indonews

indonews.id

PROVINSI TAPANULI: DARI JEJAK SEJARAH MENUJU PUSAT PERTUMBUHAN BARU SUMATERA

PROVINSI TAPANULI: DARI JEJAK SEJARAH MENUJU PUSAT PERTUMBUHAN BARU SUMATERA

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Bukan Sekadar Pemekaran Wilayah, Tetapi Strategi Membangun Masa Depan Bona Pasogit

Oleh : Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol '86'
(Wakil Ketua Umum Panitia Percepatan Provinsi Tapanuli)

Jakarta, 24 Juni 2026

"Pemekaran bukan tujuan. Kesejahteraan rakyat adalah tujuan."

Ketika berbicara mengenai Provinsi Tapanuli, sebagian orang masih memandangnya hanya dari sudut pembentukan daerah administratif. Ada yang bertanya, apa untungnya? Ada yang khawatir pemekaran hanya akan menambah jabatan dan birokrasi. Ada pula yang menganggap bahwa kabupaten-kabupaten yang ada saat ini telah cukup.

Padahal pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah apakah Provinsi Tapanuli perlu atau tidak.

Tetapi apakah kawasan yang memiliki sejarah panjang, sumber daya alam yang besar, kualitas sumber daya manusia yang tinggi, dan posisi geografis yang strategis tidak memerlukan percepatan pembangunan yang lebih fokus dan lebih terarah.

SEJARAH YANG PANJANG

Tapanuli bukanlah nama yang lahir kemarin.

Sejak masa Hindia Belanda, Karesidenan Tapanuli telah dikenal dengan Sibolga sebagai pusat pemerintahannya. Kawasan ini mempunyai sejarah, budaya, dan karakter yang khas. Karena itu, gagasan Provinsi Tapanuli sesungguhnya bukanlah menciptakan sejarah baru, melainkan melanjutkan perjalanan sejarah yang telah hidup selama lebih dari satu setengah abad.

Berdasarkan aspirasi yang berkembang saat ini, wilayah yang diproyeksikan menjadi Provinsi Tapanuli terdiri atas:

1. Kabupaten Tapanuli Utara.
2. Kabupaten Humbang Hasundutan.
3. Kabupaten Toba.
4. Kabupaten Samosir.
5. Kabupaten Tapanuli Tengah.
6. Kota Sibolga.

Kombinasi wilayah ini menghadirkan kawasan Danau Toba, pegunungan, dataran tinggi, serta akses langsung ke Samudera Hindia melalui Sibolga dan Tapanuli Tengah.

ANUGERAH SUMBER DAYA ALAM

Tuhan memberikan hampir seluruh karunia alam kepada kawasan Tapanuli.

Danau Toba sebagai destinasi super prioritas nasional.

Kopi Arabika yang telah dikenal dunia.

Kemenyan yang sejak berabad-abad diperdagangkan hingga Timur Tengah dan Eropa.

Pertanian, hortikultura, peternakan, serta perikanan Pantai Barat.

Belum lagi kekayaan budaya dan sejarah yang merupakan modal pariwisata kelas dunia.

KAWASAN ENERGI MASA DEPAN INDONESIA

Sedikit daerah di Indonesia yang dianugerahi potensi energi sebesar kawasan Tapanuli.

PLTP Sarulla merupakan salah satu pembangkit panas bumi terbesar di dunia.

Kawasan Batang Toru memiliki potensi energi hidro yang besar.

Dengan semakin berkembangnya ekonomi hijau dan transisi energi dunia, kawasan ini mempunyai peluang menjadi salah satu pusat energi bersih Indonesia pada abad ke-21.

INFRASTRUKUR DAN POSISI STRATEGIS

Bandara Internasional Silangit membuka akses langsung menuju kawasan Danau Toba.

Pelabuhan Sibolga dan Teluk Tapian Nauli menghadap Samudera Hindia dan memiliki posisi strategis bagi perdagangan dan jasa maritim.

Jalur lintas Sumatera memperkuat konektivitas antarwilayah.

Dengan posisi geografis tersebut, Tapanuli memiliki peluang berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru di Pulau Sumatera.

MODAL TERBESAR ADALAH MANUSIANYA

Namun sesungguhnya kekayaan terbesar Tapanuli bukanlah tanahnya.

Bukan hutannya.

Bukan pula danau dan energinya.

Tetapi manusianya.

Ribuan profesor.

Ribuan dokter.

Ribuan pendeta.

Ribuan pengusaha.

Ribuan perwira TNI dan Polri.

