indonews

indonews.id

Catatan Ulang Tahun ke-68 Drs. Asri Hadi, MA: Pengabdian Tanpa Batas Sang Sosiolog

Ada sebuah hukum alam yang berlaku sejak tahun 1978 di kampus FISIP Universitas Indonesia (UI) Rawamangun: Jika ada sebuah ruangan yang mendadak riuh, penuh tawa, dan diguncang oleh suara menggelegar layaknya barisan demonstran, maka di pusat keramaian itu pasti ada Drs. Asri Hadi, MA.

Reporter: donatus nador
Redaktur: donatus nador
zoom-in Catatan Ulang Tahun ke-68 Drs. Asri Hadi, MA: Pengabdian Tanpa Batas Sang Sosiolog
Ada sebuah hukum alam yang berlaku sejak tahun 1978 di kampus FISIP Universitas Indonesia (UI) Rawamangun: Jika ada sebuah ruangan yang mendadak riuh, penuh tawa, dan diguncang oleh suara menggelegar layaknya barisan demonstran, maka di pusat keramaian itu pasti ada Drs. Asri Hadi, MA.

Jakarta, INDONEWS.ID– Ada sebuah hukum alam yang berlaku sejak tahun 1978 di kampus FISIP Universitas Indonesia (UI) Rawamangun: Jika ada sebuah ruangan yang mendadak riuh, penuh tawa, dan diguncang oleh suara menggelegar layaknya barisan demonstran, maka di pusat keramaian itu pasti ada Drs. Asri Hadi, MA.

Hari ini, Senin, 25 Mei 2026, pria kelahiran Lintau, Sumatra Barat ini menginjak usia 68 tahun. Bagi rekan-rekan pers, aktivis sosial, hingga para jenderal di kepolisian dan TNI, bertambahnya usia sang Pemimpin Redaksi Indonews.id ini bukan sekadar angka. Ini adalah perayaan atas perjalanan panjang seorang pria energik yang akrab dipanggil "Bang Buyung."

Petualang Kampus yang Berlabuh di Sosiologi UI `78

Masa muda Asri Hadi adalah kisah tentang pencarian intelektual yang dinamis. Jiwa pembelajar seumurnya membuatnya sempat mencicipi bangku kuliah di berbagai perguruan tinggi top tanah air. Ia pernah tercatat menuntut ilmu di Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga Universitas Padjadjaran (Unpad).

Namun, guratan takdir dan hatinya justru berlabuh di Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia Angkatan 1978. Di sinilah karakter sosialnya ditempa, sebelum akhirnya ia terbang ke Australia untuk melanjutkan studi magister dan sukses menjadi lulusan dari Monash University, Melbourne. Kombinasi sosiologi UI dan wawasan global dari Melbourne inilah yang membentuk cara pandangnya yang luas namun tetap membumi.

"Leher yang Tertelan TOA" dan Sang Pencair Suasana
Bicara soal Asri Hadi adalah bicara tentang volume suara yang di atas rata-rata. Di kalangan sahabat karibnya sejak masa kuliah di Rawamangun, ada satu olok-olok legendaris yang masih awet sampai sekarang: "Di leher Buyung itu, kayaknya ada TOA merek pengeras suara yang ketelan waktu bayi."

Suaranya yang lantang dan tegas kerap membuat orang yang baru pertama kali bertemu akan sedikit terkejut. Sahabat satu angkatannya di Sosiologi UI `78 mengenang polah jenaka ini saat masa kuliah. "Dia mau bisik-bisik nanya buku di perpustakaan saja suaranya kedengaran sampai kantin sastra di sebelah," selorohnya. "Tapi tanpa suara TOA-nya, reuni kami cuma jadi sekumpulan orang tua yang saling diam," katanya lagi.

Karakter jenaka, lucu, dan penuh humor yang melekat pada dirinya menjadikan suara lantang itu sebagai instrumen utama Buyung untuk mencairkan suasana. Di setiap acara formal maupun informal- mulai dari seminar nasional hingga reuni alumni - kehadiran Buyung selalu dinanti sebagai ice-breaker. Rekan sekampusnya, Bunga C. Kejora, membenarkan hal tersebut. "Kalau dia telepon, suaranya langsung bikin mata melek tanpa perlu kopi," kata Bunga. "Dia adalah pencair gunung es terbaik yang pernah saya kenal," lanjutnya.

Ketika suasana mulai kaku, Buyung akan maju menjadi narasumber atau moderator yang andal. Dengan gojekan khasnya yang segar dan tawa lepas yang menular, suasana tegang dalam sekejap bisa berubah menjadi penuh keceriaan.

Dari Dosen IPDN, Sespim Polri, hingga Seskoal
Siapa sangka, di balik sifatnya yang jenaka dan suka bercanda, Buyung adalah pendidik para calon pemimpin bangsa dan perwira tinggi militer. Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), ia mendedikasikan sebagian besar hidupnya sebagai dosen yang mengajar di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Tidak hanya itu, kepakaran sosiologinya membuat ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan elit penegak hukum dan pertahanan negara, menjadi dosen di Sespim Polri (Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah/Tinggi) serta Seskoal (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut). Di ruang-ruang kelas yang biasanya kaku dan disiplin tinggi itu, kehadiran Asri Hadi selalu memberi warna berbeda- membuat para calon jenderal belajar dengan dahi yang tidak berkerut, berkat gaya mengajarnya yang segar namun sarat ilmu.

Sahabat karibnya yang kini menjadi Tenaga Ahli di Bappenas, Otho Hernowo Hadi, mengingat bagaimana Buyung membawa gaya santai ini bahkan saat menempuh studi ke luar negeri. "Waktu dia nekat kuliah ke Monash University, kami sempat taruhan apakah bule-bule di Australia bakal ikut ketularan ketawa ala Lintau," kelakar Otho. "Nyatanya, dia pulang membawa gelar MA dan tetap menjadi Buyung yang ramah, rendah hati, dan tidak sok intelektual," imbuhnya.

Setelah kini purna tugas alias pensiun sebagai ASN, ia tidak memilih istirahat, melainkan makin sibuk mengabdi di dunia jurnalistik sebagai wartawan senior.

Puluhan Organisasi dan Filosofi "Relawan Tekor"

Kesibukan Asri Hadi di dunia organisasi sudah dimulai sejak ia masih berstatus mahasiswa hingga detik ini. Tercatat ada puluhan organisasi sosial dan organisasi kemasyarakatan yang ia geluti, mulai dari gerakan anti-narkoba, olahraga hingga lembaga pencegahan kejahatan.

Menariknya, menjadi relawan di Indonesia acap kali berarti harus siap berkorban materi. Dalam sebuah kesempatan, sambil terkekeh khas, Buyung pernah berseloroh tentang kiprahnya di berbagai organisasi: "Menjadi relawan itu kita harus siap tekor kantong sendiri!" ujarnya sambil tertawa lepas.

Sikap apa adanya ini juga dirasakan di lingkungan profesinya, seperti yang diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI), Edi Winarto, SH. "Kalau rapat sudah mulai kaku, dia pasti potong dengan celetukan jenaka," ujar Edi. "Tapi kalau sudah bicara integritas pers dan anti-narkoba, beliau langsung tegak lurus pada prinsip," tegasnya.

Hal senada disampaikan oleh Budi Raharjo, pakar media yang kini menjadi tenaga ahli di Bakom RI yang melihat loyalitas total dari sang sosiolog. "Bang Buyung rela tekor materi, waktu, dan energi demi memastikan organisasi sosial dan bahkan media yang dipimpinnya agar jalan terus," ungkap Budi. "Beliau adalah guru, sahabat, sekaligus kompas moral bagi kami jurnalis muda," tambahnya. Bagi seorang Asri Hadi, tekor materi bukanlah masalah, selama hidupnya bisa terus memberi manfaat dan maslahat bagi orang lain. Jiwa penolongnya mengalahkan segalanya.

Membaca "Apa yang Tidak Dikatakan"
Di balik seluruh keceriaan, humor yang meledak-ledak, dan suara lantang laksana pengeras suara itu, tersimpan lapisan kepribadian Asri Hadi yang kerap membuat orang-orang terdekatnya terenyuh. Buyung adalah seorang pria yang sensitif dan memiliki empati yang dalam. Ia dianugerahi kemampuan untuk mendengar apa yang tidak dikatakan oleh temannya yang sedang kesusahan.

Ahmed Kurnia, salah satu teman dekatnya, melihat hal ini sebagai buah dari kepekaan ilmu sosiologinya yang membumi dan luasnya pergaulan – dari pejabat setingkat presiden hingga preman jalanan. "Buyung punya indera keenam yang mampu membaca perubahan raut wajah temannya yang memikul beban berat, lalu bergerak dan membantu tanpa perlu diminta," jelasnya.

Bukan rahasia lagi di kalangan alumni FISIP UI `78 maupun rekan kerja di media, jika ada seorang teman yang sedang didera kesulitan atau sakit, Buyung sering kali menjadi orang pertama yang tahu - bahkan sebelum teman tersebut mengeluh. Teman-temannya mengagumi cara Buyung dalam menjaga harga diri orang lain saat menyalurkan bantuan. Bak kata pepatah, ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu. "Dia tahu kapan harus diam, kapan harus memeluk, dan kapan harus mengulurkan tangan secara sembunyi-sembunyi," cerita seorang teman lainnya.

Secara diam-diam, dengan dalih mengajak makan atau pura-pura menelepon untuk mengobrol jenaka, ia akan mengulurkan bantuan. Di sinilah letak keseimbangan seorang Asri Hadi. Suara "TOA"-nya yang bising di luar, ternyata adalah caranya untuk menyembunyikan keheningan hatinya yang sibuk memikirkan cara meringankan beban orang lain.

Menjadi manusia yang baik bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa besar dampak yang kita beri. Sosok Buyung mengajarkan kita bahwa bersedekah tidak harus selalu dengan harta - sebab dengan senyumnya yang hangat dan tulus, uluran tenaga yang ikhlas, dan untaian nasihat baik sudah lebih dari cukup untuk menjadi pelita bagi orang di sekitarnya.

Seperti kata Hadis Nabi: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."

Selamat ulang tahun yang ke-68, Buyung! Teruslah membawa ceria, tetaplah ikhlas meski harus "tekor", dan jadilah telinga yang selalu mendengar jeritan tanpa kata di sekitar kita.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas