Mengejutkan! Presiden Putin Akui Tidak Tertarik dengan Konflik di Timur Tengah, Ini Alasannya
Pengakuan Peru Rusia, Vladimir Putin terkait peperangan di Timur Tengah mengejut semua pihak.
Reporter: donatus nador
Redaktur: donatus nador
Jakarta, INSONEWNS.ID- Pengakuan Peru Rusia, Vladimir Putin terkait peperangan di Timur Tengah mengejut semua pihak.
Pasalnya, Putih ternyata tidak tertarik pada eskalasi konflik Timur Tengah. Sebab, menurut dia, secara strategis pihaknya tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun dari situasi konflik itu.
"Apa pun yang orang katakan, Rusia tidak tertarik dengan konflik yang kian memburuk di Timur Tengah," kata Putin pada pertemuan puncak (KTT) BRICS di Kota Kazan, Rusia, Kamis (25/10/2024).
"Secara strategis, kita tidak akan memperoleh keuntungan dari ini. Kita hanya akan melihat masalah lainnya muncul," sambungnya.
Putin mengakui juga bahwa tak ada seorang pun di Timur Tengah yang ingin melihat keadaan semakin emburuk.
"Kenyataannya, tidak seorang pun di kawasan — percakapan saya di sela-sela KTT BRICS menunjukkan — bahwa tidak ada seorang pun di kawasan yang menginginkan konflik meluas menjadi perang berskala besar. Tak seorang pun," tegas Putin.
Menurut Putin, sangat penting seluruh pemangku kepentingan di Timur Tengah, termasuk dengan Israel, untuk menghindari ketegangan terus meningkat.
Ia menambahkan bahwa Rusia juga ingin bekerja sama dengan para partisipan dalam proses perdamaian Timur Tengah guna menyelesaikan akar penyebab konflik.
Sementara itu dari perkembangan terbaru, lebih dari 150 warga Palestina tewas dan terluka dalam serangan udara Israel pada Kamis (34/10) malam.
Pasukan Israel menggempur sekitar 10 rumah di Jabalia, Gaza utara, dimana pengepungan mulai terjadi sejak 20 hari lalu.
"Pembantaian mengerikan sedang terjadi di Jabalia, di mana 150 orang gugur dan terluka akibat pengeboman oleh Israel. Tidak ada yang bergerak membantu mereka," kata lembaga pertahanan sipil Gaza dalam sebuah pernyataan.
Pernyataan itu menambahkan bahwa militer Israel menyasar rumah-rumah milik keluarga Najjar, Abu Al-Ouf, Salman, Hijazi, Abu Al-Qusman, Aqel Abu Rashid, Abu Al-Tarabish, Zaqoul, dan Shaalan.
"Pasukan pendudukan Israel membombardir seluruh blok perumahan di kawasan itu, dan para penghuni meminta bantuan untuk membawa mereka yang terluka bahkan hingga kini," sebut pernyataan itu.
"Warga menghadapi kesulitan ekstrem untuk mengevakuasi korban jiwa dan yang terluka setelah pasukan Israel mengacaukan operasi pertahanan sipil dan layanan medis di Gaza utara," katanya.