Serta diaspora Batak yang tersebar di seluruh Indonesia dan berbagai belahan dunia.

Tidak banyak daerah yang memiliki modal sosial sebesar itu.

MENGAPA PROVINSI TAPANULI DIPERLUKAN

"Pemekaran bukan tujuan. Kesejahteraan rakyat adalah tujuan."

Setelah melihat sejarah panjang, potensi sumber daya alam, posisi strategis, dan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki kawasan Tapanuli, pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah:

Mengapa Provinsi Tapanuli diperlukan?

Apakah tidak cukup tetap berada dalam struktur pemerintahan yang ada saat ini?

Pertanyaan tersebut wajar diajukan.

Karena pembentukan sebuah provinsi harus dilihat secara objektif dan rasional, bukan semata-mata berdasarkan romantisme sejarah atau semangat emosional.

PEMBANGUNAN MEMERLUKAN RENTANG KENDALI YANG LEBIH PENDEK

Provinsi Sumatera Utara saat ini memiliki luas wilayah sekitar 72.460 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 15 juta jiwa.

Sementara wilayah yang diproyeksikan menjadi Provinsi Tapanuli terdiri atas lima kabupaten dan satu kota, yaitu:

Kabupaten Tapanuli Utara.

Kabupaten Humbang Hasundutan.

Kabupaten Toba.

Kabupaten Samosir.

Kabupaten Tapanuli Tengah.

Kota Sibolga.

Secara keseluruhan, wilayah ini memiliki jumlah penduduk lebih dari 1,2 juta jiwa dan luas wilayah mendekati 19 ribu kilometer persegi.

Dengan skala tersebut, kawasan Tapanuli sesungguhnya memiliki kapasitas yang cukup untuk berkembang menjadi sebuah provinsi.

Belajar Dari Provinsi Lain

Indonesia memulai kemerdekaannya dengan delapan provinsi.

Kini Indonesia telah memiliki tiga puluh delapan provinsi.

Papua yang dahulu hanya satu provinsi kini telah berkembang menjadi enam provinsi.

Gorontalo yang dahulu bagian dari Sulawesi Utara kini menjadi provinsi tersendiri.

Banten yang dahulu bagian dari Jawa Barat kini berkembang menjadi salah satu pusat industri nasional.

Kalimantan Utara yang dibentuk pada tahun 2012 kini menjadi beranda strategis Indonesia di kawasan perbatasan.

Tujuan pembentukan provinsi-provinsi tersebut bukan sekadar menghadirkan gubernur baru, tetapi memperpendek rentang kendali pemerintahan, mempercepat pembangunan, serta mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan adalah:

Mengapa Tapanuli yang memiliki sejarah panjang, sumber daya alam yang besar, kualitas sumber daya manusia yang tinggi, serta posisi strategis di Pulau Sumatera tidak memperoleh kesempatan yang sama?

MEMBANGUN PUSAT PERTUMBUHAN BARU SUMATERA

Selama ini pembangunan Sumatera Utara secara alami lebih terkonsentrasi di Medan dan sekitarnya.

Hal tersebut merupakan konsekuensi dari luas wilayah dan kebutuhan pembangunan yang sangat besar.

Akibatnya, sebagian potensi kawasan Tapanuli belum berkembang secara optimal.

Padahal kawasan ini memiliki Danau Toba sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas Nasional.

Memiliki Bandara Internasional Silangit.

Memiliki Pelabuhan Sibolga yang menghadap langsung Samudera Hindia.

Memiliki PLTP Sarulla sebagai salah satu pembangkit panas bumi terbesar dunia.

Memiliki potensi energi hidro Batang Toru.

Memiliki kopi Arabika kelas dunia.

Memiliki kemenyan yang telah diperdagangkan selama berabad-abad.

Dan memiliki budaya Batak yang dikenal hingga mancanegara.

Seluruh potensi tersebut memerlukan perencanaan, pembiayaan, dan pengelolaan yang lebih fokus agar mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di Pulau Sumatera.

Karena sesungguhnya perjuangan Provinsi Tapanuli bukanlah soal menghadirkan seorang gubernur baru.

Bukan pula soal kekuasaan.

Tetapi menghadirkan kesempatan yang lebih besar agar kawasan Tapanuli dapat berkembang secara optimal, sejajar dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia.

Dan agar anak-anak Batak tidak hanya pulang ke Bona Pasogit ketika pensiun atau ketika meninggal dunia.

Tetapi dapat hidup, berkarya, membangun, dan mewariskan masa depan yang lebih sejahtera di tanah leluhurnya sendiri.

Sebab pada akhirnya, Marsipature Hutanabe bukan sekadar slogan.

Ia adalah panggilan sejarah.

Dan sejarah selalu berpihak kepada mereka yang berani mempersiapkan masa depan. 

BELAJAR DARI BALI, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA, PAPUA, DAN PROVINSI BARU INDONESIA

"Daerah menjadi maju bukan semata-mata karena kekayaan alamnya, tetapi karena visi, kualitas manusia, dan kemampuan mengelola potensi yang dimilikinya."

Sejarah pembangunan Indonesia menunjukkan bahwa kemajuan suatu daerah tidak selalu ditentukan oleh luas wilayah atau kekayaan sumber daya alam.

Bali tidak memiliki minyak bumi.

Daerah Istimewa Yogyakarta tidak memiliki tambang besar.

Banten dahulu hanyalah bagian dari Jawa Barat.

Gorontalo merupakan bagian dari Sulawesi Utara.

Kalimantan Utara baru lahir pada tahun 2012.

Papua yang dahulu hanya satu provinsi kini berkembang menjadi enam provinsi.

Namun daerah-daerah tersebut memperoleh kesempatan untuk mempercepat pembangunan melalui kewenangan yang lebih dekat dengan masyarakatnya.

PELAJARAN DARI BALI

Bali memiliki luas wilayah sekitar 5.780 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 4,5 juta jiwa.

Kekuatan utama Bali bukanlah pertambangan atau industri berat.

Tetapi budaya.

Pariwisata.

Pendidikan.

Kualitas sumber daya manusia.

Serta kemampuan memadukan tradisi dan modernitas.

Tapanuli sesungguhnya memiliki modal yang tidak kalah.

Danau Toba.

Bakkara.

Sisingamangaraja XII.

Salib Kasih.

Ulos.

Musik Batak.

Kuliner Batak.

Kopi Arabika.

Kemenyan.

Pantai Barat Sumatera.

Dan diaspora Batak yang tersebar di seluruh dunia.

Apabila seluruh kekuatan tersebut dikelola secara terpadu dan berkelanjutan, bukan tidak mungkin Tapanuli berkembang menjadi pusat pariwisata budaya dan ekonomi kreatif terbesar di Pulau Sumatera.

PELAJARAN DARI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki luas wilayah sekitar 3.185 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar empat juta jiwa.

Namun kekuatan utamanya terletak pada pendidikan, budaya, pelayanan kesehatan, serta ekonomi kreatif.

Universitas-universitas besar berkembang.

Rumah sakit bertumbuh.

Pariwisata hidup.

UMKM bergerak.

Dan ekonomi rakyat berkembang.

Tapanuli juga mempunyai peluang yang sama.

Tarutung.

Balige.

Siborongborong.

Pandan.

Dan Sibolga dapat berkembang menjadi pusat pendidikan, pelayanan kesehatan, ekonomi kreatif, serta pusat jasa yang melayani kawasan barat Sumatera.

PELAJARAN DARI PAPUA

Pembentukan beberapa provinsi baru di Papua bukan dimaksudkan memperbanyak gubernur.

Tetapi memperpendek rentang kendali pemerintahan.

Mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

Dan mempercepat pemerataan pembangunan.

Semangat yang sama sesungguhnya dapat menjadi bahan pemikiran dalam melihat masa depan Tapanuli.

Karena tujuan akhir pembangunan bukanlah birokrasi.

Melainkan kesejahteraan rakyat.

PROVINSI TAPANULI UNTUK MEMPERKUAT SUMATERA UTARA DAN INDONESIA

Perjuangan Provinsi Tapanuli bukanlah perjuangan memisahkan diri dari Sumatera Utara.

Sebaliknya, Provinsi Tapanuli diharapkan menjadi pusat pertumbuhan baru yang memperkuat Sumatera Utara dan memperkuat Indonesia.

Sebagaimana lahirnya Banten memperkuat Jawa Barat.

Sebagaimana Gorontalo memperkuat Sulawesi.

Sebagaimana Kalimantan Utara memperkuat Kalimantan.

Dan sebagaimana provinsi-provinsi baru memperkuat Papua.

Karena Indonesia yang kuat dibangun oleh daerah-daerah yang kuat.

Dan daerah yang kuat lahir dari pemerataan pembangunan yang berkeadilan.

Pada akhirnya, tujuan pembentukan Provinsi Tapanuli bukanlah sekadar menghadirkan pemerintahan baru.

Tetapi menghadirkan harapan baru.

Membuka lapangan pekerjaan.

Meningkatkan pendidikan.

Memperkuat pelayanan kesehatan.

Mengembangkan ekonomi rakyat.

Dan menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang.

Sebab sesungguhnya, membangun Tapanuli bukan hanya membangun sebuah wilayah.

Tetapi membangun masa depan.

Dan membangun masa depan adalah bagian dari tanggung jawab kepada leluhur dan amanah kepada anak cucu.

VISI TAPANULI 2045:
MARSIPATURE HUTANABE ABAD KE-21

"Setiap generasi memiliki tugas sejarahnya sendiri."

Setelah menelusuri sejarah panjang Tapanuli, melihat potensi sumber daya alam, mempelajari pengalaman berbagai provinsi di Indonesia, serta memahami pentingnya menghadirkan pusat pertumbuhan baru di Pulau Sumatera, maka pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah:

Tapanuli seperti apakah yang ingin kita wariskan kepada anak cucu pada tahun 2045, ketika Indonesia genap berusia satu abad?

Pertanyaan ini penting.

Karena sesungguhnya sebuah provinsi bukanlah tujuan akhir.

Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan rakyat, kemajuan peradaban, dan masa depan generasi penerus.

PUSAT PARIWISATA BUDAYA KELAS DUNIA

Danau Toba merupakan salah satu danau vulkanik terbesar dan terindah di dunia.

Bakkara merupakan tanah sejarah Raja Sisingamangaraja.

Salib Kasih telah menjadi pusat wisata rohani.

Pantai Barat Sumatera memiliki keindahan alam yang luar biasa.

Budaya Batak dengan ulos, musik, tarian, kuliner, serta falsafah hidupnya merupakan kekayaan peradaban yang tidak dimiliki daerah lain.

Apabila dikelola secara terpadu, Tapanuli dapat berkembang menjadi salah satu pusat pariwisata budaya kelas dunia sebagaimana Bali.

PUSAT ENERGI HIJAU INDONESIA

PLTP Sarulla merupakan salah satu pembangkit panas bumi terbesar di dunia.

Potensi hidro Batang Toru sangat besar.

Kekayaan air dan alam pegunungan menjadi modal penting bagi pengembangan energi bersih pada abad ke-21.

Di tengah dunia yang sedang bergerak menuju ekonomi hijau, Tapanuli mempunyai peluang menjadi salah satu pusat energi hijau Indonesia.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELAYANAN KESEHATAN KAWASAN BARAT SUMATERA

Tarutung.

Balige.

Siborongborong.

Pandan.

Dan Sibolga memiliki peluang berkembang menjadi pusat pendidikan, rumah sakit unggulan, serta pusat pelayanan masyarakat yang melayani kawasan barat Sumatera.

Dengan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki, Tapanuli tidak hanya dapat menjadi tempat lahirnya orang-orang besar, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya generasi-generasi besar masa depan.

PUSAT EKONOMI RAKYAT DAN UMKM

Kopi Arabika Tapanuli telah dikenal dunia.

Kemenyan telah diperdagangkan sejak berabad-abad.

Pertanian, hortikultura, perikanan, peternakan, industri kreatif, dan UMKM memiliki peluang besar untuk berkembang.

Kemajuan Tapanuli tidak boleh hanya dinikmati oleh segelintir orang.

Tetapi harus menghadirkan kesejahteraan bagi petani, nelayan, pelaku UMKM, dan seluruh lapisan masyarakat.

MARSIPATURE HUTANABE ABAD KE-21

Orang tua Batak dahulu meninggalkan satu pesan yang sangat sederhana:

Marsipature Hutanabe.

Bangunlah kampung halamanmu.

Namun pada abad ke-21, makna Marsipature Hutanabe sesungguhnya jauh lebih luas.

Ia berarti membangun pendidikan.

Membangun kesehatan.

Membangun ekonomi.

Membangun teknologi.

Membangun energi hijau.

Membangun kualitas manusia.

Dan membangun peradaban.

Karena kampung halaman yang sesungguhnya bukan hanya tanah.

Tetapi masa depan.

AMANAH LELUHUR DAN TANGGUNG JAWAB KEPADA ANAK CUCU

Mungkin seratus tahun lagi nama kita telah dilupakan.

Tidak ada yang mengingat siapa ketuanya.

Tidak ada yang mengingat siapa gubernurnya.

Tidak ada yang mengingat siapa bupatinya.

Tetapi apabila anak-anak Batak dapat hidup sejahtera di tanah leluhurnya sendiri.

Apabila pendidikan semakin maju.

Apabila rumah sakit semakin baik.

Apabila lapangan pekerjaan semakin terbuka.

Apabila Danau Toba menjadi pusat pariwisata dunia.

Apabila kopi Arabika dan kemenyan Tapanuli dikenal semakin luas.

Apabila generasi muda tidak lagi meninggalkan kampung halamannya karena terpaksa.

Maka itulah warisan yang sesungguhnya.

Karena pada akhirnya sejarah tidak akan bertanya berapa banyak orang Batak menjadi menteri.

Tidak akan bertanya berapa banyak menjadi jenderal.

Tidak akan bertanya berapa banyak menjadi profesor atau orang kaya.

Tetapi sejarah akan bertanya:

"Apa yang telah kalian wariskan kepada tanah leluhurmu?"

Dan mudah-mudahan seluruh pomparan Raja Batak dapat menjawab dengan kepala tegak:

Kami tidak melupakan Bona Pasogit.

Kami menjaga persaudaraan.

Kami membangun.

Kami menghidupkan kembali Marsipature Hutanabe.

Dan kami mewariskan masa depan yang lebih baik kepada anak cucu kami.

Horas.

Horas.

Horas.

 Jakarta, 24 Juni 2026

Oleh :

Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol '86'

Wakil Ketua Umum
Panitia Percepatan Provinsi Tapanuli

 CATATAN KAKI

1. Karesidenan Tapanuli (Residentie Tapanoeli) merupakan wilayah administratif Hindia Belanda yang dibentuk pada abad ke-19 dengan Sibolga sebagai pusat pemerintahan dan menjadi salah satu dasar historis kawasan Tapanuli.

2. Data luas wilayah, jumlah penduduk, dan indikator pembangunan daerah mengacu pada publikasi Badan Pusat Statistik Republik Indonesia dan Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara.

3. Wilayah yang diproyeksikan menjadi Provinsi Tapanuli dalam tulisan ini terdiri atas Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba, Kabupaten Samosir, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga.

4. Danau Toba ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas Nasional berdasarkan kebijakan Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

5. Bandara Internasional Silangit merupakan salah satu pintu gerbang utama Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Danau Toba. Lihat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dan PT Angkasa Pura Indonesia.

6. Pelabuhan Sibolga dan Teluk Tapian Nauli merupakan kawasan strategis pantai barat Sumatera yang menghadap langsung Samudera Hindia dan memiliki nilai penting bagi perdagangan serta jasa maritim.

7. PLTP Sarulla di Kabupaten Tapanuli Utara merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di dunia dengan kapasitas sekitar 330 MW. Lihat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia dan PT Sarulla Operations Ltd.

8. PLTA Batang Toru merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional dengan kapasitas sekitar 510 MW yang mendukung pengembangan energi bersih Indonesia.

9. Kopi Arabika Sumatera, termasuk Kopi Lintong dan kawasan Tapanuli, dikenal sebagai salah satu kopi premium dunia. Lihat International Coffee Organization (ICO) dan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

10. Kemenyan (Styrax benzoin) dari kawasan Tapanuli telah diperdagangkan sejak berabad-abad ke India, Timur Tengah, dan Eropa. Lihat Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce.

11. Indonesia memulai kemerdekaannya dengan delapan provinsi dan kini telah berkembang menjadi tiga puluh delapan provinsi, termasuk pembentukan provinsi-provinsi baru di Papua berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2022.

12. Pembentukan Provinsi Banten, Gorontalo, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kalimantan Utara merupakan bagian dari kebijakan desentralisasi dan percepatan pembangunan daerah di Indonesia.

13. Provinsi Bali berkembang melalui kekuatan budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan sumber daya manusia. Lihat Badan Pusat Statistik Provinsi Bali dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

14. Daerah Istimewa Yogyakarta berkembang sebagai pusat pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi kreatif nasional. Lihat Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta.

15. Falsafah Dalihan Na Tolu merupakan dasar hubungan sosial masyarakat Batak yang menekankan keseimbangan, penghormatan, dan persaudaraan.

16. Filosofi Marsipature Hutanabe merupakan warisan budaya Batak yang mengandung makna membangun dan memajukan kampung halaman sebagai tanggung jawab moral kepada generasi penerus.

17. Raja Sisingamangaraja XII ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 590 Tahun 1961.

18. Tulisan ini merupakan pemikiran pembangunan yang bertujuan mempercepat kesejahteraan masyarakat, memperkuat Sumatera Utara, serta memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui pemerataan pembangunan dan semangat Marsipature Hutanabe.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas