Profile

Dyah Anita Prihapsari, Bangkitkan Pengusaha Wanita Indonesia

Oleh : Abdi Lisa - Senin, 24/04/2017 13:12 WIB

Jakarta, INDONEWS.ID - Perempuan kelahiran Jakarta, 22 Juni 1964 ini terlahir dengan nama lengkap Dyah Anita Prihapsari. Semasa kecilnya, putri pasangan Pang Suparnadi dan Muryanti Setia ini dikenal sebagai anak tomboi. Minat bisnisnya mulai tumbuh ketika duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu, Nita kecil – demikian dia biasa disapa - sudah sering membantu ibu yang memiliki bisnis salon. Selain mengurus rumah tangga, Ibu Nita sibuk mengembangkan usaha salon. Sang ibu mengajarkan jiwa wirausaha dengan mencontohkan kegiatannya tersebut kepada keempat anaknya. Selain membuka salon, ibunya itu juga menjadi perias kecantikan dan membuka kursus kecantikan sekaligus menjadi pengajarnya. Nita mengaku, sesekali membantu pekerjaan sampingan sang ibu di salon. Sedangkan bakat berbisnis Nita mulai terlihat saat kuliahnya menginjak semester VI, di Universitas Trisaksi, Jakarta. Ketika itu ia bersama temannya mencoba menggarap taman. "Kami mengerjakan taman dari beberapa aktor terkenal pada saat itu," ujar alumnus SMUN 3 Teladan, Setiabudi, Jakarta, dan Universitas Trisakti jurusan Arsitektur Lansekap ini. Usai merampungkan kuliahnya di Trisakti, naluri bisnis Nita semakin terasah tajam. Bukan lagi hanya sebatas berbisnis aksesoris yang tarafnya masih kecil-kecilan tapi membuka perusahaan jasa konsultan dan kontraktor bernama PT Arsipta Garis Persada yang didirikannya bersama sang pacar Yudi Yulius, pria yang kini menjadi pendamping hidupnya. Hasil karya pasangan arsitek ini antara lain gedung kantor IWAPI Pusat di Kalipasir, Gedung STIE YAI di Kramat Raya, serta beberapa perumahan di Pantai Indah Kapuk. Setelah cukup sukses dengan bisnis di bidang kontraktor, Nita mencoba membuka Production House yang mengorbitkan beberapa grup band baru. Tetapi sayang, usahanya ini kurang lancar. Untungnya hal serupa tak berlaku di bisnis Nita yang lainnya. Selain bisnis kontraktor yang mulai fokus menangani pembangunan perumahan, Nita juga memiliki beberapa jenis bisnis, misalnya pendidikan, cleaning service dan percetakan. "Saya ada bisnis bareng-bareng dengan teman-teman. Ada kuliner, restoran, butik dan salon. Terus bisnis yang lain sudah ada yang menangani, makanya saya lebih senang berbicara tentang bisnis advertising yang saya dirikan tahun 2007 lalu," ujarnya seperti dikutip Majalah Pengusaha. Salah satu yang membuat Nita lain dari wanita pengusaha yang lain yaitu perhatiannya terhadap kaum perempuan. Di sejumlah perusahaannya, lebih dari 50% pegawai dan karyawan diisi wanita. Nita terus memberikan kesempatan kepada wanita untuk berkarier di perusahaannya dan berupaya maksimal agar mereka betah bekerja. Obsesi dan mimpi ibu dua putri bernama Dita dan Dini ini untuk lebih memberdayakan kaum wanita semakin terbuka lebar karena keterlibatannya di IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia). Keterlibatan Nita di IWAPI merupakan anjuran dari ibunda tercinta, "Kalau ingin berbuat banyak untuk masyarakat dari sisi pengusaha, lebih baik masuk ke IWAPI," ujar sang bunda kala itu. Tiga tahun setelah aktif di IWAPI, Nita terpilih sebagai ketua IWAPI DKI periode 2003-2008. Ia kemudian terpilih kembali sebagai ketua pada periode berikutnya. Di balik jabatan tersebut, Nita menginginkan para wanita mampu meraih kesuksesan sebagai seorang pengusaha dan berkecimpung di bisnis yang banyak didominasi para pria. Menurut Nita, sejatinya wanita banyak memiliki kelebihan dibandingkan pria. Wanita lebih luwes, lebih sabar dan lebih ulet. Namun yang cukup menggembirakan, menurut Nita, 60% pelaku wirausaha saat ini adalah perempuan. Maka dengan menjabat Ketua IWAPI, Nita berharap mampu lebih menggairahkan perempuan untuk menjadi pengusaha. Walau sempat terlibat sengketa kursi pimpinan IWAPI, Nita terpilih sebagai Ketua Umum DPP IWAPI periode 2010-2016 melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (munaslub) yang diselenggarakan di Jakarta. "Sampai sekarang Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) masih menjadi organisasi terdepan yang mewadahi pengusaha wanita dan mendorong kesuksesan kaumnya sebagai roda penggerak perekonomian. Karena itu, dengan semangat kebersamaan saya siap memajukannya,'' ujar Nita. Istri Prof. Dr. Ir. Yudi Yulius MBA ini yakin, jika kiprah wanita semakin besar dalam segala aspek kehidupan berbangsa, maka kesejahteraan rakyat semakin meningkat, lapangan kerja bertambah banyak, bahkan kasus korupsi akan bisa ditekan. Selain menjabat Wakil Ketua Umum Bidang Pendidikan Ketenagakerjaan dan Sosial KADIN DKI, Master Marketing Management tamatan Oklahoma City University, Amerika Serikat ini juga berperan aktif dalam organisasi sosial WITT (Wanita Indonesia Tanpa Tembakau). Nita bercita-cita ingin membebaskan Indonesia dari asap rokok. Atas keberhasilan dan pencapaian itulah, tim INDONEWS memilih Dyah Anita Prihapsari sebagai salah satu penerima penghargaan "Kartini Masa Kini 2017". Penghargaan yang digelar media online INDONEWS.ID ini dilaksanakan pada 26 April 2017, di Balai Sarwono, Jeruk Purut, Kemang, Jakarta Selatan. Meski kesehariannya selalu diisi dengan banyak kesibukan, Nita tetap menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu bagi putrinya. Setiap akhir pekan, Nita dan keluarga selalu meluangkan waktu kosong sekadar bercengkrama atau berwisata kuliner. Dalam hal mendidik anak, Nita ibarat busur, yang membiarkan “anak panah” melesat ke depan mencari sasarannya sendiri. Yang penting harus berguna untuk orang banyak. (Very/Tokohindonesia.com)  
TAGS :

Artikel Terkait