Israel Umumkan Serangan Lanjutan ke Iran dan Lebanon, AS Buka Peluang Negosiasi
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, menyatakan pihaknya telah menyetujui rencana untuk melanjutkan serangan ke Iran dan Lebanon.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, menyatakan pihaknya telah menyetujui rencana untuk melanjutkan serangan ke Iran dan Lebanon.
Zamir mengungkapkan bahwa Israel bersama Amerika Serikat telah melancarkan serangan keras terhadap Iran, yang diklaim berhasil melemahkan kemampuan pertahanan negara tersebut.
“Kami tidak boleh membiarkan mereka mencapai kemajuan dalam isu nuklir maupun di kawasan strategis seperti Selat Hormuz,” ujar Zamir, seperti dilaporkan Al Jazeera, Rabu (15/4/2026).
Ia bahkan menegaskan kesiapan militernya untuk melancarkan serangan besar dalam waktu dekat.
“Kami tahu bagaimana cara menghancurkan mereka untuk serangan dahsyat yang segera,” katanya.
Selain Iran, operasi militer Israel di wilayah selatan Lebanon juga terus berjalan. Zamir menyebut pasukannya telah menguasai sejumlah area penting dan berupaya menghilangkan ancaman terhadap permukiman di wilayah utara Israel.
“Kami merebut dan membersihkan area-area penting untuk mengamankan wilayah kami,” ujarnya.
AS dan Iran Buka Peluang Negosiasi
Di tengah eskalasi tersebut, muncul sinyal diplomasi antara Washington dan Teheran. Donald Trump menyebut kemungkinan adanya perundingan lanjutan antara AS dan Iran yang dapat digelar di Islamabad, Pakistan, dalam waktu dekat.
“Sesuatunya mungkin terjadi dalam dua hari ke depan,” kata Trump kepada media, sebagaimana dikutip CNN.
Trump juga memuji peran Asim Munir yang dinilai berkontribusi dalam upaya diplomasi tersebut.
Meski demikian, Trump menegaskan sikap kerasnya terhadap program nuklir Iran. Ia menolak gagasan pembatasan pengayaan uranium selama 20 tahun, yang sebelumnya diusulkan dalam negosiasi.
“Saya sudah mengatakan bahwa mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir,” tegasnya.
Sebelumnya, Wakil Presiden AS, JD Vance, telah memimpin delegasi dalam pembicaraan di Pakistan, namun perundingan tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
Dengan rencana serangan lanjutan Israel di satu sisi dan peluang negosiasi di sisi lain, situasi geopolitik di Timur Tengah kini berada dalam kondisi yang semakin kompleks dan rawan eskalasi lebih luas.
Pengamat menilai, langkah militer dan diplomasi yang berjalan bersamaan ini akan sangat menentukan arah konflik ke depan, terutama terkait isu nuklir Iran dan stabilitas kawasan.