahwa program MBG kemungkinan akan kembali disalurkan. Namun, respons sebagian siswa justru menunjukkan mereka masih trauma.
“Secara spontan anak-anak yang kendel-kendel (berani) itu langsung jawab, ‘Enggak mau, trauma’. Begitu kata mereka,” ujar Agung saat diwawancarai, Selasa (15/9/2026).
Meski demikian, tidak seluruh siswa menolak. Menurut Agung, sejumlah siswa justru menanyakan kapan MBG kembali dimulai.
“Karena murid kami ada 1.000 lebih, jadi ada juga yang bertanya, ‘Kapan MBG dimulai lagi?’. Ya mungkin yang tidak terpapar (terdampak keracunan) masih mengharapkan,” katanya.
Sekolah Ingin Ukur Sikap Siswa dan Orang Tua
Agung menegaskan, sekolah maupun guru sebenarnya tidak menolak program MBG. Namun, pihaknya meminta agar sebelum penyaluran kembali dilakukan, perlu ada upaya untuk menghilangkan trauma siswa.
“Saya tidak menolak, guru-guru juga tidak menolak. Hanya kemarin kami pesan kepada mitra dan SPPG, kalau bisa sebelum itu (penyaluran MBG kembali), harus ada motivasi kepada anak atau menghilangkan trauma,” ujarnya.
Sekolah juga berencana melakukan pemungutan suara untuk mengetahui jumlah siswa yang masih bersedia menerima MBG dan mereka yang menolak. Selain siswa, pihak sekolah akan melakukan survei kepada orang tua untuk mengetahui apakah mereka menghendaki program tersebut kembali dilanjutkan.
Langkah itu dilakukan agar makanan yang kembali disalurkan tidak banyak ditolak siswa, terlebih saat ini makanan MBG tidak diperbolehkan untuk dibawa pulang.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Jepara Muhammad Wildan Mustofa membenarkan SMPN 2 Jepara masih menjadi satu-satunya sekolah di wilayah tersebut yang belum menerima MBG akibat trauma siswa setelah dugaan keracunan.
“Sampai sekarang masih belum menerima. Alasannya karena beberapa murid istilahnya masih trauma. Ya kami tidak memaksa,” kata Wildan, Kamis (10/9/2026).
SPPG Bandengan 5 yang sebelumnya memasok MBG ke SMPN 2 Jepara saat ini masih berstatus ditangguhkan. Wildan memastikan program MBG akan kembali disalurkan ke sekolah tersebut setelah SPPG kembali beroperasi.
“Nanti ketika operasional kembali akan didatangkan kembali, dengan evaluasi terutama, kemudian lebih memperhatikan menu kualitasnya supaya penerima manfaat itu percaya terkait MBG itu sendiri,” ujarnya.
Kasus Dugaan Keracunan Kembali Terjadi
Di tengah persoalan tersebut, kasus dugaan keracunan MBG kembali terjadi di wilayah Jepara pada 8 September 2026. Sebanyak 118 siswa dan guru di SMK dan Madrasah Aliah Nawa Kartika serta SDN 01 Srobyong diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG.
Wildan mengatakan, SPPG Jepara Mlonggo Sekuro 01 yang memasok makanan ke tiga sekolah tersebut telah dikenai penangguhan operasional selama 30 hari.
“Per hari ini sudah keluar surat suspend pada SPPG tersebut. Sejak hari Rabu kemarin sudah berhenti operasional,” katanya.
Menurut Wildan, dugaan sementara mengarah pada menu ayam bakar Taliwang yang disajikan sehari sebelumnya. Ada dugaan sebagian daging ayam tidak matang sempurna.
“Dugaan sementara adalah ayamnya. Kebetulan menu pada Senin kemarin adalah ayam bakar Taliwang. Kemungkinan ada beberapa daging ayam yang belum matang sempurna,” ujarnya.
SPPG tersebut baru dapat kembali beroperasi setelah hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan keluar dan pihak SPPG memperbaiki sarana, prasarana, serta prosedur operasional yang dinilai belum memenuhi standar.
Setelah perbaikan dilakukan, SPPG harus mengajukan permohonan pencabutan penangguhan kepada pimpinan BGN. Operasional baru dapat dilanjutkan setelah surat pencabutan penangguhan diterbitkan.
Di sisi lain, Agung juga menilai pelaksanaan MBG perlu memperhatikan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Menurutnya, distribusi dan pelayanan makanan dapat menyita waktu guru hingga satu sampai dua jam.
“Yang jelas memang di lapangan itu mengganggu KBM. Jadi mungkin dibagi waktu istirahat, tapi guru yang bertugas kan paling tidak satu sampai dua jam berfokus melayani itu,” kata Agung.