Budaya

Festival Ratu Boko 2018, Menarik Kunjungan Wisatawan

Oleh : very - Rabu, 26/09/2018 18:23 WIB

Festival ratu boko, pada Sabtu (22/9/2018) lalu. (Foto:Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Matahari sore berwarna kuning emas yang memantul di bebatuan pelataran Candi Boko pada Sabtu (22/9/2018) lalu, menjadi latar belakang indah dari dibukanya acara Festival Ratu Boko 2018. Sebuah acara yang digagas untuk menjaga dan terus memupuk kelestarian budaya, melalui seni tari dan juga untuk menarik wisatawan berkunjung ke Candi Ratu Boko.

Acara yang berlangsung mulai pukul 16.15 – 20.30 WIB ini sudah dilangsungkan untuk kali ke empat  dan dihadiri oleh pimpinan PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero), Asisten Deputi Kementerian BUMN, Kepala BPCB DIY, Dinas Pariwisata Sleman, Komisi B dan C DPRD Kabupaten Klaten, DPD Asita DIY dan PHRI DIY.

“Festival Ratu Boko 2018 memberi wadah kepada  seniman dan karya-karyanya. Festival kali ini merupakan Festival Ratu Boko tahun ke-4, dan tahun ini mempunyai tema yang sangat menarik,” ujar Ricky Siahaan, mewakili PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero).

Acara yang berlangsung selama dua hari, yaitu Sabtu tanggal 22 September 2018 dan Minggu 23 September 2018 ini menampilkan karya-karya tari klasik yang dibawakan oleh Sanggar Arkamaya Sukma dan Sanggar Nur Sekar Kinanti dari Jakarta.

(Kemeriahan festival ratu boko, foto: Ist)

Sebagai acara puncak di hari pertama adalah pertunjukan sendratari klasik Tirta Amertha yang dibawakan oleh group Sanggar Tari Bali Saraswati dan KPB Purantara Yogyakarta, yang bekerjasama dengan Komunitas Seni Sudhalango dan ISI Yogyakarta. Tarian berdurasi lebih dari 30 menit ini betul-betul membius. Tak ada satu pun penonton yang beranjak dari kursinya hingga tarian selesai. Mulai dari kostum, gerak, hingga narasi dan tembangnya kental dengan nuansa Bali dan Jawa (Solo – Yogya).

Sedangkan pada hari keduanya diisi dengan karya-karya tari kontemporer, dengan puncak acaranya adalah sendratari Sumunaring Abhayagiri, yang digarap secara khusus oleh Jurusan Pendidikan Tari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. “Kedua sendratari yang ditampilkan di acara puncak Festival Ratu Boko 2018  ini dipilih karena dianggap cocok dengan fitur dan riwayat yang terkait dengan situs Keraton Ratu Boko. Yakni berupa sumber air dan legenda berdirinya Keraton Ratu Boko,” lanjut Ricky Siahaan.

(Penonton festival Ratu Boko, foto: Ist)

Pada Sabtu malam itu acara baru berakhir pada pukul 22.00 WIB mundur lebih dari satu jam dari jadwal semula karena acara pembukaannya sendiri memang tertunda sejam. Meski demikian, tak ada penonton yang mengeluh meski acara berlangsung hingga selarut itu, karena di sekitar area pertunjukan disediakan stand-stand makanan dan minuman khas seperti Bakmi Godok, Serabi, Gorengan, Jenang, dan Wedang Ronde, lengkap dengan kursi-kursi dan meja yang ditata apik untuk memberi kenyamanan pada para pengunjung untuk menikmati makanan dan minuman di sana. Ketika azan Maghrib berkumandang, panitia memberi jeda selama sejam. Dan para penonton memanfaatkan waktunya untuk menunaikan shalat Magrib, juga untuk makan dan minum.

Ketika akhirnya pertunjukan malam itu betul-betul berakhir, banyak penonton yang masih enggan meninggalkan pelataran candi. Saat lampu panggung telah padam, cahaya temaram yang memantul di dinding-dinding candi membuat suasana magis sangat terasa. Desau angin dingin yang mengelus kulit, dan pendar purnama yang bulat sempurna di atas langit sungguh menyempurnakan keindahan malam itu. (Naeema Herawati Thamseer).

Artikel Terkait