indonews

indonews.id

Argentina Lolos ke Final: Dua Lionel, Sosok Pemimpin yang Menuntun Jalan ke Partai Puncak

Piala Dunia 2026 sudah melewati babak semifinal. Dua Lionel menuntun jalan Albieleste ke partai Puncak.

Reporter: donatus nador
Redaktur: donatus nador

Jakarta, INDONEWS.ID--Piala Dunia 2026 sudah melewati babak semifinal. Dua Lionel menuntun jalan Albieleste ke partai Puncak.

Di puncak, dua negara yang lolos ke partai puncak atau final yaitu Spanyol dan Argentina akan bertarung.

Keduanya akan bertarung merebut tahta di Stadion New York New Jersey, East Rutherford, Senin (20/7) pukul 02.00 WIB.

Dari kedua Timnas yang lolos, Argentina paling disoroti baik okeh para penggemar bola maupun para pengamat.

Skuad berjuluk La Albiceleste riuh disorot publik terutama pada empat laga terakhir, yaitu laga 32 besar, 16 besar, 8 besar atau perempatfinal dan semifinal.

Pada babak 32, mereka disorot lantaran susah payah menang 3-2 lawan negara debutan Piala Dunia 2026 Cape Verde.

Dan gol ketiga penentu kemenangan Albiceleste berkat gol bunuh diri pemain bertahan Cape Verde.

Pada babak 16 besar, Argentina menghadapi Mesir dan tertinggal 2-0 hingga menit 78. Gol Ibrahim dan Ziko sontak meruntuhkan tahta juara bertahan Argentina.

Namun comeback apik di menit 79 yang diawali gol Christian Romero berkat assist Lionel Messi, gol Messi di menit 83 dan gol Enzo Fernández di menit 90+3 membawa Argentina ke babak 16 besar.

Lalu pada babak perempatfinal atau 8 besar melawan Swiss, Argentina sempat unggul 1-0 lebih dulu berkat gol Mac Allister di menit ke 10 berkat assist Messi. Namun Swiss mampu mencetak gol penyama oleh Ndoye pada menit 67`.

Imbang 1-1 membuat kedua tim harus melewati perpanjangan waktu yang berakhir dengan kemenangan Argentina 3-1 berkat gol Julian Alvarez dan Lautaro Martinez.

Kemenangan melawan Swiss mengantar Argentina ke partai Semifinal Piala Dunia melawan Inggris.

Duel semifinal berlangsung ketat dan sengit sejak awal laga. Babak pertama tidak menghasilkan gol alias skor 0-0.

Dibabak kedua, Inggris unggul lewat gol Anthony Gordon pada menit 55. Skor 1-0 membuat Argentina harus bekerja keras untuk mendapatkan gol penyama.

Upaya gigih Albiceleste berbuah gol pada menit 85 setelah Enzo Fernández melepaskan sepakan keras memanfaatkan umpan Messi.

Lautaro Martínez menyempurnakan comeback apik di injury time, menit 90+2. Lagi-lagi gol Lautaro tercipta berkat umpan cantik Messi di depan mulut gawang.

Berkat kemenangan 3-1 lawan Inggris, Argentina melaju ke final. Semua pengamat bola sepakat bahwa perjalanan Argentina ke final tidak mudah.

Para pengamat bola juga berpendapat bahwa Argentina melewati tantangan berat itu dengan cara tak biasa. Mereka melewati dengan cara comeback apik.

Dan yang menarik, semua pengamat bahkan para penggemar sependapat bahwa ada dua sosok berpengaruh dalam perjalanan Argentina ke final.

Dua sosok berpengaruh tersebut adalah dua Lionel, yang satu Lionel Scaloni sang pelatih jenius, arsitek bola yang jeli melihat kelemahan lawan.

Yang satu lagi Lionel Messi, kapten lapangan, dewa para pemain bola yang rendah hati. Karakter kepemimpinan Messi memikat tak hanya tim, tapi juga para pemain di luar tim.

Dua laga terkahir, lawan Swiss dan Inggris, karakter kepemimpinan yang rendah hati sangat menonjol.

Pada dua laga ini, Messi bertindak sebagai pelayan. Dia tidak mencetak gol saat melawan Swiss, tapi memberi assist.

Saat lawan Inggris, pemain berjuluk GOAT (Greatest of All Time) itu juga bertindak sebagai pelayan dengan memberikan dua assist.

Hingga kini, sang pemimpin lapangan yang rendah hati itu telah mengoleksi 8 gol dan 4 assist, menjadi top skor sementara Piala Dunia 2026.

Sementara sosok Scaloni, ia memperlihatkan karakter pemimpin yang tidak banyak teriak dan kode dari pinggir lapangan.

Jari tangan kerap menutup mulutnya dengan bibir tertutup, tapi matanya menatap ke seluruh lapangan mencermati pergerakan pemain lawan dan anak asuhnya.

Ia juga membaca taktik darurat apa yang dimainkan pelatih lawan. Ketika Inggris unggul 1-0 dan membuat pertahanan rapat di belakang alias parkir bus tanda ingin mengakhiri laga dengan skor itu, Scaloni langsung merespon dengan cerdas.

Di babak kedua, ia menurunkan 5 pemain segar berdaya gedor tinggi. Awalnya ia memasukkan González pada menit 62. Masuknya González langsung mengancam gawang Inggris.

Pelatih Inggris Thomas Tuchel merespon dengan menambah parkir bus, manarik penyerang Anthony Gordon keluar, digantikan Ezri Konsa, bek tengah bertubuh tinggi 1,83 meter.

Keputusan Tuchel langsung direspon Scaloni dengan menurunkan tiga penggedor sekaligus yaitu Gonzalo Montiel, Otamendi dan Rodrigo De Paul.

Di menit 80, Scaloni kembali memasukkan penggedor terakhir Lautaro Martínez. Hasil kepungan bertubi-tubi, benteng Inggris akhirnya bobol juga.

Bacaan Scaloni atas kelemahan Tuchel membuahkan gol pada menit 85 dan 90+2 dan membawa Argentina menang 2-1.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas