indonews

indonews.id

KETIKA NUSANTARA MULAI MEMBACA DIRINYA DARI KACAMATA ORANG LAIN

KETIKA NUSANTARA MULAI MEMBACA DIRINYA DARI KACAMATA ORANG LAIN

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, Mei 2026

Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol ‘86

PENDAHULUAN: PERTANYAAN YANG JARANG DIAJUKAN

Indonesia adalah bangsa besar.

Nusantara memiliki:kerajaan besar,jalur perdagangan dunia,budaya,bahasa,dan filosofi kehidupan yang sangat kaya.

Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur:

Mengapa banyak generasi Indonesia justru belajar sejarah bangsanya sendiri melalui tulisan orang asing?

Pertanyaan ini bukan kebencian terhadap Barat.

Bukan pula penolakan terhadap ilmuwan asing.

Banyak peneliti Barat berjasa besar mendokumentasikan sejarah Nusantara ketika bangsa ini sendiri belum banyak menulis secara sistematis.

Tetapi tetap ada persoalan besar yang perlu direnungkan:

Kalau sejarah bangsa lebih banyak ditulis orang lain, maka cara bangsa memahami dirinya sendiri perlahan juga dapat dibentuk oleh cara pandang orang lain.

SEJARAH DAN KEKUASAAN PENGETAHUAN

Dalam sejarah dunia, penjajahan tidak selalu dilakukan dengan senjata.

Kadang penjajahan berlangsung melalui:bahasa,pendidikan,narasi,dan pengetahuan.

Siapa yang menulis sejarah sering ikut menentukan:siapa dianggap besar,siapa dianggap kecil,siapa disebut maju,dan siapa dianggap tertinggal.

Karena itu sejarah sebenarnya bukan sekadar cerita masa lalu.

Sejarah adalah cara sebuah bangsa melihat dirinya sendiri.

Dan bangsa yang kehilangan kemampuan menulis dirinya sendiri perlahan dapat kehilangan:kepercayaan diri,identitas,dan arah peradabannya sendiri.

SEJARAH INDONESIA YANG BANYAK DITULIS ORANG ASING

Hari ini banyak literatur sejarah Indonesia yang dipakai di kampus, sekolah, penelitian, bahkan diskusi publik, berasal dari penulis asing.

Misalnya:George McTurnan Kahin dengan buku Nationalism and Revolution in Indonesia.

Benedict Anderson dengan:Imagined Communities,dan berbagai tulisan tentang politik Indonesia modern.

M.C. Ricklefs dengan:A History of Modern Indonesia Since c.1200.

Anthony Reid dengan:Southeast Asia in the Age of Commerce.

Clifford Geertz dengan berbagai penelitian tentang budaya dan masyarakat Jawa.

Denys Lombard dengan:Nusa Jawa: Silang Budaya.

Thomas Stamford Raffles dengan:The History of Java.

Bahkan sejarah Majapahit sendiri banyak dirujuk melalui penelitian:Belanda,Inggris,dan sarjana Barat lainnya.

Pertanyaannya:di mana posisi bangsa Indonesia sendiri?

Mengapa banyak generasi Indonesia lebih mengenal:Majapahit,Sriwijaya,Diponegoro,bahkan budaya Jawa,melalui tafsir akademik luar?

PADAHAL NUSANTARA MEMILIKI WARISAN INTELEKTUAL BESAR

Sering muncul kesan seolah-olah Nusantara tertinggal karena tidak memiliki tradisi ilmu pengetahuan besar seperti Barat.

Padahal pertanyaannya mungkin bukan:“Apakah Nusantara tidak memiliki ilmu?”

Tetapi:

“Apakah cara Nusantara menyimpan ilmu berbeda dengan Barat?”

Karena Barat membangun ilmu melalui:universitas,arsip,jurnal,dan tradisi akademik tertulis.

Sedangkan Nusantara banyak menyimpan pengetahuan melalui:syair,hikayat,adat,pepatah,petuah,dan tradisi lisan lintas generasi.

Masalahnya, ketika dunia modern hanya mengakui satu bentuk ilmu, maka pengetahuan Nusantara perlahan dianggap:mitos,mistik,atau sekadar cerita lama.

LA GALIGO DAN LAUTAN PENGETAHUAN NUSANTARA

Bugis-Makassar memiliki:Lontara,tradisi pelayaran,dan karya besar dunia:La Galigo.

Banyak peneliti internasional menyebut La Galigo sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia.

Lebih panjang dibanding epos Mahabharata atau Odyssey dalam beberapa versi kajian.

Namun ironisnya, banyak generasi Indonesia sendiri justru tidak pernah membacanya.

Padahal La Galigo bukan sekadar cerita.

Di dalamnya tersimpan:cara membaca kehidupan,hubungan manusia dengan alam,etika,kepemimpinan,hingga pandangan kosmologi masyarakat Nusantara.

Aceh melahirkan:Hamzah Fansuri,Syamsuddin as-Sumatrani,dan Nuruddin ar-Raniri.

Jawa melahirkan:Ranggawarsita,Serat Wedhatama,dan berbagai serat kehidupan yang berbicara tentang:moral,kepemimpinan,dan perubahan zaman.

Ranggawarsita bahkan menulis tentang:“zaman edan,”yang hingga hari ini masih terasa relevan dengan kegelisahan manusia modern.

Di Minangkabau terdapat:Tambo,petatah-petitih,dan falsafah adat:“alam takambang jadi guru.”

Kalimat sederhana itu sebenarnya sangat dalam.

Artinya:alam adalah sumber pembelajaran kehidupan.

Di Batak terdapat:Pustaha Laklak,yang berisi pengetahuan pengobatan,astronomi tradisional,dan tata spiritual masyarakat Batak.

Artinya Nusantara sebenarnya tidak miskin pengetahuan.

Yang sering terjadi adalah:cara pengetahuan Nusantara berbeda dengan tradisi akademik Barat.

KETIKA ILMU NUSANTARA DIANGGAP BUKAN ILMU

Leluhur Nusantara mengenal:hutan larangan,aturan adat,sistem sawah berjenjang,pengelolaan air,dan keseimbangan alam.

Namun karena tidak ditulis dalam bentuk jurnal modern atau bahasa akademik Barat, banyak yang dianggap:mitos,mistik,atau cerita kampung.

Padahal hari ini dunia modern justru menghadapi:krisis air,kerusakan lingkungan,dan hilangnya keseimbangan hidup manusia.

Ironisnya, ketika Barat mulai berbicara:sustainability,green economy,dan ecological balance,Nusantara sebenarnya telah lama mengenal inti keseimbangan itu dalam praktik kehidupan sehari-hari.

GUNCANGAN MODERN: KETIKA NUSANTARA MULAI ASING TERHADAP DIRINYA SENDIRI

Mungkin inilah ironi terbesar Indonesia modern.

Anak muda Indonesia bisa hafal:tokoh Marvel,nama artis Korea,dan budaya populer global.

Tetapi tidak mengenal:Hamzah Fansuri,La Galigo,Ranggawarsita,atau filosofi leluhurnya sendiri.

Banyak generasi modern lebih mengenal:filsafat Barat,narasi global,dan algoritma media sosial,dibanding memahami:petatah-petitih,hikayat,atau kebijaksanaan hidup Nusantara.

Bahkan banyak manusia modern lebih percaya:apa yang viral di media sosial,dibanding nasihat orang tua,guru,atau pengalaman hidup masyarakatnya sendiri.

Tanpa disadari, manusia modern perlahan hidup di dalam arus:algoritma global,budaya instan,dan banjir informasi yang terus membentuk cara manusia berpikir.

Akibatnya:manusia semakin terkoneksi secara digital,tetapi perlahan semakin jauh dari akar budayanya sendiri.

Inilah bentuk perubahan dunia yang sangat halus.

Penjajahan modern mungkin tidak lagi datang dengan tentara dan senjata.

Tetapi masuk melalui:layar,algoritma,budaya populer,dan cara manusia memandang dirinya sendiri.

Karena itu tantangan terbesar Indonesia hari ini mungkin bukan sekadar:bagaimana menjadi negara maju.

Tetapi:

bagaimana tetap menjadi Indonesia di tengah dunia yang perlahan menyeragamkan cara berpikir manusia.

Jangan-jangan Nusantara hari ini tidak sedang kehilangan sumber daya alamnya.

Tetapi perlahan mulai kehilangan:cara berpikirnya sendiri,cara membaca kehidupannya sendiri,dan keberanian menjadi dirinya sendiri.

MASALAHNYA BUKAN BARAT, TETAPI KITA MULAI MALAS MEMBACA DIRI SENDIRI

Masalah utamanya sebenarnya bukan karena Barat menulis tentang Nusantara.

Banyak ilmuwan asing justru berjasa besar mendokumentasikan sejarah dan budaya Nusantara.

Masalah terbesar kita adalah:bangsa Indonesia sendiri perlahan kehilangan kebiasaan:membaca,meneliti,menulis,dan mendokumentasikan dirinya sendiri.

Akibatnya:kita lebih sering menjadi konsumen pengetahuan tentang diri kita sendiri.

Bukan produsen pengetahuan.

Kita lebih sering membaca Nusantara melalui:tafsir luar,perspektif luar,dan ukuran luar.

Padahal belum tentu seluruh pengalaman Nusantara bisa dipahami hanya melalui ukuran peradaban Barat modern.

TIDAK PERLU MENULIS ULANG SEJARAH DENGAN KEMARAHAN

Karena itu solusi terbaik bukan:menghapus sejarah Barat,membenci ilmuwan asing,atau menulis ulang sejarah dengan kemarahan.

Itu justru membuat bangsa terjebak emosional.

Yang lebih penting adalah:Indonesia mulai kembali menulis dirinya sendiri dengan percaya diri.

Bukan untuk merasa paling hebat.

Tetapi agar Nusantara tidak kehilangan suaranya sendiri.

Karena sejarah bukan hanya tentang masa lalu.

Sejarah adalah cara bangsa memahami:siapa dirinya,apa akar budayanya,dan ke mana arah peradabannya bergerak.

MEMBANGUN JEMBATAN ANTARA ILMU MODERN DAN KEARIFAN NUSANTARA

Indonesia tidak mungkin kembali hidup di masa lampau.

Kita tetap harus maju.

Kita harus menguasai:AI,teknologi,energi,dan ilmu pengetahuan modern.

Tetapi kemajuan tidak harus membuat bangsa kehilangan akar kebijaksanaannya sendiri.

Di sinilah tantangan besar Indonesia modern:bagaimana membangun jembatan antara:ilmu modern,dan kearifan Nusantara.

Karena leluhur Nusantara sebenarnya telah mengajarkan:keseimbangan hidup,hubungan manusia dengan alam,dan pentingnya menjaga harmoni sosial.

Nilai-nilai itu justru mulai dicari kembali oleh dunia modern yang sedang mengalami:krisis lingkungan,krisis moral,dan krisis makna kehidupan.

PENUTUP: JANGAN SAMPAI NUSANTARA HANYA MENJADI OBJEK CERITA

Hari ini dunia tidak hanya memperebutkan:teknologi,ekonomi,dan energi.

Dunia juga memperebutkan:narasi,identitas,dan cara manusia memahami dirinya sendiri.

Karena itu bangsa yang besar tidak cukup hanya memiliki sumber daya alam.

Bangsa besar harus mampu:menceritakan dirinya sendiri,menjelaskan dirinya sendiri,dan menjaga jiwanya sendiri.

Kalau tidak,Nusantara perlahan hanya akan menjadi:objek penelitian,pasar global,dan penonton sejarahnya sendiri.

Padahal bangsa ini pernah memiliki:lautan ilmu,lautan budaya,dan lautan kebijaksanaan hidup,yang sangat besar.

Mungkin yang hilang bukan kejayaan Nusantara.

Tetapi keberanian bangsa modern untuk kembali membaca dan menulis jiwanya sendiri.
Jakarta. ,26 Mei 2026 

Brigjen Purn. MJP Hutagaol ‘86

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas