indonews

indonews.id

BREAKING NEWS! Trump Perintahkan Serangan Baru ke Iran, Ledakan Guncang Sejumlah Kota Pesisir

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan gelombang serangan baru terhadap Iran pada Rabu (8/7), hanya sehari setelah militer AS melancarkan operasi besar di wilayah Iran. Trump memperingatkan Teheran akan menghadapi konsekuensi yang "jauh lebih buruk" apabila kembali menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. 

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

 

Jakarta, INDONEWS.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan gelombang serangan baru terhadap Iran pada Rabu (8/7), hanya sehari setelah militer AS melancarkan operasi besar di wilayah Iran. Trump memperingatkan Teheran akan menghadapi konsekuensi yang "jauh lebih buruk" apabila kembali menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. 

Media pemerintah Iran melaporkan ledakan terjadi di sejumlah wilayah pesisir selatan negara itu tak lama setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan operasi lanjutan. Menurut kantor berita resmi IRNA, suara jet tempur terdengar di atas Pulau Kish, sementara ledakan dilaporkan mengguncang Bandar Abbas, Konarak, dan Chabahar. Sejumlah kawasan juga dilaporkan mengalami pemadaman listrik. 

Berbicara di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, Trump menegaskan serangan tersebut merupakan respons atas aksi Iran terhadap pelayaran internasional.

"Malam ini kami akan menghantam mereka dengan keras. Mereka melanggar perjanjian setiap hari," kata Trump. 

Dalam unggahan di Truth Social, Trump kembali menegaskan alasan Washington melanjutkan operasi militer terhadap Iran meski sebelumnya sempat tercapai gencatan senjata.

"Ini adalah balasan atas pengeboman kapal-kapal oleh Iran kemarin. Jika itu terjadi lagi, akibatnya akan jauh lebih buruk!" tulis Trump.

CENTCOM menyatakan serangan dilakukan untuk melemahkan kemampuan militer Iran yang dinilai mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

"Amerika Serikat meminta Iran mempertanggungjawabkan tindakan agresi terbarunya yang tidak dapat dibenarkan terhadap pelayaran komersial," demikian pernyataan CENTCOM.

Sebelumnya, Trump menyatakan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah berakhir setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Meski demikian, ia masih membuka peluang bagi jalur diplomasi untuk terus berjalan, walaupun mengaku pesimistis terhadap hasil perundingan. 

Memanasnya kembali konflik memicu kekhawatiran dunia internasional. Pakistan, Qatar, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan semua pihak menahan diri dan segera melakukan deeskalasi guna mencegah konflik meluas di kawasan Teluk. 

Selat Hormuz kini kembali menjadi titik paling rawan di Timur Tengah. Eskalasi terbaru telah mengganggu pelayaran internasional dan mendorong kenaikan harga minyak dunia, seiring meningkatnya risiko terhadap jalur energi paling vital di dunia.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas