KP2MI dan Bank Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi Pekerja Migran, Cetak Agen Transformasi Keuangan hingga Pelosok Daerah
KP2MI dan Bank Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi Pekerja Migran, Cetak Agen Transformasi Keuangan hingga Pelosok Daerah
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Negara terus memperkuat strategi pelindungan dan pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui penguatan literasi keuangan dan pengelolaan remitansi yang produktif. Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) bersama Bank Indonesia menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Aplikasi SIAPIK (Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan) bagi para Instruktur Orientasi Pra Pemberangkatan (OPP) pada 24-25 Juni 2026 di Hotel Millennium, Jakarta Pusat.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis pemerintah untuk memastikan bahwa hasil kerja keras para pekerja migran Indonesia tidak berhenti sebagai sumber pendapatan jangka pendek, tetapi mampu bertransformasi menjadi modal pembangunan keluarga, usaha produktif, dan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Pelatihan dibuka oleh Deputi Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Inklusif dan Hijau (DEIH) Bank Indonesia, Kartina Eka Darmawanti, bersama Ramadhan, Direktur Literasi Keuangan dan Pemanfaatan Remitansi Kementerian P2MI.
Sebanyak 50 peserta yang merupakan Instruktur OPP mengikuti pelatihan ini. Para peserta berasal dari Direktorat Jenderal Pemberdayaan, Direktorat Jenderal Pelindungan, Direktorat Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri (P3KLN), serta BP3MI Jakarta, BP3MI Banten, dan BP3MI Jawa Barat.
Pelatihan ToT Aplikasi SIAPIK merupakan bentuk kolaborasi antara Direktorat Jenderal Pemberdayaan Kementerian P2MI dan DEIH Bank Indonesia dalam memperkenalkan sistem pencatatan keuangan yang dirancang untuk membantu Pekerja Migran Indonesia, keluarga PMI, dan purna PMI dalam mengelola keuangan usaha secara tertib, terukur, dan berkelanjutan.
Aplikasi SIAPIK dikembangkan oleh Bank Indonesia bersama Ikatan Akuntan Indonesia sebagai instrumen pendukung bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu melakukan pencatatan keuangan usaha secara sederhana, sistematis, dan mudah dipahami.
Berbasis website dan aplikasi mobile, SIAPIK dapat diakses melalui telepon genggam kapan saja dan di mana saja. Pengguna hanya perlu melakukan registrasi dengan mengisi data identitas, seperti nama, Nomor Induk Kependudukan (NIK), nama usaha, dan alamat usaha.
Melalui aplikasi ini, para pelaku usaha dapat memantau perkembangan usahanya secara lebih akurat melalui pencatatan arus kas, laba usaha, dan kondisi keuangan secara menyeluruh. Kemampuan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan ekonomi serta memperluas akses terhadap layanan pembiayaan formal.
20
:
Direktur Literasi Keuangan dan Pemanfaatan Remitansi Kementerian P2MI, Ramadhan, Direktur Literasi Keuangan dan Pemanfaatan Remitansi Kementerian P2MI, Ramadhan, menegaskan bahwa keberhasilan migrasi tidak boleh lagi diukur semata dari besarnya penghasilan yang diperoleh selama bekerja di luar negeri.
"Keberhasilan pekerja migran Indonesia harus diukur dari sejauh mana hasil kerja keras tersebut mampu menciptakan perubahan kualitas hidup yang berkelanjutan bagi dirinya dan keluarganya. Kita ingin para PMI kembali ke tanah air dengan membawa modal sosial, modal finansial, dan modal usaha yang mampu menjadi fondasi kesejahteraan jangka panjang," tegas Ramadhan.
la menambahkan, pemerintah saat ini mendorong perubahan paradigma dalam memandang remitansi. Menurutnya, remitansi tidak boleh lagi diposisikan sekadar sebagai kiriman uang dari luar negeri, melainkan sebagai instrumen pembangunan ekonomi keluarga dan masyarakat.
"Remitansi harus kita tempatkan sebagai instrumen pembangunan. Remitansi harus menjadi modal untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga, memperluas akses pendidikan anak, memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga, serta mendorong tumbuhnya usaha-usaha produktif di daerah asal pekerja migran Indonesia," ujamya.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan berbagai materi, mulai dari pengenalan Aplikasi SIAPIK, pengenalan fitur dan menu SIAPIK, hingga praktik penggunaan aplikasi pada berbagai sektor usaha, seperti manufaktur, pertanian, perdagangan, jasa, perikanan budidaya, dan perikanan tangkap.
Melalui skema Training of Trainers, pemerintah menargetkan terciptanya efek berantai yang luas. Para instruktur OPP diharapkan dapat menyebarluaskan pemanfaatan aplikasi SIAPIK kepada masyarakat, khususnya calon pekerja migran Indonesia pada masa Orientasi Pra Pemberangkatan, serta kepada keluarga dan purna PMI yang memiliki usaha produktif di wilayah kerja masing-masing.
Ramadhan menegaskan bahwa para instruktur OPP memegang peran yang sangat strategis dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga pekerja migran.
"Instruktur OPP bukan sekadar fasilitator pembelajaran. Mereka adalah agen transformasi ekonomi PMI yang berada di garis terdepan untuk membangun kesadaran, membentuk pola pikir, dan menanamkan perilaku keuangan yang sehat kepada calon pekerja migran Indonesia sebelum mereka berangkat ke negara tujuan," tegasnya.
Kementerian P2MI menegaskan bahwa penguatan literasi keuangan merupakan bagian dari paradigma baru pelindungan pekerja migran Indonesia. Pelindungan tidak berhenti pada aspek administratif, hukum, dan ketenagakerjaan semata, tetapi harus diwujudkan melalui peningkatan kapasitas ekonomi yang mampu memperkuat kemandirian PMI dan keluarganya.
Kolaborasi antara Kementerian P2MI dan Bank Indonesia dalam kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen negara dalam membangun ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat kemampuan pekerja migran Indonesia dalam mengelola hasil kerja kerasnya secara produktif.
Ke depan, sinergi kedua lembaga akan terus diperkuat melalui berbagai program literasi keuangan, kewirausahaan, dan optimalisasi pemanfaatan remitansi yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan pekerja migran Indonesia dan keluarganya.
Negara hadir bukan hanya untuk melindungi pekerja migran Indonesia saat bekerja di luar negeri, tetapi juga memastikan setiap rupiah hasil perjuangan mereka dapat bertumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang mampu membangun keluarga yang tangguh, masyarakat yang sejahtera, dan daerah yang lebih berdaya.