indonews

indonews.id

Simak! Begini Penjelasan BMKG Soal Potensi Nyata Megathrust Selat Sunda hingga Waktu Terjadinya

Pembicaraan mengenai ancaman gempa megathrust kembali ramai. Selat Sunda menjadi salah satu kawasan yang paling sering disebut karena berada di jalur pertemuan lempeng tektonik dan memiliki potensi menghasilkan gempa besar yang dapat diikuti tsunami.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Pembicaraan mengenai ancaman gempa megathrust kembali ramai. Selat Sunda menjadi salah satu kawasan yang paling sering disebut karena berada di jalur pertemuan lempeng tektonik dan memiliki potensi menghasilkan gempa besar yang dapat diikuti tsunami. Namun di tengah kekhawatiran itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan potensi gempa besar tidak sama dengan prediksi bahwa gempa akan segera terjadi.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, sampai saat ini belum ada metode ilmiah yang mampu memastikan kapan sebuah gempa besar akan terjadi hingga di mana tepatnya episenter dan berapa kekuatannya. Hal itu disampaikan Wijayanto kepada INDONEWS.ID dalam wawancara eksklusif di Jakarta, Senin (14/9/2026). Penjelasan tersebut disampaikan usai mendapat arahan dari Kepala BMKG Teuku Faisal.

“Potensi gempa besar di zona megathrust, termasuk kawasan Selat Sunda dan selatan Jawa, memang merupakan bagian dari kondisi tektonik Indonesia yang harus kita waspadai. Namun, potensi tidak sama dengan prediksi bahwa gempa akan segera terjadi,” kata Wijayanto.

Menurut dia, zona megathrust memang memiliki kemampuan menghasilkan gempa besar karena merupakan kawasan pertemuan lempeng yang memungkinkan terjadinya akumulasi energi. Tetapi kapan energi tersebut dilepaskan dalam bentuk gempa besar belum dapat diketahui secara pasti. Karena itu, menurut Wijayanto, masyarakat tidak perlu menerjemahkan pembahasan mengenai megathrust sebagai pertanda bahwa gempa besar sudah berada di depan mata.

“Belum bisa dikatakan bahwa gempa besar akan segera terjadi. Ini yang perlu dipahami masyarakat,” ujarnya.

Selat Sunda dan Ancaman Gempa Besar

Kekhawatiran terhadap kawasan Selat Sunda bukan tanpa alasan. Secara tektonik, kawasan ini berada pada bagian dari sistem subduksi di selatan Sumatra dan Jawa, tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia atau Lempeng Sunda.

Dalam pemetaan sumber gempa Indonesia, kawasan tersebut termasuk salah satu segmen megathrust yang diperhitungkan dalam mitigasi bencana. Sejumlah kajian BMKG mencantumkan skenario magnitudo maksimum sekitar M8,7 untuk segmen Megathrust Selat Sunda. Angka tersebut sering muncul dalam pemberitaan dan media sosial. Masalahnya, angka skenario kemudian tidak jarang dipahami sebagai ramalan. Padahal, keduanya berbeda.

Skenario magnitudo digunakan untuk menghitung kemungkinan dampak terburuk yang perlu diantisipasi. Pemerintah daerah, misalnya, membutuhkan skenario tersebut untuk menyusun peta risiko, menentukan jalur evakuasi, memperkirakan kebutuhan tempat pengungsian dan melakukan simulasi. Skenario bukan berarti BMKG mengatakan gempa dengan kekuatan tersebut akan terjadi dalam waktu tertentu.

Demikian pula dengan istilah seismic gap atau celah seismik yang kerap dikaitkan dengan Selat Sunda. Suatu wilayah yang telah lama tidak mengalami gempa besar memang menjadi perhatian para ahli karena energi tektonik dapat terus terakumulasi. Namun, lama tidaknya suatu segmen mengalami gempa tidak dapat digunakan untuk menentukan kapan gempa berikutnya akan terjadi.

“Potensi tidak bisa diubah menjadi informasi tentang kepastian waktu kejadian,” kata Wijayanto.

Pernyataan ini menjadi penting di tengah maraknya informasi mengenai “megathrust tinggal menunggu waktu” atau bahkan klaim yang menyebut gempa besar akan terjadi pada tanggal tertentu. Secara ilmiah, BMKG tidak membenarkan informasi semacam itu.

Megathrust Vs Sesar dan Gempa Flores

Hal lain yang juga perlu diluruskan adalah penggunaan istilah “Sesar Sunda” dalam pembicaraan mengenai ancaman gempa dan tsunami di Selat Sunda. Kawasan Selat Sunda tidak hanya menghadapi satu sumber bahaya gempa. Ada zona megathrust, struktur sesar aktif dan sejumlah sumber bahaya lain yang memiliki karakteristik berbeda.

Menurut Wijayanto, kawasan Selat Sunda berada di antara segmen Megathrust Enggano di sisi Sumatra dan Megathrust Jawa Bagian Barat di sisi Jawa. Karena itu, wilayah yang berpotensi terkena dampak apabila terjadi gempa besar sangat bergantung pada segmen yang mengalami rupture atau patahan serta mekanisme gempanya.

“Wilayah yang berpotensi terdampak tsunami terutama adalah pesisir yang berhadapan dengan sumber gempa, baik di pesisir barat daya Sumatra maupun pesisir selatan Jawa dan kawasan Selat Sunda, tergantung pada segmen mana yang mengalami gempa dan bagaimana mekanismenya,” jelas Wijayanto.

Artinya, tidak tepat jika seluruh kawasan pesisir di sekitar Selat Sunda dianggap akan menerima dampak yang sama. Tsunami sangat dipengaruhi oleh lokasi sumber gempa, magnitudo, kedalaman, mekanisme patahan, luas bidang patahan serta kondisi dasar laut dan bentuk pantai. Faktor-faktor tersebut menentukan seberapa besar dasar laut mengalami perubahan dan bagaimana gelombang tsunami kemudian bergerak menuju pantai.

Ancaman tsunami sebenarnya sudah kembali diperlihatkan pada 15 Agustus 2026 melalui gempa berkekuatan M7,7 mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur. Gempa tersebut terjadi di laut dan memiliki mekanisme sesar naik. Kondisi itu menyebabkan gempa yang berpotensi membangkitkan tsunami.

Dalam peristiwa tersebut, BMKG mampu mengeluarkan peringatan dini tsunami sekitar 2 menit 16 detik setelah gempa. Kecepatan tersebut menunjukkan perkembangan sistem peringatan dini tsunami Indonesia atau InaTEWS yang terus diperkuat BMKG.

Menurut Wijayanto, saat ini InaTEWS beroperasi selama 24 jam. BMKG dapat menerbitkan informasi gempa dan peringatan dini tsunami maksimal sekitar tiga menit setelah gempa, bergantung pada karakteristik gempa dan ketersediaan data yang diterima.

Tetapi kemampuan sistem peringatan dini tidak berarti masyarakat selalu memiliki waktu tiga menit untuk melakukan evakuasi. Ini justru menjadi bagian penting yang sering luput dalam pembicaraan mengenai megathrust.

Untuk masyarakat yang berada dekat dengan sumber tsunami, gelombang dapat tiba dalam waktu sangat singkat. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat tidak mungkin hanya mengandalkan peringatan resmi. Karena itu BMKG meminta masyarakat pesisir memahami tanda alam.

Jika merasakan gempa kuat atau guncangan berlangsung lama, masyarakat yang berada di kawasan pantai harus segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih aman atau lebih tinggi. Tidak perlu menunggu informasi beredar di media sosial.

Sistem Peringatan dan Ramalan Tanggal

Dalam menghadapi ancaman megathrust, kemampuan BMKG mendeteksi gempa hanyalah salah satu mata rantai. Setelah peringatan dikeluarkan, masih ada persoalan lain: apakah sirene berfungsi, apakah pemerintah daerah memiliki prosedur evakuasi, apakah masyarakat mengetahui jalurnya, apakah tempat evakuasi cukup dan apakah bangunan mampu bertahan menghadapi guncangan kuat.

Karena itu, pembicaraan mengenai megathrust seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan kapan gempa akan terjadi. Pertanyaan yang lebih relevan adalah seberapa siap masyarakat apabila gempa tersebut benar-benar terjadi. Wijayanto mengatakan masyarakat perlu mengetahui tingkat kerawanan tempat tinggal maupun tempat kerja, memahami jalur evakuasi dan lokasi aman, serta memperhatikan kondisi bangunan.

Kesiapsiagaan juga harus dibangun sebelum bencana terjadi. Simulasi evakuasi, penyediaan jalur yang jelas dan edukasi masyarakat pesisir merupakan bagian penting dari mitigasi. Indonesia hidup di kawasan yang memang aktif secara tektonik. Gempa tidak dapat dicegah dan belum dapat diprediksi secara tepat waktunya. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi risiko dan memperpendek waktu respons ketika gempa terjadi.

Di tengah kekhawatiran mengenai megathrust, BMKG meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang menyebut gempa besar akan terjadi pada tanggal atau waktu tertentu. Menurut Wijayanto, informasi seperti itu tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah jika tidak didasarkan pada kajian dan sistem resmi.

“Pesannya adalah jangan panik dan tetap waspada. Potensi gempa megathrust adalah fakta ilmiah yang harus kita hadapi dengan kesiapsiagaan, bukan dengan ketakutan,” katanya.

Pesan tersebut barangkali merupakan cara paling sederhana untuk memahami isu megathrust. Ancaman itu ada. Potensinya nyata. Tetapi waktunya tidak diketahui. Karena itu, masyarakat tidak perlu hidup dalam ketakutan menunggu “hari H” yang tidak pernah bisa ditentukan. Sebaliknya, menganggap ancaman tersebut tidak ada juga merupakan kesalahan.

Yang diperlukan adalah kesiapan. Sebab ketika gempa besar benar-benar terjadi, tidak ada waktu untuk mencari tahu apakah informasi yang beredar di media sosial benar atau tidak. Pada saat itulah pengetahuan mengenai jalur evakuasi, kondisi bangunan dan respons pertama setelah gempa menjadi jauh lebih berharga daripada ramalan kapan megathrust akan “pecah”.

Bagi kawasan Selat Sunda, persoalannya dengan demikian bukan sekadar apakah gempa besar mungkin terjadi. Secara tektonik, jawabannya memang ada potensi. Persoalan yang lebih penting adalah seberapa siap pemerintah dan masyarakat menghadapi gempa dan tsunami jika suatu saat benar-benar terjadi.


© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas