indonews

indonews.id

Limbah Kayu Laut Disulap Jadi Produk Ekspor oleh Nasabah PNM ULaMM

Tumpukan kayu yang terbawa ombak dan terdampar di pesisir pantai Bali selama ini kerap dianggap sebagai sampah tak bernilai. Namun, di tangan Wayan Sudira, limbah kayu laut tersebut justru disulap menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi yang kini berhasil menembus pasar internasional.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Tumpukan kayu yang terbawa ombak dan terdampar di pesisir pantai Bali selama ini kerap dianggap sebagai sampah tak bernilai. Namun, di tangan Wayan Sudira, limbah kayu laut tersebut justru disulap menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi yang kini berhasil menembus pasar internasional.

Melalui usaha bernama Ulu Sari Handicraft, Wayan memanfaatkan kayu-kayu yang terdampar di pantai untuk dijadikan berbagai produk kerajinan unik dan bernilai jual. Kreativitas tersebut tidak hanya menghadirkan peluang usaha, tetapi juga sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta poin 14 mengenai perlindungan ekosistem laut.

Sejak bergabung dengan PNM ULaMM (Unit Layanan Modal Mikro) pada 2017, Wayan mendapatkan akses pembiayaan dan pendampingan usaha yang membantu perkembangan bisnisnya. Dukungan tersebut membuat usaha yang dirintisnya terus berkembang hingga kini memiliki dua workshop yang berada di Singaraja dan Tegallalang, Bali.

Saat ini, Ulu Sari Handicraft telah mempekerjakan sebanyak 45 karyawan. Sebagian besar pekerja berasal dari masyarakat sekitar, anggota keluarga, hingga mantan pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja saat pandemi COVID-19.

“Semua ini titiang yakini karena jalan Tuhan. Dari kayu yang terbuang, astungkara bisa menjadi rezeki untuk keluarga, untuk karyawan, dan untuk orang-orang di sekitar. Jadi yang bisa kami lakukan adalah terus bersyukur, menjaga kepercayaan, dan bekerja sebaik-baiknya,” ujar Wayan.

Di tengah lesunya banyak usaha mikro dan kecil saat pandemi COVID-19, Ulu Sari Handicraft justru mengalami peningkatan permintaan dari pasar luar negeri. Produk kerajinan hasil olahan limbah kayu pantai tersebut kini rutin dikirim ke berbagai negara seperti Selandia Baru, Australia, Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat.

Bagi Wayan, keberhasilan usahanya bukan hanya sekadar pencapaian bisnis semata, tetapi juga bentuk rasa syukur karena mampu mengubah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Kisah Wayan menjadi salah satu contoh bagaimana pembiayaan dan pendampingan dari PNM mampu memberikan dampak luas bagi perkembangan usaha mikro dan kecil, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan.

Melalui Ulu Sari Handicraft, kepedulian terhadap persoalan lingkungan berhasil melahirkan peluang baru, membuka lapangan pekerjaan, sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat sekitar.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas