indonews

indonews.id

Catatan Kaki dari Shang Hai-China

Catatan Kaki dari Shang Hai-China

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Oleh. Muhadam

Saya dan 34 Mahasiswa Doktoral Angkatan 14 ke Shang Hai (16-19 Mei 2026). Salah satu provinsi dengan GDP tertinggi di China (5,67 trliun RMB/814 milyar USD). Dihuni lebih 25 juta penduduk. Sedemikian maju, Shang Hai lebih merupakan negara ketimbang provinsi bila dibanding negara-negara kecil di Eropa, Afrika, Timur Tengah dan Asia. 

Kota Shang Hai tak hanya ramai, juga padat dengan gedung menjulang. Tersusun oleh flat, apartemen, kondominium, dan aparthouse. Urbanisasi telah mengubah lanskap kota biasa menjadi metropolitan selain Guangdong, Jiangsu, Shandong dan Zhejiang.

China mengandalkan ekonomi pada provinsi tersebut, termasuk kawasan ekonomi khusus seperti Shenzhen. Shenzhen, desa nelayan tak terurus itu disulap menjadi pusat teknologi global. Berbatasan dengan Hongkong di Provinsi Guangdong.

Sebagai _Silicon Valley,_ Shenzhen menjadi simbol inovasi teknologi, manufaktur dan gaya hidup modern. Maklum, daerah semacam itu merupakan Kota Hantu jaman dulu yang diubah menjadi kota kecil dan hidup bagi 18 juta jiwa. Padat dan sesak.

China hanya butuh kurang lebih 50 tahun untuk mengubah semua itu menjadi bernilai. Bila di tahun 1959-1961 China mengalami kelaparan masif yang menghilangkan 30-40 juta jiwa akibat ambisi besar Mao Zedong terkait _Great Leap Forward_ yang gagal, kini sebaliknya.

Dalam propagandanya, China mengklaim mampu menurunkan angka kemiskinan sebanyak 700-800 juta jiwa. Satu prestasi luar biasa bagi negara dengan populasi tertinggi di dunia, 1,4 milyar. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya kurang lebih 285 juta jiwa.

Ironinya, ketika China mengalami kelaparan akibat kegagalan transformasi dari sektor pertanian ke Industri (1959-1961), Indonesia justru telah punya Pertamina, Roket Kartika, dan Pabrik. Soekarno mampu meloncat lebih dulu dibanding apa yang telah dicapai China hari ini.

Mao Zedong memang gagal di etape pertama, tapi belajar dari kegagalan itu, generasi Deng Xioping merombak orientasi ekonomi yang mengubah wajah China secara keseluruhan. Tak penting kucing hitam atau putih asal mampu menangkap tikus.

Deng mempersilahkan investor asing dengan jaminan kepemilikan 100%, buruh murah, serta tanah gratis. Kecuali itu, semua pekerja pabrik harus warga pribumi, plus transfer teknologi. Kebijakan ini menciptakan efek bagi kesejahteraan rakyat serta pendapatan negara.

Bagi China, satu-satunya masalah besar dengan populasi tinggi itu adalah kebodohan. Sebagaimana juga disadari oleh Kaisar Hirohito pasca Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki. Mereka butuh pendidikan yang layak untuk membangun negara.

Transfer teknologi menjadi momentum. China mulai dengan strategi cerdik, Ambil, Tiru dan Modifikasi (ATM). Pola ini membuat negara-negara produsen teknologi kini berhitung ulang, termasuk USA yang mulai membatasi mahasiswa China belajar di sejumlah perguruan tingginya.

Tapi China tak peduli daripada rakyatnya kelaparan. Deng berhasil, China bangkit menjadi raksasa ekonomi dunia hingga merepotkan USA. Ia menjadi pemain utama di era Xi Jinping. Ia mulai menentukan arah peta dunia. Geopolitik bergantung China selain Rusia pasca kekalahan USA vs Iran dalam Perang 40 Hari.

Kini China tak hanya butuh pasar, juga bahan baku. Ia merambah ke seluruh dunia dengan syarat yang sama, upah buruh rendah, insentif pajak, fleksibilitas tanah, serta kepemilikan. Satu-satunya yang alpa bagi kita, tidak mewajibkan pekerja pribumi di pabrik China sebagaimana Deng Xioping praktekkan.

Eksesnya, pekerja pabrik China di Morowali-Sulteng, Sultra, dan Maluku Utara didominasi Warga China. Mereka menjadi pekerja utama. Kita menjadi pekerja dengan skill rendah mulai Satpam hingga _Cleaning Service._ China tetap selangkah dibanding negara-negara mitranya seperti Indonesia.

Agar tak rugi, penting mengingat pesan Carlos M Cipolla dalam bukunya, _The Basic Laws of Human Stupidity._ Dalam kaitan sebagai pemerintah, kemungkinan kita berada pada kategori cerdas, bandit, naif, atau bodoh mengelola pemerintahan. Cerdas bila pemerintah dan masyarakat untung.

Bandit, bila pemerintah untung namun masyarakat kelaparan. Naif _(helpless),_ bila pemerintah rugi tapi masyarakat untung. Terakhir, dan ini yang paling berbahaya, bila pemerintahnya bodoh. Artinya, pemerintah dan masyarakat tak ada yang diuntungkan. Semoga pemerintah kian cerdas, bukan naif, bandits, apalagi bodoh.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas