Kemen PPPA Perkuat GERNAS RANA Jelang Hari Anak Nasional 2026, Forum Anak Nasional Dorong Partisipasi Anak
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Jakarta, INDONEWS.ID - Menjelang peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) memperkuat upaya menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan bagi seluruh anak Indonesia.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Media Talk bertema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan" bersama Forum Wartawan Penulis Nasional (FORTAPENA) di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Asisten Deputi Perlindungan Khusus Anak dari Kekerasan Kemen PPPA, Dr. Ciput Eka Puryati, M.Psi., Psikolog, mengatakan Hari Anak Nasional tahun ini kembali dilaksanakan secara desentralisasi hingga ke tingkat desa dan sekolah.
"Langkah tersebut bertujuan agar semakin banyak anak dapat mengikuti berbagai kegiatan edukatif sekaligus memperoleh ruang untuk berpartisipasi secara bermakna," ucap Ciput.
Menurut Ciput, tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan" menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang menghormati hak-haknya, mendengarkan suara mereka, serta memberikan perlindungan dari segala bentuk kekerasan.
"Anak merupakan generasi emas Indonesia 2045. Karena itu, seluruh hak anak harus dipenuhi dan mereka harus mendapatkan perlindungan ketika menghadapi berbagai persoalan," ujarnya.
Ciput menegaskan, keterlibatan anak perlu menjadi bagian penting dalam setiap tahapan pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi berbagai program yang berkaitan dengan kepentingan anak.
Untuk memperkuat perlindungan anak, Kemen PPPA terus mengimplementasikan Gerakan Nasional Anti Kekerasan terhadap Anak (GERNAS RANA). Program ini mengajak pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, dan berbagai pemangku kepentingan bekerja sama mencegah kekerasan di empat ruang utama kehidupan anak, yakni keluarga, sekolah, ruang publik, dan ruang digital.
Ciput menjelaskan, sekolah memiliki peran strategis karena sebagian besar waktu anak dihabiskan bersama teman sebaya. Oleh sebab itu, nilai saling menghormati dan pengasuhan positif dari keluarga harus berjalan seiring dengan pendidikan di sekolah agar anak terbiasa menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan.
Ia juga mengapresiasi penerapan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 yang memperkuat peran guru sebagai wali siswa secara berkelanjutan. Selain itu, pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ini diawali dengan asesmen kondisi psikologis dan latar belakang keluarga peserta didik sehingga guru dapat memberikan pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan setiap anak.
Dalam kesempatan tersebut, Ciput mengungkapkan bahwa kekerasan seksual masih menjadi kasus yang paling banyak dilaporkan kepada Kemen PPPA. Meski demikian, berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Anak dan Remaja Tahun 2024, jumlah laporan yang masuk diyakini masih jauh dari kondisi sebenarnya atau hanya merupakan "puncak gunung es".
Untuk mempercepat penanganan korban, Kemen PPPA terus mendorong pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) di seluruh Indonesia. Saat ini masih terdapat sekitar 100 kabupaten/kota yang belum memiliki layanan tersebut.
Selain melalui UPTD PPA, masyarakat juga dapat melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui layanan SAPA 129 agar korban segera mendapatkan perlindungan dan pendampingan.
Sementara itu, Perwakilan Pengurus Forum Anak Nasional (FAN), Aulia Alfonsa, menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam berbagai program pembangunan nasional.
Menurut Aulia, salah satu bentuk partisipasi tersebut diwujudkan melalui penyusunan Suara Anak Indonesia 2026, yang menghimpun aspirasi anak secara berjenjang mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. Hasilnya telah ditetapkan pada 12 Juli 2026 dan akan disampaikan pada puncak peringatan Hari Anak Nasional pada 23 Juli mendatang.
Selain itu, Forum Anak Nasional juga menyelenggarakan webinar "Libur Telah Tiba" yang memberikan edukasi mengenai kesehatan mental, penggunaan gawai secara bijak, serta partisipasi positif di ruang digital.
Menjelang HAN 2026, FAN juga menggelar Lomba Karya Forum Anak Nasional 2026 sebagai upaya meningkatkan kapasitas forum anak di berbagai daerah.
Aulia berharap berbagai kegiatan tersebut dapat mendorong semakin banyak anak Indonesia berani menyampaikan pendapat, berkreasi, serta menjadi bagian dari pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
