indonews

indonews.id

KETIKA ENTROPI MEMBACA INDONESIA

KETIKA ENTROPI MEMBACA INDONESIA

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Mengapa Sistem yang Tidak Dirawat Perlahan Kehilangan Keteraturan


Baca juga : SAKLAR KEHIDUPAN

Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol


Jakarta, 30 Agustus 2026


PENGANTAR


Sebuah rumah yang dibiarkan tanpa perawatan perlahan akan rusak.


Mesin yang tidak dirawat kehilangan keandalannya.


Data yang tidak diperbarui menjadi tidak akurat.


Organisasi yang prosedurnya tidak dievaluasi mulai dipenuhi pekerjaan yang tidak lagi diperlukan.


Bukan berarti rumah, mesin, data, dan organisasi tersebut tunduk kepada hukum yang sama.


Tetapi ada sebuah pertanyaan menarik:


Mengapa keteraturan harus terus dipelihara, sedangkan ketidakteraturan dapat muncul ketika pemeliharaan berhenti?


Fisika mengenal sebuah konsep penting:


ENTROPI


Dalam termodinamika, entropi adalah besaran keadaan yang mempunyai pengertian ilmiah dan matematis yang spesifik. Secara statistik, entropi berkaitan dengan penyebaran materi dan energi serta banyaknya kemungkinan keadaan mikroskopik suatu sistem.


Hukum II Termodinamika menunjukkan bahwa pada proses spontan, entropi total sistem dan lingkungannya meningkat. Pada proses reversibel ideal, perubahan entropi totalnya tetap.


Namun hal itu tidak berarti keteraturan lokal tidak dapat dibangun atau dipertahankan.


Suatu bagian sistem dapat menjadi lebih teratur apabila terdapat pertukaran energi dan perubahan pada lingkungannya, selama keseluruhan proses tetap memenuhi Hukum II Termodinamika.


Itulah ilmu fisikanya.


Dalam tulisan ini, negara tidak dianggap sebagai sistem termodinamika dan entropi tidak digunakan sebagai rumus untuk menghitung pemerintahan atau masyarakat.


Kita hanya mengambil pola pemikirannya sebagai analogi, kemudian menggunakannya untuk mengajukan pertanyaan:


Mengapa keteraturan dalam organisasi, negara, dan peradaban membutuhkan pemeliharaan, koreksi, serta kemampuan memperbarui diri?


KETERATURAN TIDAK MERAWAT DIRINYA SENDIRI


Bayangkan sebuah taman.


Ketika baru selesai dibuat, jalannya bersih, tanaman tertata, saluran air bekerja, lampu menyala, dan seluruh bagian berada pada tempatnya.


Kemudian taman itu dibiarkan.


Rumput tumbuh.


Daun menumpuk.


Saluran tersumbat.


Lampu rusak.


Cat memudar.


Beberapa tahun kemudian, bentuk fisiknya mungkin masih ada, tetapi kualitas sistemnya telah berubah.


Untuk mempertahankan keteraturan diperlukan pekerjaan:


membersihkan, memeriksa, memperbaiki, mengganti, menata kembali, dan menyesuaikan.


Prinsip yang sama—sebagai analogi—dapat digunakan untuk membaca organisasi.


Ketika sebuah lembaga pertama kali dibentuk, struktur, fungsi, kewenangan, dan prosedurnya mungkin sesuai dengan kebutuhan zamannya.


Tetapi lingkungan berubah.


Teknologi berubah.


Ancaman berubah.


Ekonomi berubah.


Masyarakat berubah.


Jika organisasinya tidak ikut belajar, sesuatu yang dahulu efektif dapat berubah menjadi beban.


Maka:


MEMBANGUN SISTEM TIDAK CUKUP.

SISTEM HARUS TERUS DIRAWAT.


ENTROPI ORGANISASI


Mari kita menyebutnya secara hati-hati sebagai “entropi organisasi”—sebuah metafora, bukan besaran termodinamika.


Ia dapat terlihat ketika ketidakteraturan kecil mulai menumpuk.


Satu prosedur baru ditambahkan tanpa menghapus prosedur lama.


Satu lembaga dibentuk, tetapi pembagian kewenangan dengan lembaga yang sudah ada tidak diperjelas.


Satu sistem data dibuat, tetapi tidak dapat berbicara dengan sistem data lainnya.


Satu aturan dibuat untuk menyelesaikan masalah tertentu, lalu masalah berubah tetapi aturannya tetap hidup.


Sedikit demi sedikit terbentuk:


tumpang tindih kewenangan, birokrasi panjang, data berbeda, koordinasi rumit, biaya meningkat, dan keputusan melambat.


Tidak selalu ada satu peristiwa besar yang menyebabkan semuanya.


Ketidakteraturan dapat merupakan akumulasi keputusan kecil yang tidak pernah dibersihkan kembali.


Di sinilah analogi entropi menjadi berguna.


Kerusakan sistem tidak selalu datang seperti ledakan.


Kadang-kadang ia datang sebagai penumpukan.


ENERGI HABIS UNTUK MEMELIHARA KERUMITAN


Sebuah organisasi mempunyai energi terbatas.


Ada waktu.


Ada manusia.


Ada anggaran.


Ada perhatian pimpinan.


Ada kemampuan teknologi.


Ada kapasitas mengambil keputusan.


Semakin rumit sistem internalnya, semakin besar sebagian energi tersebut digunakan hanya untuk membuat organisasi tetap berjalan.


Rapat untuk mengoordinasikan rapat.


Surat untuk menjelaskan surat.


Data diperiksa kembali karena sumber yang berbeda menghasilkan angka berbeda.


Keputusan tertunda karena kewenangan tidak jelas.


Program berjalan lambat karena beberapa sistem administrasi tidak saling terhubung.


Energi organisasi akhirnya banyak digunakan untuk mengatasi kerumitan yang diciptakannya sendiri.


Ini mempunyai hubungan menarik dengan tulisan sebelumnya tentang Hukum II Newton.


Pada tulisan F = m × a, kita berbicara tentang gesekan sistem.


Sekarang kita melihat salah satu kemungkinan sumber gesekan itu:


ketidakteraturan yang terus menumpuk.


Maka dua pembacaan mulai bertemu:


GESEKAN mengurangi kemampuan bergerak.


KETIDAKTERATURAN memperbesar energi yang diperlukan untuk menjaga sistem tetap bekerja.


MEMBACA NEGARA


Negara merupakan sistem yang jauh lebih kompleks daripada organisasi biasa.


Ada pemerintah pusat.


Ada pemerintah daerah.


Ada kementerian dan lembaga.


Ada BUMN.


Ada dunia usaha.


Ada masyarakat.


Ada sistem hukum, fiskal, pendidikan, kesehatan, pangan, energi, pertahanan, transportasi, teknologi, dan berbagai jaringan lainnya.


Kompleksitas itu tidak otomatis buruk.


Negara modern memang membutuhkan pembagian fungsi.


Persoalan muncul ketika kompleksitas tidak lagi menghasilkan nilai yang sebanding dengan energi yang dibutuhkan untuk mengelolanya.


Karena itu pertanyaan strategisnya bukan:


“Bagaimana membuat semuanya sederhana?”


Tidak semua hal dapat disederhanakan.


Pertanyaan yang lebih tepat adalah:


“Bagian mana dari kompleksitas yang memang diperlukan, dan bagian mana yang hanya merupakan ketidakteraturan yang diwariskan?”


Ini perbedaan penting.


Sistem yang kompleks dapat sangat teratur.


Sebaliknya, sistem yang tampak sederhana dapat berantakan.


Maka yang kita lawan bukan kompleksitas.


Yang kita lawan adalah kompleksitas tanpa fungsi, tumpang tindih tanpa nilai, dan prosedur tanpa tujuan.


CONTOH PALING SEDERHANA: DATA


Bayangkan pemerintah ingin mengetahui keadaan suatu komoditas pangan.


Pertanyaannya tampak sederhana:


Berapa produksi sebenarnya?


Berapa stoknya?


Di mana stok berada?


Berapa kebutuhan masyarakat?


Berapa kapasitas gudang?


Berapa harga di produsen dan konsumen?


Siapa pembeli utamanya?


Apakah diperlukan impor?


Jika setiap institusi mempunyai definisi, metode, waktu pencatatan, atau basis data berbeda, energi besar harus dikeluarkan hanya untuk menentukan:


Angka mana yang dapat dipercaya?


Akibat berikutnya lebih serius.


Data yang tidak tertata dapat menghasilkan pembacaan yang salah.


Pembacaan yang salah dapat menghasilkan keputusan yang salah.


Keputusan yang salah kemudian menciptakan realitas baru yang semakin sulit diperbaiki.


Maka pemeliharaan keteraturan bukan pekerjaan administratif kecil.


Dalam keadaan tertentu, ia merupakan bagian dari kemampuan negara mengambil keputusan.


KETERATURAN MEMBUTUHKAN ENERGI


Ada pelajaran penting dari termodinamika yang harus dipahami dengan benar.


Hukum II tidak berarti bahwa keteraturan lokal mustahil tercipta.


Kehidupan sendiri menunjukkan bahwa struktur yang sangat teratur dapat dibangun dan dipertahankan melalui aliran energi serta pertukaran dengan lingkungan, tanpa melanggar Hukum II Termodinamika.


Demikian pula—sebagai analogi—dengan organisasi.


Keteraturan memerlukan:


energi, informasi, pengawasan, koreksi, pembelajaran, dan pembaruan.


Jika tidak, sistem dapat terus membawa kesalahan lama ke masa depan.


Karena itu reformasi bukan sebuah acara.


Reformasi seharusnya merupakan kemampuan sistem memperbaiki dirinya sendiri secara terus-menerus.


Aturan yang tidak relevan harus dapat dihapus.


Data yang salah harus dapat dikoreksi.


Institusi yang tumpang tindih harus dapat diselaraskan.


Teknologi lama harus dapat diperbarui.


Keputusan yang gagal harus dapat dievaluasi.


Orang yang melakukan kesalahan harus bertanggung jawab, tetapi sistem juga harus belajar agar kesalahan yang sama tidak terus diproduksi.


DARI ENTROPI MENUJU ESTOM


Di titik ini kita dapat menghubungkannya dengan ESTOM.


Sistem tidak dapat memperbaiki dirinya jika tidak mengetahui bahwa keadaan telah berubah.


Environment memetakan keadaan internal, lingkungan strategis eksternal, serta hubungan antarkeduanya.


Sensing menangkap fakta, gejala, dan perubahan.


Thinking menganalisis keadaan dan menentukan keputusan.


Operation menentukan tindakan yang harus dilakukan.


Maneuver menjalankan dan menyesuaikan tindakan ketika realitas kembali berubah.


Dengan demikian, ESTOM dapat menjadi salah satu cara mencegah sistem kehilangan kemampuan belajar.


Sebab ancaman terbesar bukan ketika sistem melakukan kesalahan.


Semua sistem dapat salah.


Ancaman yang lebih berbahaya muncul ketika sistem tidak lagi mampu mengetahui bahwa dirinya salah.


NEGARA YANG TANGGUH BUKAN NEGARA YANG TIDAK PERNAH RUSAK


Tidak ada sistem yang sempurna.


Tidak ada kebijakan yang selamanya benar.


Tidak ada organisasi yang dapat dibangun sekali kemudian dibiarkan bekerja selamanya.


Lingkungan terus berubah.


Karena itu ketangguhan bukan berarti tidak pernah mengalami gangguan.


Ketangguhan adalah kemampuan untuk:


mendeteksi kerusakan lebih awal, memperbaikinya sebelum membesar, belajar dari kegagalan, dan menyesuaikan sistem sebelum perubahan memaksanya.


Di sinilah pemeliharaan menjadi sama pentingnya dengan pembangunan.


Kita sering lebih mudah melihat gedung baru daripada sistem pemeliharaannya.


Lebih mudah meresmikan infrastruktur daripada memastikan ia tetap berfungsi puluhan tahun kemudian.


Lebih mudah membuat aturan baru daripada menghapus aturan lama yang tidak relevan.


Lebih mudah membangun aplikasi baru daripada memastikan data di dalamnya benar dan terhubung.


Padahal umur sebuah peradaban tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya membangun.


Ia juga ditentukan oleh kemampuannya merawat, memperbaiki, dan memperbarui.


PENUTUP


Entropi adalah konsep fisika.


Negara bukan sistem termodinamika yang dapat dijelaskan secara literal dengan persamaan entropi.


Namun pola pemikirannya memberikan pelajaran yang berguna.


KETERATURAN MEMERLUKAN PEMELIHARAAN.


Sistem yang tidak diperiksa dapat membawa kesalahan lama.


Sistem yang tidak diperbarui dapat tertinggal dari lingkungannya.


Sistem yang tidak membersihkan kerumitannya sendiri dapat menghabiskan semakin banyak energi hanya untuk mempertahankan dirinya.


Karena itu pembangunan tidak cukup hanya bertanya:


Apa yang harus kita bangun?


Kita juga harus bertanya:


Apa yang harus kita rawat?


Apa yang harus kita perbaiki?


Apa yang sudah tidak diperlukan dan harus kita lepaskan?


Dan apakah sistem kita masih mampu belajar dari kesalahannya sendiri?


Di situlah analogi entropi memberikan peringatan yang sederhana tetapi penting:


Kerusakan sebuah sistem tidak selalu dimulai dari kehancuran besar.


Ia dapat dimulai ketika ketidakteraturan kecil dibiarkan menjadi kebiasaan.


Bangsa yang kuat karena itu bukan hanya bangsa yang mampu membangun sesuatu yang besar.


Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menjaga keteraturan, membersihkan kerusakan, memperbarui sistem, dan terus belajar sebelum ketidakteraturan menguasai kekuatannya.


CATATAN ILMIAH


Entropi dalam artikel ini digunakan sebagai titik awal dan analogi pemikiran.


Dalam termodinamika, entropi mempunyai definisi fisik dan matematis yang spesifik. Pembahasan mengenai organisasi, pemerintahan, dan negara dalam tulisan ini bukan persamaan fisika ataupun hukum sosial, melainkan penggunaan pola pemikiran ilmiah untuk membantu membaca persoalan sistem yang kompleks.


Jakarta ,30 Agustus 2026

Brigjen ( Purn ) MJP.Hutagaol

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas