KOPERASI MERAH PUTIH, NASIONALISME, DAN MASA DEPAN EKONOMI RAKYAT INDONESIA
KOPERASI MERAH PUTIH, NASIONALISME, DAN MASA DEPAN EKONOMI RAKYAT INDONESIA
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Ketika Desa dan Koperasi Kembali Menjadi Fondasi Ketahanan Bangsa
Bandung, 18 Mei 2026
Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol ‘86
PENDAHULUAN: MOMENTUM BESAR KOPERASI MERAH PUTIH
Pada 16 Mei 2026, Presiden meresmikan operasionalisasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur.
Peresmian ini bukan sekadar acara administratif biasa.
Ia menjadi penanda bahwa desa dan ekonomi rakyat kembali ditempatkan sebagai bagian penting dalam arah pembangunan Indonesia.
Di tengah dunia yang bergerak sangat cepat oleh Artificial Intelligence, digitalisasi, perang ekonomi, perebutan rantai pasok global, dan ketidakpastian geopolitik, perhatian terhadap koperasi dan desa menjadi sangat relevan.
Karena dunia modern hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang kekuatan militer atau besarnya investasi.
Persaingan global mulai bergerak masuk ke fondasi kehidupan bangsa:pangan,energi,teknologi,data,dan kekuatan ekonomi masyarakatnya sendiri.
Dalam konteks itulah Koperasi Merah Putih menjadi menarik untuk dibaca lebih dalam.
Karena bangsa yang terlalu bergantung kepada impor pangan, teknologi luar, dan sistem ekonomi yang jauh dari rakyatnya sendiri, perlahan dapat kehilangan daya tahan nasionalnya.
Maka pembicaraan tentang koperasi hari ini sesungguhnya bukan hanya soal lembaga ekonomi.
Tetapi juga tentang:ketahanan bangsa,kemandirian ekonomi,dan kemampuan Indonesia menjaga fondasi kehidupan rakyatnya sendiri.
KOPERASI DAN JIWA EKONOMI INDONESIA
Koperasi sebenarnya bukan konsep asing bagi Indonesia.
Koperasi sangat dekat dengan budaya Nusantara:gotong royong,musyawarah,kebersamaan,dan kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendiri.
Karena itu para pendiri bangsa sejak awal menempatkan koperasi sebagai bagian penting dalam arsitektur ekonomi nasional.
bahkan melihat koperasi bukan sekadar badan usaha.
Bagi Hatta, koperasi adalah cara membangun martabat ekonomi rakyat.
Di dalam koperasi, rakyat belajar:kejujuran,tanggung jawab,musyawarah,disiplin,dan keberanian berdiri di atas kekuatan sendiri.
Karena itu Hatta menempatkan koperasi sebagai sokoguru ekonomi rakyat.
Artinya, koperasi dipandang sebagai alat agar rakyat kecil tetap memiliki ruang hidup yang adil di tengah kekuatan modal yang semakin besar.
Hatta memahami bahwa kemerdekaan politik dapat kehilangan makna bila rakyat lemah secara ekonomi.
Karena bangsa yang tidak memiliki kekuatan ekonomi rakyat pada akhirnya akan mudah bergantung kepada kekuatan luar.
GARIS PEMIKIRAN EKONOMI NASIONAL
Dalam perjalanan sejarah Indonesia, pemikiran tentang pentingnya kemandirian ekonomi nasional sebenarnya terus muncul lintas generasi.
termasuk salah satu tokoh penting pada masa awal Republik Indonesia.
Sebagai pendiri sekaligus Presiden Direktur pertama Bank Negara Indonesia (BNI), Margono memahami bahwa negara yang baru merdeka tidak cukup hanya memiliki pemerintahan sendiri.
Indonesia juga harus memiliki:bank nasional,sistem keuangan nasional,dan kemampuan mengelola ekonominya sendiri.
Karena tanpa fondasi ekonomi nasional yang kuat, kemerdekaan politik akan mudah dipengaruhi kekuatan luar.
Jejak pemikiran tentang pentingnya kekuatan ekonomi nasional itu kemudian tampak pula dalam gagasan .
Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo dikenal sebagai salah satu ekonom paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern.
Ia banyak berbicara tentang:industrialisasi nasional,penguatan produksi dalam negeri,kemandirian pangan,dan pentingnya Indonesia membangun kapasitas ekonominya sendiri.
Sumitro melihat bahwa Indonesia tidak boleh selamanya hanya menjadi penjual bahan mentah atau sekadar pasar bagi kekuatan ekonomi luar.
Indonesia harus memiliki keberanian membangun:industri,teknologi,energi,dan kekuatan produksinya sendiri.
Bila dibaca lebih dalam, perhatian Presiden terhadap:ketahanan pangan,hilirisasi,kekuatan produksi nasional,kemandirian energi,dan ekonomi rakyat,memiliki benang merah dengan pemikiran besar tentang pentingnya Indonesia berdiri di atas kekuatan nasionalnya sendiri.
Karena itu, peresmian Koperasi Merah Putih dapat dibaca bukan hanya sebagai program ekonomi biasa.
Tetapi juga sebagai bagian dari upaya memperkuat kembali fondasi ekonomi rakyat Indonesia.
NEGARA-NEGARA MAJU YANG KUAT KARENA KOPERASI
Banyak orang menganggap koperasi hanya cocok untuk masyarakat kecil atau negara berkembang.
Padahal banyak negara maju justru memiliki sistem koperasi yang sangat kuat.
Jepang misalnya, membangun koperasi pertanian yang membantu petani menghadapi distribusi, pembiayaan, teknologi, hingga perlindungan harga hasil produksi.
Petani Jepang tidak dibiarkan berdiri sendiri menghadapi pasar besar.
Mereka diperkuat melalui sistem kelembagaan yang membuat posisi tawar petani tetap kuat di tengah modernisasi ekonomi.
Belanda juga menunjukkan hal yang sama.
Koperasi susu di Belanda berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi penting dunia.
Peternak kecil mampu masuk ke pasar internasional karena dihimpun dalam sistem koperasi yang profesional dan modern.
Di Denmark, koperasi pertanian sejak lama menjadi tulang punggung ekspor produk pangan nasional.
Kekuatan pertanian Denmark tidak hanya dibangun oleh perusahaan besar, tetapi juga oleh kemampuan petani bekerja bersama dalam sistem koperasi yang efisien.
Jerman memperkuat ekonomi lokal melalui koperasi kredit dan koperasi usaha kecil yang membantu usaha menengah dan masyarakat lokal tetap bertahan di tengah persaingan modern.
Sementara Korea Selatan menggunakan koperasi pertanian dan perikanan untuk menjaga keseimbangan antara modernisasi industri dengan ketahanan desa dan masyarakat lokal.
Pelajaran dari negara-negara tersebut sangat jelas.
Koperasi bukan simbol keterbelakangan.
Koperasi justru dapat menjadi instrumen modern untuk memperkuat:ekonomi rakyat,produksi nasional,dan ketahanan masyarakat.
Tetapi semua itu berhasil karena:manusianya dipersiapkan,pengelolaannya profesional,dan masyarakat benar-benar merasa memiliki.
INTEGRITAS DAN MANUSIA YANG MENGAWAKI KOPERASI
Pada akhirnya, keberhasilan Koperasi Merah Putih tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya anggaran atau banyaknya koperasi yang dibentuk.
Yang paling menentukan adalah manusia yang mengawakinya.
Koperasi boleh dibentuk oleh negara, tetapi hanya bisa hidup bila dipercaya rakyat.
Siapa yang memegang pengelolaan koperasi?
Siapa yang mengatur keuangan?
Siapa yang mengurus distribusi barang?
Siapa yang menjaga kepercayaan masyarakat?
Karena koperasi pada dasarnya hidup dari kepercayaan.
Masyarakat menitipkan:uang,hasil panen,barang,dan harapan ekonominya,kepada pengurus koperasi.
Karena itu integritas menjadi faktor yang sangat menentukan.
Kalau yang mengawaki koperasi adalah orang-orang yang:jujur,dekat dengan masyarakat,mengerti usaha,mampu bekerja transparan,dan memiliki rasa tanggung jawab,maka koperasi dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi rakyat.
Tetapi bila koperasi diisi oleh orang-orang yang hanya mengejar:jabatan,proyek,kepentingan pribadi,atau sekadar formalitas administrasi,maka koperasi akan mudah kehilangan kepercayaan masyarakat.
Begitu kepercayaan hilang, koperasi biasanya mulai melemah dari dalam.
Banyak program ekonomi rakyat di Indonesia sebenarnya gagal bukan karena idenya buruk.
Tetapi karena:SDM tidak siap,pengawasan lemah,dan integritas pelaksananya tidak kuat.
Akibatnya yang lahir hanya:struktur organisasi,laporan kegiatan,dan bangunan fisik,tetapi denyut ekonomi rakyatnya tidak benar-benar hidup.
Karena itu pengurus koperasi tidak cukup hanya dipilih karena kedekatan sosial atau posisi lokal.
Mereka harus dipersiapkan sebagai pengelola ekonomi rakyat yang benar-benar memahami:manajemen usaha,pembukuan,pasar,rantai distribusi,serta tanggung jawab moral kepada masyarakat yang mempercayainya.
DESA BUKAN RUANG KOSONG
Indonesia bukan negara yang seragam.
Setiap desa memiliki:budaya ekonomi,potensi alam,kapasitas SDM,dan kebutuhan yang berbeda.
Desa pertanian berbeda dengan desa nelayan.
Desa wisata berbeda dengan desa tambang.
Karena itu pembangunan koperasi desa tidak bisa hanya menggunakan satu pola yang seragam.
Yang dibutuhkan bukan hanya pembentukan struktur.
Tetapi kemampuan membaca realitas desa secara nyata.
BUMDes yang sudah berjalan jangan dimatikan.
Koperasi lama yang masih hidup jangan diabaikan.
Kelompok usaha rakyat yang sudah tumbuh jangan dipatahkan.
Koperasi Merah Putih sebaiknya menjadi penguat ekosistem ekonomi desa, bukan pesaing baru dalam ruang sosial yang sudah ada.
PENUTUP: JANGAN HANYA MEMBENTUK KOPERASI, TETAPI HIDUPKAN KOPERASI
Koperasi Merah Putih adalah gagasan besar.
Tetapi gagasan besar harus dijaga agar tidak berubah menjadi administrasi besar.
Ukuran keberhasilan tidak cukup hanya:berapa koperasi dibentuk,berapa gedung diresmikan,atau berapa besar anggaran disalurkan.
Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah:apakah petani terbantu,apakah nelayan lebih kuat,apakah produk desa terserap,apakah anak muda desa mendapat peluang kerja,dan apakah masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya.
Karena pada akhirnya, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki teknologi tinggi atau modal besar.
Tetapi bangsa yang mampu menjaga fondasi ekonomi rakyatnya sendiri.
Dan Indonesia hanya akan benar-benar kuat bila kemajuan tidak meninggalkan desa dan rakyat kecilnya.
Brigjen Purn. MJP Hutagaol