indonews

indonews.id

KETIKA MANUSIA MODERN KEHILANGAN JIWANYA

KETIKA MANUSIA MODERN KEHILANGAN JIWANYA

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

AI Semakin Pintar, Dunia Semakin Canggih, Tetapi Mengapa Manusia Semakin Gelisah?

Jakarta, Mei 2026

Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol ‘86

PENDAHULUAN: DUNIA YANG SEMAKIN TERHUBUNG, MANUSIA YANG SEMAKIN JAUH

Pernahkah kita melihat satu keluarga duduk satu meja, tetapi masing-masing sibuk dengan telepon genggamnya sendiri?

Anak-anak tidak lagi melihat langit sore.

Orang tua semakin jarang berbicara.

Manusia bangun tidur bukan lagi mencari matahari pagi, tetapi mencari notifikasi.

Dunia semakin terkoneksi.

Tetapi manusia justru semakin jauh secara emosional.

Hari ini manusia dapat berbicara dengan siapa saja di berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik.

Namun banyak manusia modern justru semakin merasa:sendiri,gelisah,dan kehilangan ketenangan hidupnya.

Mengapa?

Padahal teknologi semakin maju.Artificial Intelligence berkembang luar biasa.Informasi semakin terbuka.Ekonomi digital berkembang besar.

Tetapi di tengah semua kemajuan itu, dunia justru menghadapi:depresi yang meningkat,konflik sosial yang mudah meledak,kesepian,dan hilangnya rasa kebersamaan manusia.

KETIKA MANUSIA MENJADI TARGET SISTEM

Hari ini manusia hidup di dalam sistem yang terus memperebutkan perhatian manusia.

Perusahaan teknologi dunia berlomba membuat manusia:terus melihat layar,terus scrolling,terus bereaksi,dan terus berada di dalam sistem mereka.

Waktu manusia menjadi komoditas.

Perhatian manusia menjadi pasar.

Emosi manusia menjadi sumber keuntungan ekonomi.

Tanpa disadari, manusia modern perlahan hidup di dalam arus:notifikasi,algoritma,dan banjir informasi yang tidak pernah berhenti.

Tubuh manusia mungkin tetap bebas.

Tetapi pikirannya perlahan mulai lelah.

Karena setiap hari manusia dibanjiri:ketakutan,kemarahan,persaingan,pencitraan,dan dorongan untuk selalu terlihat lebih hebat dibanding orang lain.

Manusia modern akhirnya semakin sulit diam.

Sulit menikmati kesunyian.

Sulit mendengar dirinya sendiri.

Bahkan banyak manusia mulai merasa cemas ketika jauh dari telepon genggamnya.

KEMAJUAN TANPA ARAH

Masalah terbesar dunia modern sebenarnya bukan kurangnya teknologi.

Masalah terbesar manusia modern adalah kehilangan arah kehidupan.

Hari ini manusia diajarkan:bagaimana menjadi kaya,bagaimana menjadi terkenal,bagaimana menjadi viral,dan bagaimana menjadi kuat.

Tetapi semakin sedikit manusia yang diajarkan:bagaimana menjaga jiwa,bagaimana mengendalikan hawa nafsu,bagaimana hidup seimbang,dan bagaimana menjadi manusia yang bijaksana.

Akibatnya manusia modern semakin pintar, tetapi belum tentu semakin dewasa.

Teknologi berkembang cepat, tetapi moral manusia sering tertinggal jauh di belakang.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia tidak lagi hanya menciptakan alat.

Manusia mulai menciptakan sistem yang perlahan membentuk cara manusia berpikir.

Dan mungkin yang paling berbahaya dari dunia modern bukan perang nuklir.

Tetapi ketika manusia perlahan kehilangan kemampuan membedakan:mana kebutuhan,mana keinginan,dan mana manipulasi sistem.

KETIKA MANUSIA MULAI KEHILANGAN MAKNA HIDUP

Hari ini banyak manusia bekerja tanpa benar-benar tahu untuk apa ia hidup.

