FOOTURE Festival Ramaikan Akhir Pekan di Cambridge
Untuk memperkenalkan makan dan budaya Indonesia, gabungan perhimpunan pelajar Indonesia menggelar acara Footure di Cambridge Inggris.
Reporter: hendro
Redaktur: very
London, INDONEWS.ID - Pelajar dan mahasiswa Indonesia di Kota Cambridge, Inggris, dalam gabungan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Cambridge, Oxford, dan Norwich bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London dalam mempromosikan kebudayaan Indonesia melalui FOOTURE FESTIVAL di Cambridge, Sabtu (21/4/2018) lalu.
Food and Culture (Footure Festival) yang dimulai pada pukul 10.30 hingga 20.00 dan dilaksanakan di St Andrew`s Street Baptist Church, Cambridge, adalah sebuah kegiatan festival Indonesia yang diusung oleh PPI Cambridge, PPI Norwich, dan PPI Oxford dalam rangka mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat setempat, khususnya masyarakat di wilayah East Anglia.
Berbagai kegiatan ditawarkan dalam festival ini termasuk pembahasan tentang warisan budaya dan kuliner Indonesia, workshop tari Bali, workshop pembuatan Tempeh, pemutaran film Indonesia, dan festival makanan dalam negeri.
Ketua PPI Cambridge, Olga Laurentya mengatakan, adanya festival yang diusung oleh PPI gabungan ini merupakan sebuah kesempatan untuk unjuk gigi budaya dan pengetahuan tentang Indonesia yang dapat disebar luaskan lewat sebuah acara yang dikemas dengan menarik dengan beragam topik yang diselingkan dengan beberapa workshop dan lecture.
Hal ini tentu bukan perkara mudah untuk para panitia dalam menggelar acara tersebut karena banyaknya pertimbangan yang dilakukan dalam menentukan isi dari acara itu sendiri dan juga memilah potential market yang nantinya diharapkan dapat memikat pengunjung dan memeriahkan acara ini.
Sejumlah besar undangan datang dan menyaksikan acara Footure Festival yang dibuka dengan sambutan dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris, Irlandia, dan Organisasi Maritim Internasional Bapak Dr. Rizal Sukma.
Dalam pidatonya, Dr. Rizal Sukma memberikan apresiasi yang tinggi, dan menyatakan bahwa acara seperti ini harus dilakukan secara berkala, karena mempunyai tujuan sebagai sarana promosi kultur unik, dan warisan nusantara yang diharapkan dapat membangkitkan dan mengingatkan kembali budaya lawas Indonesia.
Tidak hanya dihadiri Duta Besar KBRI London, acara ini juga dihadiri oleh ibu Hana A. Satriyo, dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, bapak E. Aminudin Aziz.
Beberapa kegiatan dilaksanakan di acara Footure Festival, diantaranya adalah Workshop tari Bali oleh Putu Natih, Calon DPhil, Universitas Oxford. Putu telah belajar tari tradisional Bali dan gamelan sejak berumur 6 tahun, dan telah mengadakan banyak lokakarya tari di Inggris, termasuk Bedfordshire, Exeter, dan Oxford. Di acara Footure Festival Putu mengenalkan beberapa tarian asal daerah Bali yang jarang sekali di pentaskan, diantaranya tari Manuk Rawa. Tarian ini merupakan salah satu bagian dari sendra tari Mahabharata. Komposisi tari manuk rawa dibawakan oleh lima sampai tujuh orang penari wanita. Tarian ini tergolong sebagai tarian yang menggambarkan perilaku seekor burung air rawa.
Selain pembahasan tentang Tarian Bali, Footure Festival juga mengenalkan budaya makan khas Indonesia, Tempe. Amadeus Driando Ahnan-Winarno, PhD Student, UMass Amherst, Amerika Serikat, memperkenalkan Tempe sebagai makanan yang terjangkau, sehat, lezat, dan berkelanjutan. Driando menjelaskan cara pembuatan tempe yang mudah dan dapat dilakukan siapa saja dengan waktu yang tidak terlalu lama.
Melihat antusias para pengunjung, Driando juga mengajak para undangan untuk belajar membuat tempe mulai dari tahap pertama. Mereka diberi kesempatan untuk membuat tempe sendiri, dan hasilnya dibawa pulang ke rumah masing-masing.
Workshop ini digelar dalam rangka, salah satunya, kampanye Gerakan Tempe Indonesia atau Indonesian Tempe Movement, dimana kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran akan tempe dalam skala nasional dan internasional dimana tempe merupakan salah satu makanan khas Indonesia yang mempunyai nilai gizi dan protein yang tinggi, serta dapat menjadi sumber protein yang dengan mudah dapat di peroleh dimana saja.
Footure Festival juga membahas tentang perspektif lokal tentang pendidikan dan pembangunan di pedesaan Papua oleh Rupert Stasch, dari Departmen Sosial Antropologi, University of Cambridge, dan Rangga Dachlan, MPhil Arkeologi di University of Cambridge, yang juga staff pengajar Fakultas Hukum di Universitas Gadjah Mada, yang juga membahas tentang warisan kultur Indonesia.
Acara juga dimeriahkan dengan adanya pemutaran film berjudul “Tabula Rasa” yang dilanjutkan dengan Bazar Batik dan Kuliner. Makanan yang diperkenalkan dalam Footure Festival antara lain nasi goreng, martabak manis, tempe bacem, rujak serut, tempe mendoan, tahu isi, lumpia, bakwan, bakso malang, cilok, dan masih banyak lagi.
Beragamnya acara yang diusung kali ini, mendapatkan antusias yang amat besar dari masyarakat Indonesia yang berada di Cambridge dan sekitarnya, juga dari warga lokal yang menyambangi festival budaya tersebut.
Erica, salah satu pengunjung local di acara tersebut mengatakan bahwa dirinya sangat antusias dengan adanya acara yang membahas mendalam tentang beberapa budaya Indonesia. Selain itu ia juga sangat puas dengan acara bazar makanan yang di gelar di sore harinya.
Menurutnya, makanan Indonesia mempunyai cita rasa yang tajam, yang berasal dari rempah-rempah. Hal yang sama juga disampaikan oleh beberapa pengunjung lainnya, yang memang sengaja menyambangi bazar makanan dengan harapan dapat mencoba beberapa varian makanan Indonesia yang tidak selalu ada di lain kesempatan atau di pasaran.(hdr)