Manusia mengejar uang, jabatan, popularitas, dan pengakuan sosial tanpa pernah merasa cukup.

Media sosial membuat manusia terus membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Orang makan demi foto.

Berlibur demi konten.

Berbuat baik demi pencitraan.

Dan perlahan manusia mulai hidup bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk penilaian dunia digital.

Ironisnya, di tengah dunia yang semakin ramai, manusia justru semakin kesepian.

Manusia punya ribuan followers, tetapi tidak punya tempat bercerita.

AI mulai mampu menjawab hampir semua pertanyaan manusia.

Tetapi manusia justru semakin bingung mencari makna hidupnya sendiri.

NUSANTARA DAN ILMU KESEIMBANGAN KEHIDUPAN

Nusantara sebenarnya pernah mengajarkan ilmu kehidupan yang sangat dalam.

Leluhur Nusantara memahami bahwa manusia tidak mungkin hidup dengan melawan alam.

Karena itu lahir:hutan larangan,aturan adat,sistem irigasi,budaya gotong royong,dan pembagian kawasan hidup.

Mereka mungkin tidak mengenal istilah modern seperti:ekologi,sustainability,atau climate change.

Tetapi mereka memahami inti kehidupan:kalau hutan rusak, air hilang.Kalau air hilang, manusia mulai berebut kehidupan.

Karena itu hubungan manusia dengan alam tidak dipandang sekadar hubungan ekonomi.

Tetapi hubungan moral dan spiritual kehidupan.

Majapahit sendiri pernah menjadi salah satu kekuatan besar di kawasan Asia Tenggara.

Namun sejarah menunjukkan bahwa konflik internal,perebutan kekuasaan,dan melemahnya persatuan elite,ikut mempercepat pudarnya kekuatan besar tersebut.¹

Sejarah Nusantara memberi pelajaran:peradaban besar tidak hanya dibangun oleh kekuatan.

Tetapi juga oleh kemampuan menjaga keseimbangan kehidupan.

DUNIA SEDANG KEHILANGAN KESEIMBANGAN

Hari ini manusia modern semakin sulit merasa cukup.

Alam dieksploitasi tanpa batas.

Hutan ditebang.

Laut tercemar.

Manusia berlomba menguasai:data,energi,uang,teknologi,bahkan perhatian manusia lain.

Kemajuan akhirnya sering digerakkan oleh:keserakahan,persaingan tanpa batas,dan hawa nafsu manusia yang tidak terkendali.

Padahal ketika manusia kehilangan kemampuan mengendalikan dirinya sendiri, maka teknologi secanggih apa pun dapat berubah menjadi ancaman bagi peradaban.

Mungkin inilah ironi terbesar dunia modern:manusia berhasil menaklukkan teknologi,tetapi mulai kesulitan menaklukkan dirinya sendiri.

MASA DEPAN DUNIA: MENJAGA MANUSIA TETAP MANUSIA

Indonesia harus maju.

Kita harus menguasai:AI,teknologi,energi,dan industri modern.

Tetapi pertanyaan terbesarnya adalah:

apakah manusia Indonesia tetap memiliki jiwa?

Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kuat teknologinya.

Tetapi bangsa yang mampu menjaga:martabat manusia,moral,budaya,dan rasa kemanusiaannya sendiri.

Mungkin inilah tantangan terbesar dunia modern.

Bukan sekadar bagaimana menciptakan Artificial Intelligence yang semakin pintar.

Tetapi bagaimana menjaga manusia agar tidak kehilangan kebijaksanaan hidupnya sendiri.

Karena pada akhirnya, peradaban besar bukan hanya dibangun oleh kecerdasan teknologi.

Tetapi oleh kualitas jiwa manusianya.

Dan jangan-jangan, di tengah dunia yang semakin pintar, manusia modern perlahan sedang kehilangan sesuatu yang paling penting:

jiwanya sendiri.

Jakarta ,26 Mei 2026

Brigjen Purn. MJP Hutagaol ‘86

Catatan Kaki:

¹ M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c.1200.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas